Jelang Ramadhan (Bagian 3)

Bab 3. Bulan Tilawah al-Qur’an

Tidaklah samar bagi kita bahwa Ramadhan adalah bulan awal mula diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Turunnya al-Qur’an adalah peristiwa yang sangat berarti dalam perjalanan sejarah hidup umat manusia. Sebab dengan kitab inilah Allah menuntun manusia menuju bahagia. Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami turunkan al-Qur’an kepadamu supaya kamu celaka.” (Thaha : 2)

Petunjuk Allah adalah bekal paling bermanfaat bagi manusia dalam mengarungi samudera hidup di dunia yang sementara ini. Banyak orang hidup dalam kenistaan dan kekejian karena tidak mau menyerap bimbingan dan petunjuk Allah. Padahal Allah yang menciptakan mereka, tentu Allah pula yang paling mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi makhluk-Nya. Kebahagiaan itu hanya akan terwujud tatkala manusia mau taat beribadah kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Sementara ibadah tidak bisa dijalankan tanpa bimbingan dan petunjuk Allah. Sehingga mengikuti petunjuk Allah merupakan jalan kebahagiaan hamba. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah dalam ayat (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Jelas bagi kita bahwa al-Qur’an berisi petunjuk dan rahmat serta obat bagi manusia. Petunjuk untuk menggapai surga dan selamat dari api neraka. Rahmat bagi mereka yang membangun kehidupannya di atas pondasi iman dan tauhid. Dan obat bagi segala penyakit hati dan penyejuk jiwa. Dengan mengikuti ajaran al-Qur’an akan membawa pribadi dan masyarakat menuju masa depan cerah dan kebahagiaan yang diidam-idamkan. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya; bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” 

Berbagai bentuk kehinaan, kemunduran, dan kerusakan yang menimpa tubuh umat Islam merupakan dampak dari sikap berpaling dari al-Qur’an. Allah muliakan mereka yang menjunjung-tinggi Kitabullah dan sebaliknya; Allah hinakan siapa pun yang mencampakkan al-Qur’an dan mempertuhankan perasaan dan hawa nafsu atau akal pikiran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan sebab Kitab ini beberapa kaum, dan Allah juga akan merendahkan dengan sebab Kitab ini pula sebagian kaum yang lain.” (HR. Muslim)

Inilah rahasia kejayaan generasi terdahulu umat ini; yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hidup dengan petunjuk al-Qur’an. Mereka jadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan aturan yang mengendalikan perilaku dan kebudayaan. Tidak sebagaimana sebagian orang di masa kini yang justru menyeret al-Qur’an agar mengikuti perilaku dan budaya manusia. Mereka tidak peduli apakah Allah murka atau tidak, sebab yang mereka kejar adalah ridha dan simpati manusia. Adapun para sahabat radhiyallahu’anhum hidup bersama lentera iman dan cahaya al-Qur’an. Mereka tidak ingin memperalat al-Qur’an demi ambisi sesaat atau kepentingan rendahan. Karena itulah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu menyatakan, “Kami adalah kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan al-Qur’an; maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, niscaya Allah akan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Hari-hari di bulan Ramadhan akan terasa kering dan melelahkan tanpa tilawah dan tadabbur al-Qur’an. Sebab inilah energi yang akan menggerakkan hati dan pikiran seorang mukmin. Mereka bukanlah kaum pemuja kemewahan dunia. Mereka memahami arti dan tujuan hidupnya di alam dunia ini. Untuk berbekal diri dengan sebaik-baik bekal; yaitu takwa. Oleh sebab itulah –wallahu a’lam– Allah jadikan puasa sebagai sebab untuk meraih takwa, dan Allah pun menetapkan bahwa al-Qur’an menjadi hidayah dan petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Bagaimana mungkin seorang muslim bisa merasakan lezatnya Ramadhan tanpa membasahi lisannya dengan dzikir dan tilawah al-Qur’an? Bagaimana mungkin seorang muslim bisa menikmati indahnya bulan puasa tanpa ketakwaan hakiki yang bersemayam di dalam dada?!

Bersambung insya Allah…

# Baca seri artikel sebelumnya di sini [klik]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.