Bismillah.
Para ulama telah menjelaskan makna dan cakupan ibadah. Diantara pengertian yang paling bagus tentang ibadah adalah; segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ada ibadah berupa amalan hati. Ada ibadah berupa ucapan lisan, dan ada pula ibadah dengan perbuatan badan.
Para ulama juga menjelaskan bahwa ibadah kepada Allah dibangun di atas perendahan diri dan kecintaan. Ibadah kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Ibadah kepada Allah harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul. Ibadah kepada Allah harus dilandasi dengan tauhid. Apabila syirik mencampuri ibadah maka ia menjadi rusak dan batal bahkan pelakunya terancam kekal di dalam neraka.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Sungguh jika kamu berbuat syirik pasti lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)
Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (al-Ma’idah : 72)
Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (al-Kahfi : 110)
Amal yang diterima di sisi Allah adalah amalan orang yang bertakwa. Sementara takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah dengan cahaya dari Allah (ilmu dan iman) seraya mengharapkan pahala dari Allah, atau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut terhadap hukuman Allah. Sehingga amal harus dibangun dengan ilmu, sebab beramal tanpa ilmu akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan.
Ilmu yang paling utama adalah mengenal Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar. Inilah kandungan dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Oleh sebab itu dakwah tauhid menjadi prioritas utama dakwah para rasul. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.” (an-Nahl : 36)
Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku/Allah, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiya’ : 25)
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya.” (al-Isra’ : 23)
Tauhid merupakan bentuk keadilan tertinggi di alam semesta. Karena hakikat keadilan adalah memberikan hak kepada siapa yang berhak menerimanya. Adapun ibadah merupakan hak Allah semata, tidak ada yang berhak diibadahi selain-Nya. Maka menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kezaliman, bahkan ia merupakan kezaliman yang paling besar. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan bersih dari syirik merupakan sebab utama untuk meraih kebahagiaan. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberikan petunjuk.” (al-An’am : 82)
Ibadah kepada Allah mencakup rasa cinta, takut dan harapan. Dengan kecintaan akan tumbuhlah ketaatan. Dengan rasa takut akan menjauhkan hamba dari kemaksiatan. Dan dengan harapan akan menyelamatkan manusia dari keputusasaan. Cinta kepada Allah merupakan pokok seluruh amalan. Sebagaimana takut kepada Allah merupakan pokok segala ilmu agama. Harapan kepada Allah menjadi landasan tawakal dan keikhlasan.
Tidak ada batas akhir untuk ibadah kecuali jika maut telah menjemput. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang keyakinan; yaitu kematian.” (al-Hijr : 88). Oleh sebab itu kita diperintahkan untuk banyak-banyak mengingat kematian, karena kematian itulah yang memutuskan segala kelezatan dunia. Padahal ibadah kepada Allah adalah kebutuhan pokok umat manusia. Jika kematian telah datang maka kesempatan beramal sudah tertutup, pintu taubat pun tertutup.
Salah seorang ulama terdahulu mengatakan, “Telah keluar para pemuja dunia dalam keadaan belum menikmati sesuatu yang paling lezat/baik di sana.” Orang-orang pun bertanya kepadanya apa itu yang terbaik atau paling lezat di dunia, maka beliau menjawab, “Mengenal Allah dan mencintai-Nya serta merasa tenang dengan dzikir kepada-Nya.” Kelezatan iman hanya akan dirasaka oleh orang yang mentauhidkan Allah, berpegang-teguh dengan Islam dan patuh kepada ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pasti merasakan manisnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb/sesembahan, ridha Islam sebagai agama, dan ridha Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim). Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu hanya dengan berangan-angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan.”
Para ulama menjelaskan bahwa iman mencakup ucapan dan perbuatan; ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Iman terdiri dari banyak cabang. Cabang iman yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, rasa malu merupakan bagian dari iman, dan cabang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Orang mukmin memadukan dalam dirinya antara perasaan takut dan berbuat ihsan/kebaikan. Adapun orang fajir atau kafir menggabungkan antara berbuat buruk/maksiat dan merasa aman/tidak bersalah.
Salah seorang sahabat Nabi mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti dia sedang duduk di bawah sebuah gunung; dia takut gunung itu akan jatuh/runtuh menimpanya.” Berbeda dengan orang kafir yang meremehkan dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya lalu dia usir cukup dengan gerakan tangannya. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan 30 orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sementara mereka semuanya merasa takut dirinya terjangkiti kemunafikan.”
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar