Bismillah.
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah berkata :
فإذا قيل لك: من ربك؟ فقل: ربي الله، الذي ربَّاني وربَّى جميع العالمين بنعمه، وهو معبودي، ليس لي معبودٌ سواه
Apabila ditanyakan kepadamu “Siapa Rabbmu?” jawablah “Rabbku adalah Allah Yang telah mentarbiyahku dan mentarbiyah seluruh alam dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia lah sesembahanku, tidak ada bagiku sesembahan selain-Nya.” (lihat risalah Tsalatsah al-Ushul)
Di dalam kalimat tersebut, Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah menafsirkan ‘Rabb’ dengan makna pencipta dan sesembahan. Inilah kandungan istilah Rabb secara mutlak dimana di dalamnya pun tercakup makna uluhiyah (sesembahan), dan hal ini berdasarkan ijma’/kesepakatan ulama salaf. Demikian faidah dari keterangan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam syarahnya (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh Syaikh ar-Rajihi, hal. 34)
Syaikh Ubaid al-Jabiri rahimahullah menjelaskan, kata Rabb -secara bahasa- bermakna penguasa (maalik), tuan (sayyid), dan sesembahan (ma’bud). Ketiga makna ini tidak terkumpul kecuali pada diri Allah. Makhluk/manusia bisa saja disebut ‘rabb’ dengan makna penguasa/pemilik dan tuan tetapi tidak boleh makhluk menjadi sesembahan. Oleh sebab itu ketiga makna ini tidak menyatu kecuali pada diri Allah. Allah lah penguasa, pemimpin sekaligus sesembahan (lihat It-haful ‘Uqul bi Syarhi ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 49)
Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi hafizhahullah menjelaskan, bahwa maksud pertanyaan ‘Siapakah Rabbmu’ adalah ‘Siapa sesembahanmu’ sehingga maksudnya bukanlah menanyakan tentang siapa pencipta dan pemberi rezeki kepadamu. Karena hal ini telah diakui oleh orang-orang musyrik. Namun makna yang dimaksud ialah ‘Siapa sesembahan yang kamu ibadahi?’ maka jawablah bahwa ‘Rabbku adalah Allah.’ (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 33)
Di dalam al-Qur’an terkadang kata ‘rabb’ digunakan dengan makna ‘sesembahan’. Seperti misalnya dalam ayat (yang artinya), “Dan dia -rasul- tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan nabi-nabi sebagai ‘rabb’ (sesembahan)…” (Ali ‘Imran : 80). Demikian pula dalam ayat (yang artinya), “Mereka -ahli kitab- telah menjadikan pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai ‘rabb’ (sesembahan) selain Allah…” (at-Taubah : 31) (lihat keterangan Syaikh Abdullah bin Sa’ad Aba Husain dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 66)
Kata ‘rabb’ selain mengandung makna penguasa/pemilik juga mengandung makna tarbiyah/membina dan mendidik dan ishlah (memperbaiki). Adapun kata ‘alam’ mencakup jin dan manusia, sebagaimana tafsiran Ibnu ‘Abbas. Alam juga mengandung makna seluruh ciptaan Allah, sebagaimana tafsiran Qatadah, Mujahid, dan al-Hasan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 9)
Perkataan beliau ‘tidak ada bagiku sesembahan selain-Nya’ menunjukkan bahwa al-Khaliq (Yang Maha Mencipta) itulah yang berhak untuk disembah. Oleh sebab itulah Allah mencela kaum musyrikin karena mereka beribadah kepada selain Allah padahal semua sesembahan selain Allah itu tidak menguasai manfaat atau pun mudhorot. Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang beribadah kepada makhluk seperti dirinya, dan yang lebih sesat lagi adalah orang yang beribadah/berdoa kepada orang yang sudah mati di dalam kuburnya sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuja kubur (lihat al-Mahshul min Syarhi Tsalatsah al-Ushul, hal. 75 oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Ghunaiman)
Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa sekedar meyakini bahwa Allah adalah esa/tunggal, atau meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta dan penguasa alam semesta tidak cukup dalam aqidah Islam. Harus diyakini pula bahwa hanya Allah sesembahan yang benar, adapun sesembahan selain Allah adalah batil. Dan keyakinan ini pun harus diwujudkan dalam bentuk pemurnian ibadah untuk Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21)
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah; inilah makna dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- kecuali Aku (Allah); maka sembahlah Aku (saja).” (al-Anbiya’ : 25)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Tulisan ini adalah seri ke-16 dari Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah [klik]
0 Komentar