Bismillah.
Diantara perkara yang hendaknya kita ingat selalu bahwa barang dagangan Allah yaitu surga adalah sesuatu yang sangat mahal; artinya ia sangat berharga dan memiliki nilai yang sangat tinggi. Surga bukan perkara murahan. Dibutuhkan perjuangan, kesabaran dan pengorbanan untukmencapainya, setelah adanya taufik dan bantuan dari Allah kepada para hamba.
Tidakkah kita lihat perjuangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meraih hidayah dan mempertahankannya? Tidakkah kita ingat perjuangan Salman al-Farisi melanglang buana demi mencari kebenaran dan petunjuk hidupnya? Tidakkah kita ingat pengorbanan keluarga Yasir yang disiksa hingga mati syahid dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji untuk kalian adalah surga…” Begitu pula keteguhan seorang Bilal bin Rabah yang disiksa oleh majikannya agar meninggalkan agama Islam yang dicintainya dan dia tetap mengatakan ‘ahad’ ‘ahad’; bahwasanya hanya Allah Yang layak disembah; karena Allah adalah al-Ahad; Yang Maha Esa.
Karena hidayah itu sesuatu yang sangat mahal maka kita diperintahkan oleh Allah untuk memintanya setiap hari di dalam sholat kita. Yaitu di dalam surat al-Fatihah yang dibaca setiap raka’at di dalam sholat; Ihdinash shirathal mustaqim; ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus… Hidayah yang menggabungkan antara bimbingan berupa ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Hidayah yang akan menuntun kaum beriman menuju surga….
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah masuk surga kecuali jiwa/orang yang beriman.” (HR. Muslim). Sementara dalam hadits lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak disenangi oleh hawa nafsu manusia, sedangkan neraka dikelilingi hal-hal yang disukai oleh syahwat. Karena itulah dibutuhkan perjuangan untuk menundukkan hawa nafsu kepada petunjuk Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang benar-benar berjihad itu adalah yang berjuang menundukkan jiwa/hawa nafsunya untuk taat kepada Allah.” (HR. Ahmad)
Allah berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Kami niscaya Kami akan beri petunjuk kepada mereka itu jalan-jalan Kami…” (al-‘Ankabut : 69)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksudnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya dan para pengikut beliau yang setia hingga hari kiamat ‘sungguh Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami’ yaitu Kami (Allah) akan beritahukan kepada mereka jalan-jalan Allah di dunia maupun di akhirat (lihat Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat al-‘Ankabut [klik])
Dari ayat di atas Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memetik pelajaran bahwa Allah mengaitkan antara hidayah dengan jihad/kesungguhan dalam menundukkan hawa nafsu dan jihad-jhad yang lain; artinya barangsiapa yang semakin besar jihad atau perjuangannya maka semakin besar pula hidayah yang akan bisa dia peroleh atau kita katakan bahwa orang yang paling besar hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya (lihat kitab al-Fawa’id karya beliau)
Para ulama juga menerangkan bahwa bentuk jihadun nafs/perjuangan menundukkan hawa nafsu mencakup 4 tingkatan; pertama berjihad untuk menuntut ilmu, kedua berjihad untuk mengamalkan ilmunya, ketiga berjihad untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain yang belum mengetahuinya, dan yang keempat berjihad agar bisa bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan dakwah (lihat keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 25-26 cet Dar ats-Tsurayya 1426 H)
Dari situ pula kita bisa memahami betapa tinggi kedudukan para ulama pewaris ilmu para nabi. Karena mereka adalah pembawa petunjuk dan bimbingan bagi umat manusia. Seperti digambarkan oleh sebagian ulama terdahulu; kalau bukan dengan keberadaan para ulama pastilah manusia persis seperti binatang perilakunya… Betapa banyak orang yang tersesat lalu mereka beri petunjuk. Betapa banyak orang yang telah buta mata hatinya kemudian Allah berikan pandangan kepada mereka dengan perantara cahaya Allah yang disebarkan oleh para ulama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja orang yang paling mulia dan paling bertakwa sangat sering berdoa kepada Allah meminta keteguhan hati di atas agama. Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘alaa diinik; Wahai Allah Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu… Kita ini jauh lebih butuh hidayah dan bimbingan Allah dalam setiap hembusan nafas dan detak jantung kita…
Karena itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut bahwa risalah atau petunjuk yang dibawa oleh Rasul merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak bagi para hamba. Kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan. Karena risalah itu adalah cahaya, ruh dan kehidupan bagi mereka. Lantas bagaimana kiranya keadaan seorang hamba yang tidak ada baginya cahaya, ruh dan kehidupan?!
