Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan yang sangat berharga ini kita diberi kemudahan untuk melanjutkan kembali seri pembahasan tafsir ayat-ayat tauhid dari Kitab Tauhid yang ditulis oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah.
Masih pada bab tafsir tauhid, penulis membawakan firman Allah :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa-apa yang kalian sembah kecuali dari Allah Yang menciptakan diriku, karena sesungguhnya Dia pasti akan memberikan petunjuk kepadaku. Dan Ibrahim pun menjadikan kalimat itu sebagai kalimat yang tetap/lestari pada keturunannya mudah-mudahan mereka mau kembali.” (az-Zukhruf : 26-28)
Dari ayat yang mulia ini dapat diambil pelajaran mengenai hakikat tauhid yaitu beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik. Termasuk di dalamnya adalah berlepas diri dan membenci kesyirikan dan pelakunya. Maka wajib untuk mengesakan Allah dalam hal ibadah dan menolak peribadatan kepada selain-Nya. Ayat ini juga menunjukkan disyariatkannya menampakkan sikap berlepas diri dari agama orang-orang musyrik (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam al-Mulakhash fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 63)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata :
فمن قال: “لا إله إلاّ الله” فقد أعلن البراءة من عبادة كل ما سوى الله، والتزم القيام بعبادة الله
“Maka barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah sesungguhnya dia telah mengumumkan sikap berlepas diri dari peribadatan kepada segala bentuk sesembahan selain Allah dan dia berkomitmen untuk menegakkan ibadah/penghambaan kepada Allah.” (lihat kitab Bayanu Haqiqati Tauhid [klik])
Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa mereka yaitu umatnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam beribadah kepada berhala dan juga beribadah kepada Allah. Mereka mengatakan, “Allah adalah Rabb kami.” Meskipun demikian mereka juga menyembah kepada berhala-berhala. Demikian tafsiran dari Qatadah (lihat Tafsir al-Qurthubi [klik])
Dari sini kita mengetahui bahwa makna laa ilaha illallah adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Bahwa peribadatan kepada selain Allah adalah batil. Adapun mengakui Allah sebagai Rabb penguasa pencipta dan pengatur alam semesta atau yang dikenal dengan tauhid rububiyah maka itu saja tidak cukup. Yang benar adalah bahwa kalimat tauhid laa ilaha illallah mengandung tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah. Oleh sebab itu orang-orang musyrik di masa itu menolak kalimat ini; karena mereka memahami maksudnya…
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]
0 Komentar