Bismillah.

Diantara pelajaran yang sangat berharga dari risalah Ushul Tsalatsah adalah mengenali intisari ibadah dan penghambaan kepada Allah dalam bentuk doa.

Penulis rahimahullah berkata :

وَفِي الْحَدِيثِ «الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ» ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر: ٦٠]

Disebutkan di dalam hadits, “Doa adalah otak/intisari dari ibadah.” Dalilnya juga firman Allah (yang artinya), “Dan Rabb kalian mengatakan : Berdoalah kepada-ku niscaya Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir : 60)

Setelah penulis membawakan ayat yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah adalah kekafiran, kini beliau menyebutkan dalil yang menunjukkan bahwa doa merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan dalil ayat yang menunjukkan bahwa orang yang beribadah kepada selain Allah mendapatkan ancaman neraka…

Adapun hadits dengan redaksi/lafal yang dibawakan oleh penulis dinyatakan lemah oleh para ulama seperti Syaikh al-Albani, Syaikh al-Utsaimin dan Syaikh Bin Baz rahimahumullah, adapun lafal yang sahih/valid dari Nabi adalah :

الدُّعاءُ هوَ العبادةُ

“Doa itulah intisari dari ibadah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Nu’man bin Basyir, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Sahih Tirmidzi)

Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan dalam Silsilah Huda wa Nur :

أمّا اللّفظ الأوّل ( الدّعاء مخّ العبادة ) ففي سنده رجل معروف عند علماء الحديث بسوء الحفظ ألا وهو عبد الله ابن لهيعة ، فهو تفرّد بهذا اللّفظ ، دون الثّقة الّذي رواه بلفظ ( الدّعاء هو العبادة )

Adapun lafal pertama hadits ‘Doa merupakan otak dari ibadah’ maka di dalam sanadnya terdapat periwayat yang dikenali oleh para ulama hadits sebagai orang yang buruk hafalannya yang bernama Abdullah bin Lahi’ah, dia menyendiri dengan periwayatan lafal ini, berbeda/menyelisihi dengan periwayat tsiqah/terpercaya yang meriwayatkan dengan lafal ‘Doa itulah intisari dari ibadah’.” (lihat Transkrip Silsilah Huda wa Nur, Bawwabah Turats al-Albani [klik])

Imam al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan makna lafal ‘mukh/otak’ dari ibadah yang ada di dalam hadits di atas :

وَالْمَعْنَى أَنَّ الدُّعَاءَ لُبُّ الْعِبَادَةِ وَخَالِصُهَا لِأَنَّ الدَّاعِيَ إِنَّمَا يَدْعُو اللَّهَ عِنْدَ اِنْقِطَاعِ أَمَلِهِ مِمَّا سِوَاهُ وَذَلِكَ حَقِيقَةُ التَّوْحِيدِ وَالْإِخْلَاصِ وَلَا عِبَادَةَ فَوْقَهُمَا.

“Makna ungkapan ini adalah bahwa doa merupakan intisari ibadah dan bagian utama darinya; karena orang yang berdoa hanyalah menujukan doanya tulus kepada Allah ketika terputus harapannya kepada selain Allah, dan itulah hakikat/intisari dari tauhid dan keikhlasan; dan tidak ada ibadah yang lebih tinggi melebihi keduanya…” (lihat Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ Tirmidzi, hadits no 3371 [klik])

Imam Ibnul ‘Arabi rahimahullah -sebagaimana dikutip oleh al-Mubarakfuri- menyebutkan bahwa doa merupakan ruh daripada ibadah.

Dua Jenis Doa

Doa ada dua macam; doa ibadah dan doa permintaan/mas’alah. Doa ibadah adalah sanjungan kepada Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, dan nikmat-nikmat yang telah dicurahkan oleh-Nya. Adapun doa permintaan (doa mas’alah) adalah memohon berbagai macam kebutuhan kepada Allah.

Setiap hamba butuh kepada Allah dalam setiap saat. Dia tidak bisa lepas dari bantuan Allah walaupun hanya sekejap mata. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan doa yaitu meminta kepada Allah segala hal yang dibutuhkan olehnya berupa petunjuk, bimbingan, rezeki, keselamatan, dan ampunan. Maka dia harus meminta kepada Allah segala sesuatu yang dia butuhkan.

Setiap hamba butuh kepada Allah pada segala keadaan. Dia tidak bisa terlepas dari doa. Doa adalah sebuah ibadah yang sangat agung. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwasanya doa adalah intisari dari ibadah. Allah telah memerintahkan untuk berdoa dalam banyak ayat.

Allah berfirman (yang artinya), “Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku niscaya mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir : 60)

Allah berfirman (yang artinya), “Maka berdoalah kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya semata.” (Ghafir : 14)

Allah berfirman (yang artinya), “Apabila hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku senantiasa memenuhi doa/permintaan orang yang memanjatkan doa apabila dia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah : 186)

Dengan demikian doa adalah ibadah yang sangat agung. Setiap hamba butuh kepadanya dalam rangka mengangkat kebutuhan-kebutuhannya kepada Allah dalam setiap waktu dan kondisi. Berdoa merupakan salah satu ciri dan sifat yang melekat pada para nabi dan rasul, sebagaimana telah Allah sebutkan di dalam al-Qur’an mengenai nabi-nabi-Nya bahwasanya mereka berdoa dan menundukkan dirinya kepada Allah serta memohon berbagai kebutuhannya kepada Allah. Oleh sebab itu tidak ada seorang pun yang tidak butuh untuk berdoa (lihat Syarh Bulughul Maram oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, 6/310-311)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Silakan baca seri terdahulu melalui tautan berikut ini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *