Bismillah.
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam kitab Riyadhus Sholihin sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الجَنَّةُ أقْرَبُ إلى أحَدِكُمْ مِن شِراكِ نَعْلِهِ، والنَّارُ مِثْلُ ذلكَ
“Surga lebih dekat dengan salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya, dan neraka pun begitu.” (HR. Bukhari dalam kitab ar-Riqaq)
Sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama, bahwa hadits ini mengandung motivasi dan peringatan, atau disebut dengan istilah targhib dan tarhib. Targhib yaitu motivasi dan dorongan untuk berbuat baik, sedangkan tarhib -dengan ha’ tebal- adalah memberi peringatan atau menakut-nakuti dari keburukan.
Orang bisa masuk surga dengan sebab amal yang kelihatan sepele. Sebaliknya orang juga bisa masuk neraka karena suatu perbuatan yang dianggap ringan. Ada orang masuk surga karena memberi minum kepada seekor anjing yang kehausan. Ada pula orang yang masuk neraka gara-gara menyiksa binatang peliharaannya; tidak dia beri makan dan tidak juga dia lepaskan untuk mencari makan sendiri.
Dari sini kita bisa memahami bahwa seorang tidak boleh meremehkan kebaikan dan amal salih walaupun tampak sepele atau tidak menarik. Misalnya menyingkirkan gangguan dari jalan; apakah itu berupa ranting pohon yang jatuh atau pun membersihkan jalan dari kotoran dan hal-hal yang mengganggu kenyamanan orang yang lewat. Kita pun mengetahui bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan adalah termasuk cabang keimanan.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh menganggap remeh dosa walaupun tampak ringan atau sepele. Karena itulah ciri orang yang imannya baik adalah memandang dosa sebagai perkara besar yang bisa menghancurkan hidupnya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Orang beriman melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah sebuah gunung; dia khawatir gunung itu akan runtuh menimpa dirinya…” Atsar/riwayat ini disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitab Sahih-nya.
Kita hidup di masa sangat mudah untuk berbuat baik dan sangat mudah untuk melakukan kejelekan. Kecanggihan teknologi adalah nikmat dari Allah yang telah membantu manusia untuk menjalankan berbagai urusan termasuk di dalamnya untuk dakwah dan menimba ilmu agama. Meskipun demikian seorang tidak bisa sembarangan dalam menimba ilmu. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sirin rahimahullah, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama; oleh sebab itu hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil ilmu kalian.” Atsar ini disebutkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah kitab Sahihnya.
Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk menjadi penyeru kebaikan dan teladan dalam ketaatan, sebagaimana kita pun berdoa kepada Allah agar menjauhkan kita dari jalan-jalan menuju neraka dan kemurkaan-Nya…
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar