Bismillah.

Diantara perkara yang sangat menarik dan sangat bermanfaat adalah bahwa al-Qur’an dari awal hingga akhir banyak sekali memberikan perhatian terhadap masalah tauhid. Bagaimana tidak? Sementara tauhid inilah materi utama dakwah para nabi dan rasul.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (al-Anbiya’ : 25)

Surat al-Fatihah yang ditempatkan di bagian terdepan dalam mushaf al-Qur’an pun banyak menyinggung perkara tauhid. Kalimat pujian kepada Allah ‘alhamdulillah’ adalah sebuah ungkapan sanjungan kepada Allah sebagai Rabb penguasa dan pengatur alam semesta. Keyakinan ini -bahwa Allah satu-satunya pencipta dan pengatur alam- disebut sebagai tauhid rububiyah.

Begitu pula kalimat ar-rahmanir rahiim yang bermakna ‘Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang’ merupakan penjelasan tentang betapa luas kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Hal ini merupakan suatu bentuk keimanan kepada nama dan sifat Allah; yang biasa dikenal dengan istilah tauhid asma’ wa shifat. Bahwa Allah pemilik segala sifat kesempurnaan dan nama-nama yang maha indah.

Tidak berhenti di sana, bahwa al-Fatihah pun mengandung penetapan tauhid ibadah; bahwa tidak ada yang boleh disembah kecuali Allah. Ia tercakup dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ yang bermakna ‘hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah. Ini disebut juga dengan istilah tauhid uluhiyah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah; bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah.

Di dalam al-Fatihah juga terdapat penetapan hari kiamat dan pembalasan atas amal para hamba. Yaitu terkandung dalam kalimat ‘maaliki yaumid diin’ yang berarti; Yang Menguasai hari pembalasan. Orang yang bertauhid adalah yang berbahagia di akhirat, sedangkan orang kafir dan musyrik hidup celaka dan sengsara selamanya di akhirat.

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-Fatihah adalah Ummul Qur’an/induknya al-Qur’an; dikarenakan seluruh maksud ajaran al-Qur’an terkandung di dalamnya. Ia telah mencakup tiga macam tauhid. Ia juga mencakup penetapan risalah, hari akhir, jalan para rasul dan jalan orang-orang yang menyelisihi mereka. Segala perkara yang terkait dengan pokok-pokok syari’at telah terkandung di dalam surat ini. Oleh karena itu ia disebut dengan Ummul Qur’an.” (lihat Syarh al-Mumti’ [2/82])

Isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) adalah bagian dari ibadah. Meskipun demikian di dalam al-Fatihah ia disebutkan secara khusus setelah ibadah. Allah berfirman (yang artinya), “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan/beristi’anah.” Hal ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan hamba untuk memohon pertolongan Allah dalam menjalankan semua ibadah. Karena sesungguhnya apabila Allah tidak menolongnya niscaya dia tidak akan bisa meraih apa yang dia kehendaki; apakah dalam hal melaksanakan perintah atau menjauhi larangan (lihat keterangan Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)

Allah berfirman :

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada sesuatu/jalan yang paling lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang melakukan amal-amal salih; bahwasanya bagi mereka itu pahala yang sangat besar.” (al-Israa’ : 9)

Dari Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang lelaki untuk memimpin serombongan pasukan. Kebiasaan lelaki itu pada saat membaca -surat- dalam sholat ketika mengimami teman-temannya adalah selalu mengakhiri bacaannya dengan Qul huwallahu ahad. Ketika mereka telah kembali, hal itu pun diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Tanyakanlah kepadanya. Mengapa dia melakukan hal itu?”. Lantas mereka bertanya kepadanya. Lelaki itu menjawab, “Karena ia adalah sifat ar-Rahman (Allah), oleh sebab itu aku sangat cinta membacanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Sampaikanlah kabar kepadanya, bahwa Allah pun mencintai dirinya.” (HR. Bukhari dalam Kitab at-Tauhid [7375] dan Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [813])

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa ada seseorang lelaki yang mendengar orang lain sedang membaca Qul huwallahu ahad secara berulang-ulang. Maka keesokan harinya dia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu kepada beliau. Seolah-olah lelaki itu agak meremehkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga isi al-Qur’an.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5013])

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sabda beliau ‘sepertiga al-Qur’an’ ditafsirkan oleh sebagian ulama secara apa adanya: artinya dari sisi makna surat ini senilai dengan sepertiga makna ajaran al-Qur’an. Karena isi ajaran al-Qur’an itu adalah hukum, berita, dan tauhid. Surat ini telah mencakup bagian yang ketiga (yaitu tauhid, pen). Dengan begitu bisa dikatakan bahwa ia senilai dengan sepertiga -makna ajaran al-Qur’an- dengan tinjauan ini.” (lihat Fath al-Bari [9/70])

Di dalam surat al-Hijr, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami lah yang telah menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan Kami pula yang menjaganya.” (al-Hijr : 9)

Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan, bahwa maksud ayat ini adalah Allah senantiasa menjaga al-Qur’an ini dari gangguan setan baik dalam bentuk penambahan maupun pengurangan ataupun penggantian. Allah berfirman (yang artinya), “Tidak datang kepadanya kebatilan dari arah depan dan dari arah belakang.” (Fushshilat : 42) (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 694)

Imam Ibnu Katsir rahimahulah menerangkan, bahwa maksud ayat ini adalah Allah menjaga al-Qur’an dari perubahan dan penggantian (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 4/527)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim at-Tanzil, hal. 1426)

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya niat dalam amal-amal ibadah, karena sesungguhnya ikhlas adalah termasuk amalan hati.” (lihat Fat-hul Qadir oleh Imam asy-Syaukani, hal. 1644)

Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya dia tujukan kepada selain Allah maka dia juga bukan orang yang bertauhid (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 76-77)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Ibadah kepada Allah tidak diterima apabila tercampuri syirik. Semua bentuk amal salih baik yang berupa ucapan, perbuatan, keyakinan, dan perilaku tidak bernilai apabila tidak disertai tauhid. Oleh sebab itu setiap nabi memerintahkan kepada umatnya untuk beribadah kepada Allah semata dan menjauhi syirik. Untuk bisa selamat ketika berjumpa dengan Allah pun setiap hamba butuh kepada tauhid. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

 


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *