Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
Penerjemah : Ustadz Didik Suyadi hafizhahullah
Syaikh ditanya (semoga Alloh membalas kebaikan kepadanya) tentang hikmah penciptaan jin dan manusia ?
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
Penerjemah : Ustadz Didik Suyadi hafizhahullah
Syaikh ditanya (semoga Alloh membalas kebaikan kepadanya) tentang hikmah penciptaan jin dan manusia ?
Bismillah.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, alhamdulillah pada kesempatan ini kami bisa menyajikan kembali sebuah video rekaman kajian yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Shalih bin Humaid hafizhahullah.
Tujuan Hidup
Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)
Menghamba kepada Allah adalah hikmah penciptaan kita. Mengikuti kehendak dan ajaran-ajaran Allah serta tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Merendahkan diri dan mengagungkan Allah dengan penuh kecintaan, takut, dan harapan. Menggantungkan hati kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Sebab Allah semata yang menguasai seluruh alam semesta.
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata :
Tidaklah diragukan bahwasanya Allah subhanahu telah menurunkan al-Qur’an sebagai penjelas atas segala sesuatu. Dan bahwasanya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menjelaskan al-Qur’an ini dengan penjelasan yang sangat memuaskan.
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Doa ada dua macam; doa ibadah dan doa permintaan. Doa ibadah adalah sanjungan kepada Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, dan nikmat-nikmat yang telah dicurahkan oleh-Nya. Adapun doa permintaan (doa mas’alah) adalah memohon berbagai macam kebutuhan kepada Allah.
Tauhid uluhiyah -disebut juga tauhid dalam hal keinginan dan tuntutan- adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah. Memurnikan ibadah-ibadah itu untuk Allah semata secara lahir dan batin (lihat It-hafu Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 53)
Sesungguhnya hakikat seorang hamba itu terletak pada hati dan ruhnya. Sementara hati dan ruh itu tidak akan baik kecuali dengan menghamba kepada Tuhannya yaitu Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya. Maka dia tidak akan merasakan ketenangan di dunia ini kecuali dengan berdzikir kepada-Nya. Jiwanya akan terus berusaha menggapai keridhoan-Nya dan ia pasti akan bertemu dengan-Nya. Perjumpaan dengan-Nya itu pasti. Dan tidak ada kebaikan baginya kecuali dengan bertemu dengan-Nya.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Suatu hal yang kita yakini bersama, bahwa Allah menciptakan kita bukan karena kebutuhan Allah kepada makhluk-Nya. Allah Maha Cukup, sehingga sedikit pun Allah tidak membutuhkan sesuatu apapun dari alam semesta.