Bismillah.

Di dalam tafsirnya Imam al-Qurthubi rahimahullah menukil riwayat dari as-Suddi mengenai sebab turunnya ayat dalam surat al-Mujadilah ayat 22 :

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Tidak akan kamu dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir tetapi justru berkasih-sayang/membela kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya…” (al-Mujadilah : 22)

Bahwa ayat ini berkenaan dengan kejadian yang dialami oleh Abdullah putra dari Abdullah bin Ubay bin Salul gembong munafikin kala itu. Abdullah sang anak ini merupakan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika dia meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sisa air minum beliau untuk dibawa pulang agar bisa diminum oleh ayahnya, dengan harapan Allah membersihkan hatinya dengan sebab keberkahan air tersebut.

Akan tetapi sang ayah pun marah besar. Dia berkata kepada anaknya, “Apakah tidak sebaiknya kamu bawakan air kencing ibumu kepadaku. Sungguh air kencing ibumu lebih suci bagiku daripada sisa air minum itu.” Mendengar ucapan keji itu sang anak pun melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta ijin kepada beliau untuk membunuh ayahnya. Akan tetapi ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dan berpesan kepadanya, “Bahkan hendaknya kamu bersikap lembut kepadanya dan terus berbuat baik kepadanya.”

Sungguh, ini merupakan pelajaran besar tentang arti kecintaan kepada Nabi dan kesetiaan kepada Islam. Di sisi lain ia juga menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kebijaksanaan beliau dalam berdakwah dan menghadapi orang-orang yang menyakiti atau mengganggu dakwahnya. Bahwa seorang anak tetap wajib berbakti kepada orang tuanya meskipun kafir. Dan seorang muslim wajib membenci kemunafikan dan kekafiran siapa pun pelakunya; bahkan meskipun itu adalah orang terdekat atau kerabatnya sendiri.

Kecintaan kepada Nabi adalah kecintaan yang wajib dilandasi dengan ilmu dan perhitungan. Bukan kecintaan yang membabi-buta apalagi mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai makhluk Allah dan hamba-Nya. Jangan sampai kita memuji beliau secara berlebihan apalagi sampai beribadah kepadanya. Cinta kepada nabi adalah dengan mengikuti ajarannya dan membela agamanya. Kisah di atas juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa mencintai nabi adalah lebih utama serta lebih wajib daripada mencintai manusia yang lain.

Dari sini kita juga bisa mengetahui kekeliruan sebagian orang yang melakukan tindakan anarkis bahkan terorisme dengan alasan cinta kepada Islam dan membela syariat nabi. Apabila orang munafik saja yang secara lahiriah menampakkan keislaman tetapi batinnya menyimpan kekafiran tetap tidak boleh dengan seenaknya ditumpahkan darahnya maka bagaimana lagi dengan sesama muslim yang jelas menegakkan sholat serta menjunjung tinggi agama Islam. Bahkan kepada orang kafir pun tidak dibenarkan memerangi atau membunuhnya jika tidak ada sebab syar’i yang mengharuskan atau membolehkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad/yang terikat perjanjian dengan kaum muslim maka dia tidak akan mencium harumnya surga.” (HR. Bukhari)

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kita untuk berbuat baik dan memuliakan tetangga meskipun berbeda agama. Nabi pun menafikan kesempurnaan iman pada diri orang yang mengganggu tetangganya. Maka bagaimana lagi jika orang kafir itu adalah ayah atau saudaranya. Kita diajari untuk berbuat baik dan menghormatinya sebagai saudara, meskipun kita tetap wajib membenci kekafirannya. Karena bisa jadi dengan sikap lembut dan berbuat baik bisa menjadi sebab hidayah untuknya.

Kisah di atas juga menunjukkan kepada kita bahwa kebencian dan permusuhan kepada orang kafir atau munafik tidak selamanya harus ditampakkan di muka publik. Dan ini termasuk siasat dalam mendakwahkan kebaikan demi menolak bahaya yang lebih besar atau untuk meringankan madharat yang diterima. Dakwah pun butuh strategi dan manajemen. Tidak bisa asal hantam atau asal sikat begitu saja. Semangat membela agama adalah terpuji tetapi semangat ini harus dikendalikan dengan ilmu dan hikmah.

Kisah di atas juga mengandung pelajaran bagi kita tentang besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan mereka adalah teladan bagi umat yang datang setelahnya. Maka wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyebut mereka sebagai manusia-manusia terbaik. Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah mengetahui apa isi hati mereka. Mereka rela untuk mengorbankan apa pun yang mereka cintai untuk tegaknya dakwah tauhid ini. Apakah itu harta, kedudukan, tenaga, jiwa dan raga; semuanya siap untuk mereka persembahkan…

Maka sungguh mengherankan jika ada diantara kaum muslimin orang-orang yang menjelek-jelekkan sahabat nabi atau menghina mereka atau bahkan mengkafirkan mereka. Bahkan Allah telah memuji para sahabat sebelum mereka terlahir di dunia; telah Allah sebut pujian itu di dalam Taurat dan Injil. Oleh sebab itu sangat wajar jika Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan atau merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia itu sesungguhnya adalah kaum zindik/orang sesat dan munafik berat.”

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *