Syaikh Shalih al-Fauzan – Cinta Allah dan Rasul
Bismillah.
Alhamdulillah berikut ini kami sajikan sebuah video rekaman dan transkrip fatwa dari Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkaitan dengan pertanyaan :
Bismillah.
Alhamdulillah berikut ini kami sajikan sebuah video rekaman dan transkrip fatwa dari Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkaitan dengan pertanyaan :
Mengenal Pilar-Pilar Ibadah Hati
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri Mengenal Tauhid dengan mengkaji kandngan pelajaran dan faidah dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah. Masih melanjutkan pembicaraan kita tentang makna ibadah kepada Allah. Dimana hal itu merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia.
Bismillah.
Pada bagian sebelumnya telah kita bawakan ayat yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah di bagian awal Kitab Tauhidnya, yaitu ayat dalam surat adz-Dzariyat ayat 56 (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Dimana ayat yang mulia ini berisi penjelasan tujuan penciptaan jin dan manusia; bahwa kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya.
Cinta adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis untuk dikupas dan dibahas. Karena setiap orang memiliki pengertian masing-masing dalam menerjemahkan apa itu cinta. Namun pembahasan kali ini akan membahas cinta makhluk kepada Sang Khaaliq. Yang dalam pengertian Islam dikenal dengan Mahabbah. Mencintai Allah termasuk ibadah. Mahabbah (kecintaan) kepada Allah adalah tujuan akhir dan derajat tertinggi.
Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.
Aqidah Islam sangat memperhatikan perihal amalan hati. Hati merupakan asas bagi perbuatan. Baiknya hati membuahkan baiknya ucapan dan amal anggota badan. Oleh sebab itu termasuk kesalahan dalam beragama adalah ketika perhatian kepada amal lahiriah tidak disertai perhatian kepada amal batin. Sampai-sampai dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa hakikat takwa itu adalah ketakwaan hati, bukan sekedar ketakwaan anggota badan.
Materi :
– Isti’anah dan Tawakal kepada Allah
– Pengertian dan Keutamaan Tawakal
– Larangan Bertawakal kepada Makhluk
Isti’anah kepada Allah
Isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) adalah bagian dari ibadah. Meskipun demikian di dalam al-Fatihah ia disebutkan secara khusus setelah ibadah. Allah berfirman (yang artinya), “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan/beristi’anah.” Hal ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan hamba untuk memohon pertolongan Allah dalam menjalankan semua ibadah. Karena sesungguhnya apabila Allah tidak menolongnya niscaya dia tidak akan bisa meraih apa yang dia kehendaki; apakah dalam hal melaksanakan perintah atau pun menjauhi larangan (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)
Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, ibadah menduduki posisi yang sangat agung di dalam agama. Karena ibadah kepada Allah merupakan hikmah dan tujuan penciptaan. Orang-orang yang mulia di sisi Allah adalah yang beribadah kepada-Nya dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Di sinilah kita perlu memahami dengan baik makna ibadah.
Silakan unduh & simak rekaman kajian islam ilmiah dengan tema :
“Meraih Keikhlasan Ilahi”.
Disampaikan oleh Ustadz Firanda Andirja, MA.
di Masjid Ash-Shaff, Bintaro, Tangerang Selatan.
Penulis -Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah– memulai risalahnya dengan basmalah. Hal ini dalam rangka mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memulai surat dan perjanjian yang beliau tulis dengan basmalah. Hal ini adalah sunnah dan telah menjadi kebiasaan para ulama dalam menulis risalah dan kitab mereka.
Bagian 2.
Hakikat dan Pilar-Pilar Ibadah
Makna Ibadah
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ibadah adalah kecintaan dan tundukan secara total, disertai kesempurnaan rasa takut dan perendahan diri.” (lihat Tafsir al-Fatihah, hal. 49 tahqiq Dr. Fahd ar-Rumi)