Obat Paham Terorisme

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, para sahabatnya, dan segenap pengikut mereka. Amma ba’du.

Aksi-aksi terorisme telah banyak meresahkan dunia internasional. Berbagai pengeboman, bunuh diri, perusakan, dan pembunuhan telah menjadi bukti besarnya bahaya terorisme. Tindakan menebar ketakutan dan ancaman keselamatan kepada manusia bukan bagian dari agama Islam. Islam mengenal kemuliaan jihad, tetapi Islam tidak mengenal kekejian terorisme.

Di dalam Islam, Jihad meliputi banyak hal, tidak selalu identik dengan pedang dan senjata. Ada memang jihad dengan senjata, namun itu ada kaidah dan aturannya, tidak bisa sembarangan dan asal serang. Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan aksi perusakan dan pengeboman ala terorisme adalah hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman ada tujuh puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa Islam menjunjung tinggi tauhid dan juga nilai-nilai kemanusiaan. Buktinya, salah satu cabang atau bagian iman itu adalah dengan menyingkirkan gangguan dari jalan. Bahkan, tindakan membunuh orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan pemerintah adalah sebuah kejahatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad/yang terikat perjanjian dengan kaum muslim, maka dia tidak akan mencium baunya surga.” (HR. Bukhari)

Kedua hadits di atas cukup menggambarkan kepada kita bahwa Islam berlepas diri dari praktek terorisme. Baiklah, marilah kita simak hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa kata ‘tetangga’ bersifat umum mencakup muslim dan kafir. Oleh sebab itu Islam tidak membenarkan perbuatan mengganggu tetangga, meskipun ia berbeda agama. Islam memerintahkan untuk memuliakan tetangga dan menganjurkan berbuat baik kepada mereka. Karena Islam adalah agama yang mengajak kepada keselamatan dan tauhid dengan cara-cara yang bijaksana. Islam tidak membenarkan perilaku terorisme.

Apabila kita lihat dalam sejarah, justru Islam lah yang banyak mendapatkan tekanan dan gangguan dari musuh-musuhnya. Sebagaimana yang dialami oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam periode Mekkah. Sehingga pada akhirnya kaum muslimin harus berhijrah ke Madinah untuk menyelamatkan jiwa dan agama mereka. Sejarah pun mencatat bahwa kaum muslimin diperangi dan diusir karena ajakan kalimat tauhid yang mereka serukan kepada umat manusia. Sejarah pun mencatat bahwa kaum muslimin menghadapi tekanan dan rintangan itu dengan tawakal kepada Allah dan kesabaran di dalam hati mereka.

Pada masa sekarang pun tidak jauh berbeda. Kita melihat fenomena penghinaan kepada Islam, kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kepada syari’at Islam di depan mata kaum muslimin, dalam keadaan kaum muslimin seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan mengatasnamakan HAM dan kebebasan berpendapat, manusia mengolok-olok Rasul dan para sahabatnya. Dan dengan mengatasnamakan pembelaan kepada kaum wanita, syari’at yang suci dilecehkan dan dijauhkan dari manusia. Tentu saja ini adalah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.

Apabila kita lihat lebih dalam, sesungguhnya kelemahan dan kemunduran ini adalah bersumber dari kesalahan kaum muslimin itu sendiri. Betapa banyak diantara umat Islam yang tidak mengenal dasar-dasar agamanya. Tidak mengenal tauhid, tidak paham syirik, dan tidak mengetahui ajaran-ajaran yang lurus. Sehingga mereka hidup di tengah kegelapan dan kebingungan. Gelap karena tidak mendapatkan cahaya iman, dan bingung karena tidak mendapat siraman hidayah. Hal ini disebabkan banyak diantara umat Islam yang telah berpaling dari ilmu agama.

Maka, tidaklah mengherankan jika kita dapati sebagian diantara umat Islam yang justru mendukung aksi-aksi terorisme. Menganggap bahwa tindak pengeboman adalah bagian dari jihad. Menganggap bahwa bom bunuh diri adalah sebuah ijtihad yang mendatangkan pahala.

Pada saat yang sama, kita juga melihat diantara kaum muslimin ada yang justru memusuhi ajaran Islam; menganggap bahwa jenggot adalah budaya arab, menganggap bahwa wanita tidak wajib berjilbab, menganggap bahwa cadar adalah pakaian ekstrim dan busana teroris, menganggap bahwa celana di atas mata kaki -tidak isbal- adalah keanehan yang harus dijauhi, dsb.

Lebih buruk lagi, kita dapati sebagian orang yang mengaku Islam menganggap bahwa hukum Allah itu tidak ada, Islam tidak mengenal konsep negara, Islam hanya mengatur urusan pribadi adapun urusan antar manusia maka itu bukan tempatnya Islam, dsb.

Ini semua adalah akibat dari ketidakpahaman tentang ajaran Islam itu sendiri. Sebagian orang terjebak dalam sikap berlebih-lebihan, sedangkan sebagian yang lain terjebak dalam sikap meremehkan. Padahal, Islam tidak sebagaimana yang mereka gambarkan. Islam adalah sebagaimana yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya.

Oleh sebab itu Imam Malik berkata, “Tidak akan memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang memperbaiki generasi awalnya.” Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Oleh sebab itu apabila kami mencari kemuliaan bukan dengan cara Islam, pasti Allah akan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Obat bagi paham terorisme itu tidak lain adalah dengan menimba ilmu dan mengamalkannya sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Bukan justru dengan berpaling dari majelis ilmu agama. Namun, kita juga harus mengingat bahwa dalam belajar agama harus berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengikuti pemahaman ulama salaf. Dan bukanlah ajaran ulama salaf mencela pemerintah dan mengobral aib mereka di hadapan publik.

134858_715374_ilustrasi_bom

Jadi, obat untuk menanggulangi terorisme adalah dengan mengadakan pengajian-pengajian sunnah, menjelaskan tauhid kepada umat, dan mencegah pemikiran-pemikiran sesat. Hanya dengan menyebarkan tauhid dengan benar maka umat akan selamat dari pemahaman teroris dan aliran-aliran sesat. Dan untuk melaksanakan hal ini dibutuhkan kerjasama dan dukungan dari segenap pihak, baik masyarakat maupun pemerintah.

Semoga Allah berikan taufik kepada para pemimpin negeri ini kepada kebaikan dan melindungi mereka dari makar jahat musuh-musuh Islam dan kaum muslimin.

Tinggalkan komentar