Ya, dia seperti bangkai yang berjalan…
Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami benar-benar akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberikan kepada mereka balasan pahala mereka dengan lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)
Iman adalah tujuan yang paling agung, cita-cita yang paling besar, dan maksud yang paling mulia. Kebutuhan manusia terhadapnya dan keterdesakan mereka untuk memahami ilmu tentangnya dan menerapkannya adalah perkara yang paling mendesak. Bahkan tidak ada bagi manusia suatu kebutuhan di dalam kehidupan ini sebagaimana kebutuhan mereka terhadap iman kepada Allah dan keimanan kepada apa-apa yang diperintahkan Allah tabaraka wa ta’ala untuk diimani oleh hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya kehidupan manusia yang hakiki di dunia dan di akhirat hanya terwujud dengannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika dia/rasul menyeru kalian kepada apa-apa yang menghidupkan kalian.” (al-Anfal : 24). Maka kehidupan yang hakiki itu tidak ada dan tidak pernah terwujud kecuali dengan iman (lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh ‘Aqidah al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah, hal. 293)
Setiap hari kaum muslimin berdoa kepada Allah meminta hidayah. Tidak kurang tujuh belas kali dalam sehari semalam kita memohon kepada Allah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Hal ini menunjukkan bahwa hidayah adalah kebutuhan setiap insan. Kebutuhan yang sangat mendesak baginya. Karena dengan hidayah itulah ia akan tetap teguh di atas iman dan islam serta melangkah meniti jalan kebenaran. Kalau bukan karena hidayah dari Allah maka manusia akan tenggelam dalam kebatilan, syirik, kekafiran, dan maksiat.
Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ‘ihdinaa’ (tunjukilah kami) adalah ‘arsyidnaa’ (bimbinglah kami). Beliau juga menukil tafsiran dari Ali dan Ubay bin Ka’ab bahwa maksudnya adalah ‘tsabbitnaa’ (teguhkanlah kami). Kemudian Imam al-Baghawi menyimpulkan, bahwa maksud dari doa ini adalah memohon keteguhan di atas petunjuk dan meminta tambahan hidayah (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 10)
Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya tiga riwayat tafsiran Ibnu Abbas mengenai makna ‘ihdinaa’; yaitu bermakna ‘arsyidnaa’ (bimbinglah kami), ‘waffiqnaa’ (berikan taufik kepada kami), dan ‘alhimnaa’ (berikan ilham kepada kami) (lihat Zaad al-Masiir, hal. 34)
Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa untuk bisa berjalan di atas kebenaran seorang hamba membutuhkan bimbingan, taufik, ilham, dan keteguhan serta pertolongan dari Allah. Taufik, ilham dan keteguhan adalah anugerah dari Allah, tidak bisa diberikan oleh siapa pun juga bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu tidak bisa memberikan petunjuk kepada siapa yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan petunjuk/taufik kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash : 56)
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata :
الهداية والسَّعادة أمران متلازمان وقرينان لا ينفكَّان
Hidayah dan kebahagiaan adalah dua buah perkara yang saling melekat dan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
والشَّقاء قرين الضَّلال الذي لا ينفكُّ عنه
Sementara kesengsaraan adalah pasangan dari kesesatan dan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan darinya.
فمتى وُجدت الهداية وُجدت السَّعادة، ومتى وُجِدَ الضَّلال وُجِدَ الشَّقاء
Maka dimana ditemukan hidayah maka di situlah ditemukan kebahagiaan, dan dimana ditemukan kesesatan maka di situlah dijumpai kebinasaan.
ومن كان في بُعدٍ عن الله وطاعته ثم استقام يجد في قلبه لذَّةً كانت مفتقدة ، وحلاوةً كانت معدومة وطعمًا كان لا يشعر به
Barangsiapa yang dahulunya berada jauh dari Allah dan ketaatan kepada-Nya kemudian dia beralih ke jalan istiqomah niscaya dia akan rasakan di dalam hatinya sebuah kelezatan yang dahulu hilang dan rasa manis yang belum pernah dia rasakan, dan dia bisa menikmati suatu kelezatan yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.
وصدق الله: {فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا}.
Maha benar Allah yang berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari meningat-Ku pasti dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit.” (Thaha : 123-124) (lihat Rubrik Fawa’id Mukhtasharah di situs resmi Syaikh Abdurrazzaq di tautan berikut ini : http://al-badr.net/muqolat/2648)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar