Bismillah.
Imam Syafi’i rahimahullah seorang ulama besar Islam yang telah dikenal perjuangan dan pembelaannya terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah. Beliau senantiasa mewasiatkan agar umat ini kembali kepada petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah serta tidak mengangkat pendapat manusia di atas bimbingan wahyu.
Diantara ucapan beliau :
إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – وَدَعُوا مَا قُلْتُهُ
“Apabila kalian mendapati di dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpendapatlah dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah apa yang aku katakan itu.” (diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan yang lainnya)
Ucapan senada juga diriwayatkan dari muridnya Imam Syafi’i yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :
من رد حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو على شفا هلكة
“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” (diriwayatkan oleh al-Laalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah)
Sebelum mereka berdua, yaitu Imam Malik rahimahullah -yang juga menjadi gurunya Imam Syafi’i- mengatakan :
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
“Sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa, aku bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikanlah pendapatku; setiap pendapat yang sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah ambillah ia, dan setiap pendapat yang tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah maka tinggalkan pendapat itu…”
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa tidak boleh mengambil pendapat seorang ahli fikih sehebat apa pun ilmu dan fikihnya kecuali apabila hal itu dilandasi dengan dalil yang sahih. Adapun apabila pendapatnya itu menyelisihi dalil maka tidak boleh diambil. Sebab tidak boleh memilih pendapat yang lain jika sudah ada keterangan yang jelas dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Syarh al-Manzhumah al-Haa-iyah, hal. 63)
Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais berkata :
أبو حنيفة، ومالك، والشافعي، وأحمد، فكلهم متفقون على وجوب التمسك بالكتاب والسنة والرجوع إليهما وترك كل قول يخالفهما
“Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad; mereka semuanya sepakat akan wajibnya berpegang-teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada keduanya, dan wajib meninggalkan setiap pendapat lain yang menyelisihi keduanya.” (lihat Ushul ad-Diin ‘inda al-Imam Abi Hanifah [klik])
Oleh sebab itu para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. Padahal mereka adalah raksasa ilmu dan pakar fikih yang tidak diragukan lagi keilmuannya di dalam agama Islam.
al-Haitsam bin Jamil berkata :
شَهِدْتُ مَالِكًا سُئِلَ عَنْ ثَمَانٍ وَأَرْبَعِينَ مَسْأَلَةً، فَقَال فِي ثِنتيْنِ وَثَلَاثِينَ مِنْهَا: لَا أَدْرِي
“Aku pernah melihat Imam Malik ditanya tentang 48 butir pertanyaan lalu beliau menjawab untuk 32 pertanyaan diantara semuanya itu dengan ucapan ‘Aku tidak tahu’.” (lihat Shifatul Mufti wal Mustafti [klik])
Dari sinilah semestinya kita menyadari kedudukan dan kapasitas kita masing-masing. Jika kita tidak mengetahui perkara agama maka diam dan terus belajar itu adalah jalannya. Tidak sepantasnya kita menempatkan diri seperti seorang mufti/ahli fatwa yang telah menguasai berbagai bidang ilmu agama. Adapun orang yang sengaja berpaling dari tuntunan agama dan lebih mendahulukan adat tradisi atau pemikirannya maka mereka jelas tidak berada di atas jalan para ulama; tidak pula di atas jalan Nabi dan para sahabatnya. Wallahul must’aan.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
1 Komentar
Arihusodo · November 20, 2025 pada 6:32 PM
Penuh motivasi untuk sll berpegang teguh Al-Quran dan Hadits sbg pegangan hidup.semoga Allah allah membimbing kita semua untuk istiqomah. Aamiin