Bismillah.
Surat al-Fatihah merupakan surat paling agung di dalam al-Qur’an. Di dalamnya tersimpan banyak perbendaharaan ilmu dan hikmah. Ilmu yang akan memandu perjalanan hidup seorang hamba di alam dunia yang fana. Hikmah yang akan menuntun kaum beriman dalam meniti langkah-langkah ketakwaan.
Diantara keagungan yang ada di dalam surat al-Fatihah adalah pujian dan sanjungan kepada Allah yang dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan. Karena kalimat ‘alhamdulillah’ adalah kalimat setiap hamba yang bersyukur kepada-Nya. Sebuah pujian yang berangkat dari kecintaan kepada Allah Yang memberikan segala nikmat dan karunia.
Allah terpuji karena kesempurnaan Dzat, nama, sifat, perbuatan, dan hukum-Nya. Allah terpuji atas segala nikmat yang telah dicurahkan kepada umat manusia dan segenap makhluk-Nya. Allah mentarbiyah hamba-Nya dengan berbagai bentuk nikmat dan petunjuk. Allah pun mengutus para nabi dan rasul untuk menyeru manusia kembali ke jalan iman; keluar dari gelapnya syirik menuju cahaya tauhid.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36). Sebagaimana di dalam al-Fatihah pun terkandung penegasan butuhnya hamba kepada tauhid dan wajibnya dirinya untuk menjauhi syirik. Hal itu tersimpan dalam pernyataan hamba ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin’ yang bermakna “Hanya kepada-Mu Ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
Ibadah kepada Allah merupakan hikmah diciptakannya jin dan manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Ibadah kepada Allah itu sangat luas; ia mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah; berupa ucapan dan perbuatan; yang batin/tersembunyi di dalam hati maupun yang lahir/tampak secara fisik. Ibadah kepada Allah itu menggabungkan antara puncak kecintaan dengan puncak perendahan diri.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas segenap hamba adalah mereka wajib beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik; inilah tauhid yang menjadi poros ajaran Islam. Inilah keadilan tertinggi, menunaikan hak Rabb alam semesta; hak Allah yang wajib ditunaikan oleh segenap hamba-Nya.
Tauhid inilah perintah Allah yang paling agung. Sebab diterimanya segala amal kebaikan, yang tanpa tauhid maka kebaikan tidak akan diterima dan bahkan sirna membawa petaka. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti lenyap seluruh amalmu dan benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)
Tauhid tidak sekedar mengerjakan perintah Allah, tetapi juga mencakup menjauhi larangan-Nya. Orang yang bertauhid wajib memurnikan ibadahnya kepada Allah, tunduk dan patuh kepada aturan Allah, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif/bertauhid, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang hanif adalah yang menghadapkan dirinya/mengabdi kepada Allah semata dan berpaling/meninggalkan segala sesembahan selain-Nya. Teladan orang yang hanif diantaranya adalah imamnya ahli tauhid dan bapaknya para nabi, Ibrahim ‘alaihis salam. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat/imam panutan, senantiasa patuh kepada Allah, hanif/bertauhid, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” (an-Nahl : 120)
Di dalam al-Fatihah kita telah dibimbing untuk memurnikan ibadah kepada Allah/bertauhid, dan juga berlepas diri dari syirik. Karena kita telah menyatakan bahwa ‘hanya kepada-Mu Ya Allah kami beribadah’ artinya kita tidak menujukan ibadah sekecil apapun kepada selain Allah. Allah tidak ridha dipersekutukan dengan-Nya siapa pun juga dalam hal ibadah kepada-Nya; apakah itu dengan malaikat yang dekat ataupun nabi yang diutus. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/beribadah bersama dengan Allah siapa pun juga.” (al-Jin : 18)
Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman (yang artinya), “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu; maka barangsiapa yang melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan Aku dengan selain-Ku niscaya Aku tinggalkan dia bersama syiriknya itu.” (HR. Muslim). Dengan demikian syirik adalah perusak amal kebaikan dan penghalang ibadah kepada Allah. Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjauhi syirik dalam ucapan, perbuatan, keyakinan, yang tampak maupun yang tersembunyi.
