Bismillah.

Salah satu pelajaran paling berharga dari puasa Ramadhan yang kita jalani adalah butuhnya seorang hamba untuk menemukan jati dirinya. Urusan jati diri bukan berhenti pada data yang tertulis di biodata atau kartu tanda pengenal. Lebih daripada itu, jati diri mencerminkan harapan dan cita-cita yang ingin diraih oleh seorang anak Adam.

Perjalanan hidup umat manusia di atas muka bumi ini telah bergerak dan silih-berganti sekian ratus atau bahkan ribuan tahun sebelum manusia mengenal penanggalan masehi atau hijriyah. Kita merupakan anak keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam.

Puasa Ramadhan adalah kewajiban agung bagi kaum muslimin sebagaimana kewajiban puasa telah diberikan kepada umat-umat terdahulu. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan dan pengaruh puasa dalam membentuk kepribadian dan membantu manusia untuk kembali menemukan jati dirinya. Sebab dalam keadaan haus dan lapar seorang akan lebih bisa merenung tentang apa hakikat dari kehidupannya di alam dunia yang sementara ini.

Dari sini, kita bisa memahami mengapa di bulan Ramadhan umat Islam jauh lebih bersemangat melakukan amal kebaikan dan sedekah. Padahal mereka siang harinya harus menahan haus dan lapar bisa jadi sampai 13 jam lebih, kemudian di malam harinya ada tambahan sholat tarawih. Sebab Ramadhan memberikan hikmah yang dalam kepada nurani manusia. Bahwa apa yang dia tinggalkan karena Allah pasti akan membuahkan balasan dan keutamaan yang besar dan berlipat-ganda.

Sebagaimana masyhur dalam sebuah riwayat, bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya. Puasa itu merupakan mujahadah; sebuah perjuangan atau jihad untuk menundukkan hawa nafsu. Puasa bukan ibadah yang sepele. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa tiada amal lain yang serupa dengannya.

Nabi pun menggambarkan puasa sebagai perisai yang akan melindungi diri dari panasnya siksa neraka. Belum lagi jika berbicara tentang pahalanya maka balasan puasa itu sangat besar sampai-sampai Allah sendiri yang akan langsung membalasnya dengan lipatan dan besaran yang tiada terkira. Hal ini sekaligus menandakan bahwa ibadah puasa termasuk jenis ibadah yang paling mendekati keikhlasan; dan di sisi lain ia juga menggabungkan beragam bentuk kesabaran.

Insya Allah kita mengerti bahwa tujuan dari ibadah puasa itu adalah agar kita bertakwa. Akan tetapi banyak orang yang tidak menyadari bahwa ketakwaan itulah sesungguhnya yang menjadi ukuran kualitas jati diri kita. Karena itulah orang yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa.

Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa atau jasad kalian; tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Bukankah di saat berbuka kita merasa gembira dengan puasa yang telah kita jalani? Dan yang lebih menakjubkan lagi bahwa orang beriman akan senang dan gembira saat berjumpa dengan Rabbnya dengan membawa pahala puasa. Bahkan tersedia pintu gerbang istimewa di surga bagi mereka para ahli puasa. Pintu itu bernama ar-Rayyan.

Sungguh istimewa dan indah kesempurnaan ibadah puasa dalam mengenalkan kepada hamba tentang hakikat dan jari dirinya. Bahwa kita ini adalah hamba yang wajib tunduk dan patuh kepada hukum Allah Rabb penguasa alam semesta. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Puasa Ramadhan pun memberikan tawaran ampunan bagi kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dalam keadaan beriman dan mencari pahala niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ampunan dari Allah adalah keutamaan besar yang tiada ternilai. Sampai-sampai sebagian ulama berpendapat bahwa mu’adzin lebih utama daripada imam sholat, dengan alasan balasan yang dijanjikan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para mu’adzin adalah ampunan, sedangkan bagi para imam adalah irsyad/bimbingan dan petunjuk menuju kebenaran.

Bahkan sholat lima waktu pun memiliki keutamaan penghapusan dosa. Sebagaimana hadits yang ma’ruf bahwa orang yang sholat 5 kali sehari seperti mandi di sungai 5 kali sehari; sehingga tidak tersisa lagi kotoran dosa pada dirinya. Walaupun yang dimaksud di sini adalah dosa-dosa kecil. Karena untuk dosa besar harus disertai taubat dari pelakunya.

Secara tidak langsung hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita harus senantiasa menyadari dosa dan kesalahan kita serta mengiringi kehidupan ini dengan taubat dan istighfar. Karena tidak sedikit dosa dan kesalahan kita di hadapan Allah. Kita pun wajib untuk mengakuinya dan memahami jati diri kita sebagai manusia yang banyak berlumuran dengan dosa… Inilah yang dikenal oleh para ulama dengan istilah muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal. Yaitu menelaah aib pada diri dan amal kita.

Ia merupakan akar diantara akar-akar ibadah kepada Allah. Di sisi lain kita juga wajib untuk selalu menyadari betapa banyak curahan nikmat dari Allah kepada kita. Ini yang dikenal dengan sikap musyahadatul minnah atau menyaksikan curahan karunia dari Allah.

Kedua hal ini merupakan akar tumbuhnya penghambaan kepada Allah. Dengan menyadari kesalahan dan aib pada amalan akan melahirkan perendahan diri dan ketundukan kepada Allah. Adapun dengan melihat sekian banyak nikmat akan menumbuhkan kecintaan yang ia juga menjadi poros amal salih dan ketaatan. Sehingga ibadah kepada Allah tumbuh di atas puncak kecintaan dan puncak perendahan diri.

Dari sini lah kita memahami rahasia besar di balik ibadah puasa Ramadhan. Wallahu a’lam.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Pembahasan lebih lengkap terkait 2 pilar penghambaan bisa dibaca di sini [buka]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *