Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita dipertemukan kembali untuk melanjutkan seri pembahasan tafsir ayat-ayat tauhid yang dibawakan di dalam Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah.
Kita masih membahas bab tafsir tauhid dan syahadat laa ilaha illallah.
Penulis rahimahullah membawakan firman Allah :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّهِ
“Dan sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan sesembahan; mereka mencintainya sebagaimana kecintaan kepada Allah, sedangkan orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah…” (al-Baqarah : 165)
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menafsirkan :
وأن الذين اتخذوا هذه ” الأنداد ” من دُون الله، يحبون أندادهم كحب المؤمنين الله. ثم أخبرَهم أن المؤمنين أشد حبًا لله، من متخذي هذه الأنداد لأندادهم
“Bahwa orang-orang yang menjadikan sesembahan tandingan selain Allah mencintai sesembahan-sesembahannya itu seperti kecintaan orang beriman kepada Allah, kemudian Allah mengabarkan kepada mereka bahwa orang beriman itu jauh lebih dalam kecintaannya kepada Allah daripada kecintaan para pemuja tandingan itu kepada tandingan-tandingan tersebut.” (lihat Tafsir ath-Thabari [klik])
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :
وقوله : ( والذين آمنوا أشد حبا لله ) ولحبهم لله وتمام معرفتهم به ، وتوقيرهم وتوحيدهم له ، لا يشركون به شيئا
Firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman itu lebih dalam cintanya kepada Allah” disebabkan kecintaan mereka murni kepada Allah dan kesempurnaan pengenalan mereka kepada-Nya, karena pemuliaan dan tauhid mereka kepada-Nya; yang mereka sama sekali tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun….” (lihat Tafsir Ibnu Katsir [klik])
az-Zajaj rahimahullah mengatakan :
“يحبون الأصنام كما يحبون الله لأنهم أشركوها مع الله فسووا بين الله وبين أوثانهم في المحبة”
“Artinya; mereka itu (orang-orang musyrik) mencintai berhala-berhala sebagaimana mencintai Allah; karena mereka mempersekutukan berhala-berhala itu dengan Allah; maka mereka menyamakan antara Allah dengan berhala-berhala mereka dalam hal kecintaan.” (lihat dalam Tafsir al-Baghawi [klik])
Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan :
المؤمنون أشد حبا لله من حب هؤلاء لأندادهم؛ لأنهم أخلصوا لله العبادة، وعرفوا حقه عز وجل، وصاروا يحبونه محبة عظيمة فوق محبة هؤلاء الضالين لأندادهم، ولهذا أخلصوا له العبادة
“Orang-orang beriman itu lebih dalam cintanya kepada Allah daripada kecintaan orang-orang musyrik kepada tandingan-tandingan sesembahan mereka; karena mereka/kaum mukmin memurnikan ibadahnya kepada Allah, mereka mengenali hak Allah sehingga mereka pun mencintai-Nya dengan kecintaan yang agung di atas kecintaan orang-orang musyrik yang tersesat itu terhadap sesembahan tandingan mereka, karena itulah mereka/orang mukmin memurnikan ibadahnya kepada Allah…” (lihat Syarh Kitab at-Tauhid [klik])
Ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa ibadah kepada Allah dibangun di atas kecintaan. Kecintaan yang disertai dengan pengagungan dan perendahan diri kepada-Nya. Oleh sebab itu kecintaan semacam ini tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Barangsiapa yang memalingkan jenis cinta ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik.
Dan hal ini sekaligus menunjukkan kepada kita bahwa ketaatan adalah bagian ibadah yang sangat mendasar. Sehingga orang yang menaati pendeta atau rahib dalam menghalalkan yang haram atau sebaliknya; mengharamkan yang halal maka dia telah menjadikan mereka sebagai sesembahan tandingan bagi Allah.
Dari sinilah kita bisa memahami bahwa tauhid kepada Allah mengandung kecintaan dan kepatuhan kepada-Nya. Sehingga tidaklah dikatakan bertauhid kepada-Nya orang yang tidak mencintai Allah dengan puncak kecintaan, sebagaimana tidak dikatakan bertauhid kepada Allah orang yang tidak mau patuh kepada-Nya.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]
0 Komentar