Surat al-Fatihah juga mengandung pelajaran bahwa setiap kita memerlukan bimbingan, pertolongan dan petunjuk dari Allah dalam setiap gerak langkah dan hembusan nafas. Karena kita memohon hidayah kepada Allah; ihdinash shirathal mustaqim; Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus. Tentu ini bukan basa-basi atau omong kosong. Sebab kebutuhan kita kepada hidayah jauh melebihi kebutuhan kita kepada apa pun. Hidayah itulah kunci keselamatan dan jalan menuju kebahagiaan insan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)
Oleh sebab itu seorang muslim tertuntut untuk menimba ilmu agama dan mengangkat kejahilan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal ilmu agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ilmu agama ini diperoleh dengan belajar secara bertahap. Sementara kita tidak akan bisa meraih ilmu yang bermanfaat kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah.
Di dalam al-Fatihah kita juga mendapatkan pelajaran bahwa jalan yang lurus adalah jalan kaum beriman; orang-orang yang mentauhidkan Allah dalam kehidupan. Orang-orang yang mengenal hak Allah dan tunduk kepada agama-Nya. Orang-orang yang diberikan nikmat iman itu mencakup para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan solihin/orang-orang yang salih lahir dan batin. Mereka yang memadukan antara ilmu dan amal.
Adapun kelompok yang dimurkai Allah ‘almaghdhubi ‘alaihim’ adalah orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya; berilmu tanpa amalan, seperti kaum Yahudi dan kawan-kawannya. Sementara kelompok yang tersesat ‘adh-dhaalliin’ adalah mereka yang beramal tanpa ilmu seperti kaum Nashara dan pengikutnya dari kalangan umat ini. Mereka yang tenggelam dalam bid’ah dan mematikan sunnah.
Pada hari kiamat nanti maka tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat dari penyimpangan dan kesesatan. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu tidaklah berguna harta dan anak-anak kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’araa’ : 88-89). Sebagian ulama salaf menafsirkan bahwa hati yang selamat itu adalah yang bersih dari bi’dah dan merasa tentram di atas Sunnah. Karena itulah Imam Malik rahimahullah berkata, “Sunnah/ajaran Nabi ini adalah ibarat perahu Nabi Nuh; barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang tertinggal darinya pasti tenggelam.”
Surat al-Fatihah juga mengandung pilar ibadah kepada Allah berupa kecintaan, harapan dan rasa takut kepada Allah. Yang biasa dikenal dengan istilah ‘mahabbah/cinta’, roja’/harapan dan khouf/takut. Ketiga amalan hati ini merupakan penggerak ibadah dan motor ketaatan. Allah lah yang telah menciptakan kita, memberikan nikmat hidup kepada kita, dan membierikan petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Allah yang mentarbiyah segenap alam semesta ini dengan nikmat-nikmat-Nya. Sehingga setiap hamba akan tunduk mencintai Rabbnya; karena jiwa-jiwa manusia tercipta dalam keadaan mencintai Dzat yang telah berbuat baik kepadanya.
Kecintaan itulah yang akan menumbuhkan ketaatan, sementara rasa takut akan mengendalikan dirinya dari hanyut dalam berbagai perkara yang diharamkan, adapun harapan akan menjaga semangatnya untuk terus maju dalam kebaikan dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah adalah ar-Rahman ar-Rahim; yang memiliki sifat kasih sayang yang sangat luas. Allah jauh lebih penyayang kepada hamba melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Di dalam al-Fatihah juga terkandung pilar keimanan; yaitu beriman kepada hari pembalasan; hari akhirat dimana manusia akan menuju surga atau neraka. Negeri keabadian yang memisahkan manusia ke dalam golongan orang yang celaka dan ada pula orang yang berbahagia. Orang celaka menetap di neraka, sedangkan orang yang berbahagia bersenang-senang di surga selama-lamanya.
Demikian sedikit cuplikan faidah dan hikmah dari surat al-Fatihah sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama. Semoga menjadi bahan perenungan dan tadabbur bagi kita dalam menjalani ibadah setiap harinya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
1 Komentar
Arihusodo · Juli 26, 2025 pada 3:32 AM
Masyaallah sangatlah mengindikasikan dan jadi motivasi diri