Seri Faidah Kitab Tauhid [9]
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Bismillah.
Sebagaimana sudah dipaparkan dalam beberapa seri tulisan sebelumnya, bahwa di awal Kitab Tauhid ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan ayat-ayat yang menunjukkan makna tauhid dan kedudukannya di dalam Islam.
Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits dalam al-Arba’in an-Nawawiyah -hadits ke-3- dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, beliau berkata : Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara; syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat Iyyaka na’budu bermakna ‘kami tidak menyembah kepada siapa pun selain Engkau’ sehingga ibadah itu semuanya hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata, demikian pula isti’anah/memohon pertolongan hanya kepada Allah jua (lihat Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hal. 41)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, kekasih Ar-Rahman, da’i yang mengajak kepada jalan Allah dan lentera pencerah bagi umat manusia, beliau yang telah mendakwahkan tauhid dengan penuh pengorbanan dan perjuangan.
Ada yang berkata kepada al-Hasan, “Sebagian orang mengatakan: Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia pasti masuk surga.”? Maka al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk surga.” (lihat Kitab at-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah, hal. 40)