Bismillah.

Diantara pelajaran penting dalam risalah Ushul Tsalatsah adalah mengenali jalan untuk mengenal Allah. Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah berkata :

“Apabila dikatakan kepadamu; dengan apa kamu bisa mengenali Rabbmu? Katakanlah; aku mengenalnya dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Diantara ayat-ayat Alllah adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Adapun diantara makhluk ciptaan-Nya adalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh beserta semua yang ada di dalamnya dan diantara keduanya.”

Di dalamnya Syaikh ingin menunjukkan kepada kita bahwa cara untuk mengenal Allah mencakup ayat-ayat Allah dan juga makhluk ciptaaan-Nya. Ayat Allah ini mencakup ayat syar’iyah dan ayat kauniyah. Ayat syar’iyah berupa wahyu yang diturunkan Allah kepada para rasul. Adapun ayat kauniyah adalah segala sesuatu yang terjadi di alam semesta dan menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah.

Termasuk ayat kauniyah adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Begitu juga langit dan bumi adalah bagian dari ayat kauniyah berupa makhluk ciptaan Allah. Keberadaan Allah sebagai Rabb penguasa alam ini adalah perkara yang sudah menjadi fitrah umat manusia. Bahkan orang musyrik pun mengenali keesaan Allah dalam hal mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta (tauhid rububiyah).

Kemudian, penulis membawakan dalilnya. Beliau berkata : Dalilnya dalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Fushshilat : 37)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah menjelaskan :

الآياتُ الكونيَّةُ هي المخلوقاتُ والآياتُ الشَّرعيَّةُ هي آياتُ القرآنِ، إذاً فقولُه: {مِنْ آيَاتِهِ} يعني: من آياتِه المخلوقةِ الكونيَّة، وهي آياتٌ يعني: علاماتٌ، علاماتٌ دالَّةٌ، دالَّةٌ على خالقها، على قدرته وحكمته وعلمِه ورحمتِه، فهذا اللَّيلُ واللَّيلُ والنَّهارُ والشمسُ والقمرُ هي آياتٌ ونِعمٌ في نفس الوقتِ

“Ayat-ayat kauniyah adalah berupa makhluk-makhluk, sedangkan ayat-ayat syar’iyah adalah ayat-ayat al-Qur’an. Dengan demikian, “diantara ayat-ayat-Nya” maksudnya adalah diantara ayat-ayat kauniyah yaitu makhluk-Nya. Maka itu menjadi ayat-ayat yaitu tanda-tanda; tanda yang menunjukkan kepada penciptanya, menunjukkan kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, ilmu dan rahmat-Nya. Maka malam dan siang, matahari dan bulan; itu semuanya merupakan ayat-ayat/tanda kebesaran Allah dan juga nikmat-nikmat dari Allah di waktu yang sama…” (lihat Tafsir Surat Fushshilat oleh Syaikh al-Barrak, dimuat diwebsite resmi beliau di tautan berikut : [klik])

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan :

قال تعالى: {لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ} [فصلت: ٣٧] .

هذا إبطال للشرك، لا تسجدوا للمخلوقات؛ لأن من أعظم المخلوقات الشمس والقمر، ولأن المشركين كانوا يعبدون الشمس ويسجدون لها، ومنهم من يعبد القمر والكواكب، مثل قوم إبراهيم، يبنون لها هياكل على صورة الكواكب ويعبدونها

Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah kalian sujud kepada matahari atau bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang menciptakan itu semua, jika kalian beribadah hanya kepada-Nya.” Ini merupakan bantahan untuk membatalkan kesyirikan; jangan kalian sujud kepada makhluk. Karena diantara makhluk yang paling besar adalah matahari dan bulan. Dan dahulu kaum musyrik ada yang menyembah matahari dan bersujud kepadanya. Ada juga yang beribadah kepada bulan dan bintang-bintang seperti kaumnya Nabi Ibrahim; mereka membangun haikal-haikal untuk beribadah kepada bintang dengan dibentuk seperti bintang-bintang, dan mereka pun beribadah kepada bintang… (lihat Syarh Ushul Tsalatsah oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, dikutip dari Maktabah Syamilah [klik])

Hal ini memberikan faidah kepada kita bahwa ayat-ayat Allah yang menunjukkan rububiyah Allah merupakan dalil yang sangat jelas untuk menetapkan tauhid dalam hal ibadah. Selain itu ia juga menunjukkan kepada kita untuk selalu mengingat dan merenungkan kekuasaan Allah dan kebesaran-Nya yang tampak pada alam semesta. Dengan begitu akan lebih mendorong kita dalam memurnikan ibadah kepada-Nya.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Tulisan ini adalah seri ke-18 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’, untuk lebih lengkap silahkan buka [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *