Bismillah.
Beberapa tahun silam, ada seorang pemuda yang diajak oleh teman-temannya untuk mengelola sebuah program dakwah di sekitar kampus di Jogja. Dia yang kala itu masih duduk di bangku kuliah di UGM pun tertarik untuk membantu kegiatan dakwah itu yang notabene tidak jauh dari rumahnya.
Program itu digagas oleh sebuah forum yang dinamai dengan FORSIM/ Forum Studi Islam Mahasiswa. Forum ini dibuat untuk mengelola kegiatan dakwah Sunnah untuk mahasiswa dan masyarakat di sekitar Kampus UMY Kasihan Bantul. Si pemuda tadi pun bersemangat untuk membantu kegiatan dakwah ini, walaupun dia bukan anak UMY. Pada saat itu dia diberi amanah sebagai mudir program belajar yang dinamai Ma’had al-Mubarok.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Kini si pemuda itu telah lulus S-3 dari Studinya di Negeri Paman Sam. Alhamdulillah beliau tetap berkomitmen untuk mendukung kegiatan dakwah ini walaupun berada di luar negeri. Semoga Allah beri balasan terbaik untuknya.
Kita sedikit mundur ke belakang, ketika beliau masih kuliah di UGM alhamdulillah beliau juga belajar di sebuah program belajar Islam yang bernama Ma’had al-‘Ilmi yang sudah jauh lebih tua umurnya dari program Ma’had al-Mubarok kala itu. Hal ini menjadi motivasi bagi para mahasiswa bahwa ternyata belajar agama bisa dilakukan walaupun di masa-masa kuliah atau studi di kampus perguruan tinggi umum.
Ma’had al-‘Ilmi sudah cukup lama berkiprah dalam dunia dakwah Sunnah di kota pelajar. Ia berangkat dari sebuah keprihatinan para pendahulu dan sesepuh dakwah mahasiswa di Jogja. Bahwa jangan sampai masa muda itu berlalu begitu saja tanpa ada bekal ilmu dan manhaj untuk kehidupan mereka para calon penerus perjuangan bangsa. Sejak tahun 2003 hingga sekarang maka Ma’had al-‘Ilmi sudah berjalan kurang lebih 21 tahun; dulu sempat ada 1 tahun program ini tidak dibuka karena diselingi dengan program Ma’had Syabaabul Masjid.
Tentu tidak sedikit dinamika yang ditemui oleh para penggerak dakwah mahasiswa di Jogja. Tidak hanya di UGM, bahkan di kampus yang lain seperti di UNY, UPN, UII, UMY, UAD, STPN, bahkan UIN dan lain-lain. Dulu bahkan sempat dibuat sebuah forum silaturahmi untuk para pegiat dakwah kampus dengan nama Forum Silaturahmi Dakwah Salaf Antar Kampus yang diinisiasi oleh Ust. Abu Sa’ad rahimahullah dan Mas Indra hafizhahullah.
Perjuangan dakwah mahasiswa di sekitar kampus pun bersemai dari wisma-wisma yang tumbuh di area kampus. Memang wisma itu bukan milik mereka. Karena mereka hanya mengontrak dan mengelola penggunaannya. Meskipun begitu dengan taufik dari Allah telah terbentuk komunitas dakwah yang cukup solid di masa itu. Sehingga dibuatlah program daurah Bahasa Arab bernama BADAR dan daurah kitab pada musim liburan semester.
Mereka memang bukan jebolan ponpes atau berlatar belakang keluarga yang sudah semangat ngaji. Banyak diantara mereka yang berlatar belakang sekolah umum dan keluarga yang masih awam. Meskipun begitu mereka ingin berusaha menambah pemahaman di dalam agamanya. Mencoba untuk mengenali jalan para ulama salaf dalam mempelajari dan mengamalkan agama yang hanif ini. Mereka pun mengenal nasihat para ulama seperti Imam Malik rahimahullah yang mengatakan, “Tidak akan memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.”
Pada masa itu belum begitu banyak alumni Madinah yang berkiprah di Jogja dan sekitarnya. Ada sebagian asatidz alumni Yaman yang telah merintis perjuangan dakwah ini bersama para asatidz lainnya alumni Saudi maupun didikan pesantren dan kampus lokal. Masa-masa itu yang kental dengan gejolak perselisihan diantara sebagian penyeru dakwah tauhid ini. Pada masa hajr/boikot dan tahdzir/peringatan keras menjadi asupan media dan mewarnai dunia persilatan di tanah air. Meskipun demikian dengan taufik dari Allah pula, kegiatan Ma’had al-‘Ilmi terus bergulir membuka majelis-majelis ilmu dengan mengkaji kitab para ulama rabbani.
Perjalanan para alumni Ma’had al-‘Ilmi tidak berhenti di situ. Ada diantara mereka yang melanjutkan studi S-2 atau S-3 dalam ilmu umum sembari tetap menggali faidah ilmu agama dari para ulama. Ada yang melanjutkan studi pasca sarjana di luar negeri dan ada pula yang di dalam negeri. Dan itu semuanya alhamdulillah tidak memadamkan semangat mereka untuk terus berusaha istiqomah dan menimba ilmu. Godaan dan hambatan tentu ada, dan tidak ada yang bisa melindungi dari segala kerusakan kecuali Allah Rabb penguasa jagad raya ini.
Para alumni Ma’had al-‘Ilmi berusaha mengembangkan dakwah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ada yang aktif mengurus masjid, ada yang mengurus dakwah di dunia maya, ada yang menyebarkan dakwah di kantornya, ada yang berusaha menyumbangkan ilmunya untuk perguruan tinggi di tanah air, dan ada juga yang tengah berusaha menggali faidah ilmu di negeri para ulama. Ini semua merupakan bentuk pengamalan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ust. Fauzan Abdillah hafizhahullah salah satu pionir program Ma’had al-‘Ilmi dahulu sering mengutip ucapan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu kepada para sahabatnya, “Lau khodzaltumuunii la jaahdtu bi nafsii” artinya, “Seandainya kalian tidak mau membantuku -untuk berjuang- niscaya aku akan tetap berjihad walaupun seorang diri….” Ini menunjukkan suatu himmah ‘aaliyah/cita-cita yang tinggi pada diri seorang muslim…
Pada masa itu masih teringat dalam benak kami seorang dosen teknik UGM Ust. Abu ‘Ali hafizhahullah ikut serta mengajar kajian untuk umum bertema manhaj di Masjid Pogung Raya (MPR) dengan membahas kitab ad-Da’wah ila Allah baina at-Tajammu’ al-Hizbi wa at-Ta’awun asy-Syar’i. Beliau juga diminta untuk mengajar program Ma’had al-‘Ilmi dalam pelajaran ilmu Mushtholah Hadits dengan kitab manzhumah al-Baiquniyah, Nuzhatun Nazhar dan juga kitab lain karya Hafizh Tsana’ullah az-Zahidi pada waktu yang berlainan.
Di awal program Ma’had al-‘Ilmi Ust. Abu ‘Isa hafizhahullah mengajarkan ilmu tauhid dari kitab al-Wajibat dengan syarahnya at-Tanbihat al-Mukhtasharah. Karena beliau berangkat menimba ilmu ke Yaman kemudian digantikan oleh Ust. Abu Sa’ad rahimahullah. Pada waktu-waktu itu juga Ust. Abu Sa’ad mengajar di Ma’had al-‘Ilmi dengan membahas kitab manhaj yang ringkas Mujmal Ushul Ahlis Sunnah karya Syaikh Nashir al-‘Aql.
Walhasil, perjalanan program Ma’had al-‘Ilmi dalam mewadahi para penimba ilmu merupakan mega proyek kebaikan yang alhamdulillah hingga saat ini masih dikelola oleh Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Sejak awal program ini dibuat untuk mengembangkan metode belajar ilmu agama secara ta’shili; yaitu membangun dari dasar-dasar kaidah dalam agama. Belajar secara sitematis dan bertahap. Belajar dengan panduan kitab ulama yang ahli di bidangnya.
Alhamdulillah, tidak hanya para mahasiswa yang tertarik dengan program ini. Bahkan para pekerja, karyawan, PNS, pengusaha bahkan dosen alumni S-3 di Jepang dan ibu rumah tangga pun ikut belajar dalam program ini. Memang tidak mudah untuk bisa ikut menjadi santri karena harus seleksi dan punya dasar kemampuan bahasa Arab nahwu dan shorof untuk baca kitab gundul.
Ya. dengan taufik dari Allah lah YPIA masih dimudahkan untuk menggawangi program kaderisasi calon penggerak dakwah dan penimba ilmu ini. Ma’had al-‘Ilmi bukan akhir dari perjalanan dalam menimba ilmu. Kita teringat dengan ucapan Imam Ahmad rahimahullah yang dulu sering dikutip oleh Ust. Abu Sa’ad ‘ma’al mihbarah ilal maqbarah‘ bersama dengan pena/alat untuk mencatat ilmu hingga ke liang kubur…
Kini YPIA tidak seperti yang dulu karena sudah begitu banyak program kebaikan yang dikembangkan sebagai wujud perhatian para da’i terhadap kebutuhan umat Islam. Oleh sebab itu dibutuhkan dukungan dana pembiayaan yang tidak sedikit untuk menggerakkan berbagai jenis program dakwah dan kebaikan.
Akhir kata, dari lubuk hati yang paling dalam kami mengajak para muhsinin dan dermawan untuk membantu dakwah YPIA ini; semoga Allah jadikan ia sebagai ladang pahal jariyah untuk anda yang akan terus mengalirkan pahala walaupun anda telah wafat… Silakan salurkan donasi terbaik anda di tautan berikut ini [klik].
Ditulis oleh hamba yang fakir kepada Rabbnya
Ari Wahyudi -semoga Allah ampuni dosa-dosanya-
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar