Bismillah.

Diantara nasihat-nasihat terbaik yang dinukil dari para ulama salaf adalah perkataan Hasan al-Bashri rahimahullah, “Obatilah hatimu. Sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah kepada para hamba adalah baiknya hati mereka.”

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengatakan, “Qolbu/hati itu ibarat raja dan anggota badan merupakan bala-tentaranya. Apabila sang raja baik niscaya tentaranya juga ikut menjadi baik. Dan apabila rusak/bejat rajanya maka tentaranya pun ikut menjadi rusak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus/istiqomah hatinya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah)

Di dalam al-Qur’an Allah pun telah menegaskan (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tiada berguna harta dan anak-anak kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’araa’ : 88-89)

Bersihnya hati dan ketakwaan jiwa merupakan harta paling berharga pada diri seorang hamba. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berdoa kepada Allah ‘Allahumma aati nafsii taqwaahaa dst’ yang artinya, “Ya Allah berikanlah ke dalam jiwaku ketakwaannya, sucikanlah ia karena Engkau adalah yang terbaik dalam menyucikannya. Engkau adalah penguasa dan pelindungnya.” (HR. Muslim)

Demikian pula diantara doa yang dicontohkan di dalam al-Qur;an adalah ‘Robbanaa laa tuzigh quluubanaa dst’ yang artinya, “Wahai Robb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau berikan hidayah kepada kami…” (Ali ‘Imran : 8)

Diantara sifat orang beriman sejati adalah tidak merasa aman dari makar Allah kepadanya. Allah berfirman (yang artinya), “Apakah mereka itu merasa aman dari makar Allah? Tidaklah merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raaf : 99)

Diantara ciri orang yang imannya lurus adalah bertawakal kepada Allah semata. Allah berfirman (yang artinya), “Dan kepada Allah semata hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (al-Ma-idah : 23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menjelaskan bahwa iman itu bercabang-cabang, cabang yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, bahkan rasa malu pun termasuk salah satu cabang keimanan. Rasa malu itu terletak di dalam hati.

Kalimat syahadat pun tidak akan berguna jika sekedar ucapan lisan tanpa keyakinan dan kejujuran dari dalam hati. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah ikhlas dari dalam hatinya maka dia akan dilindungi dari kekalnya azab neraka.

Karena itulah wajar jika para salaf menekankan agar kita selalu memperhatikan perbaikan hati. Karena ia menjadi asa ketakwaan dan poros amal ibadah. Di dalam kitab hadits ataupun akhlak sering kita jumpai bahwa para ulama mengawali kitabnya dengan hati tentang niat dan keikhlasan.

Demikian pula jika kita cermati Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam bagian bab-babnya di pertengahan beliau pun menyebutkan berbagai bentuk amalan hati yang itu termasuk bagian iman yang sangat penting seperti tawakal, sabar, takut, cinta, dsb. Sebab tidak dipungkiri bahwa diantara bentuk syirik yang muncul dan merusak amal adalah syirik yang berkenaan dengan amalan-amalan hati.

Demikian sedikit tulisan yang kami kembangkan dari apa yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam kitabnya Ahadits Ishlahul Quluub. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *