Bismillah.
Pagi ini seperti biasanya beberapa bapak-bapak dengan khidmat mengikuti pelajaran bahasa Arab dasar pekanan dengan kitab al-Muyassar di Masjid Jami’ al-Mubarok (MJM). Kelas ini belum lama mulai sekitar 1 atau 2 bulan, masih membahas bagian-bagian awal seputar i’rob dan tanda-tandanya.
Sesuatu yang menurut kami istimewa adalah yang hadir dalam pelajaran ini rata-rata sudah senior alias sepuh dari sisi umur. Kebanyakan sudah di atas 50 tahun. Mereka jauh-jauh dari rumahnya datang ke MJM untuk ikut belajar ilmu bahasa Arab dasar. Hal ini menunjukkan semangat dan antusiasme yang besar di dalam diri mereka, semoga Allah menjaga mereka…
Pelajaran ilmu kaidah bahasa Arab atau nahwu memang butuh berpikir lebih serius, tidak seperti majelis pengajian umum yang pesertanya bisa bermodal jiping/ngaji kuping alias sekedar mendengar dengan telinga. Dalam pelajaran bahasa Arab ini peserta harus membawa kitab dan menyimak, kalau perlu mencatat faidah atau makna yang perlu dicatat.
Setelah selesai pelajaran tadi, ada seorang bapak yang sudah sepuh -usianya sudah 60 tahun lebih- bertanya perihal hadits dho’if/hadits yang lemah. Apakah hadits lemah itu bisa digunakan untuk landasan ibadah. Beliau juga bertanya tentang amalan sehari-hari seperti sholat sunnah sebelum ashar dan sebelum maghrib. Diantara peserta yang lain juga ada diskusi yang cukup hangat, hal ini menggambarkan bahwa latar-belakang bapak-bapak ini beragam. Tidak semuanya dari circle yang homogen.
Secara umur, pengajar kelas bahasa Arab ini tentu jauh lebih muda, begitu juga dari sisi pengalaman hidup tentu bapak-bapak itu lebih banyak makan asam garam kehidupan. Meskipun demikian, mereka tidak segan untuk belajar dan bertanya dalam ilmu agama ini kepada orang/pengajar yang lebih muda. Dialog yang terjadi cukup hangat dan diselingi dengan tawa dan guyonan, menunjukkan bahwa bapak-bapak itu berusaha untuk menjaga suasana tetap cair dan tidak kaku.
Dari obrolan santai pagi ini setidaknya kami bisa mengambil pelajaran bahwa dibutuhkan kesadaran dan kerendahan hati untuk bisa istiqomah hadir dan melazimi majelis ilmu. Bapak-bapak tersebut adalah diantara contoh bahwa umur yang tua bukan alasan untuk lemah semangat dalam mengaji. Maka bagi anak muda semestinya semangat belajar Islam itu lebih digenjot dan dikembangkan…
Beberapa waktu belakangan ini sejak masa pandemi 2020 sering terangkat pembicaraan di kalangan para pegiat dakwah bahwa semangat menimba ilmu agama di kalangan pemuda secara khusus dan masyarakat secara umum banyak mengalami penurunan. Karakter gen Z yang dianggap kurang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup sering menjadi sorotan. Opini ini juga kami dengar dari seorang dosen universitas negeri terkenal di Jogja yang ikut belajar bahasa Arab di majelis yang berbeda di tempat yang sama yaitu di Masjid Jami’ al-Mubarok.
Thoyyib, bisa dikatakan bahwa kondisi dakwah di lapangan pada hari ini sudah jauh berbeda dengan masa 10 atau 20 tahun yang lalu. Semangat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa gelombang perubahan besar di tengah dunia pendidikan dan dakwah Islam. Orang-orang di kampung pun sudah banyak yang akrab dengan media sosial.
Akan tetapi satu hal yang patut untuk kita cermati; bahwa keadaan tradisi dan pola pikir kebanyakan orang yang sudah terjebak dalam tatanan tradisi leluhur dan ditokohkan tidak jauh berbeda. Pada hari-hari ini kita masih saja mendengar orang yang datang jauh-jauh untuk ngalap berkah dari sesaji dalam acara labuhan atau semacamnya. Persembahan kepada jin penunggu laut dan gunung masih saja dilestarikan dengan alasan kearifan lokal dan warisan budaya. Fenomena ini tidak terjadi di hutan atau daerah pelosok yang jauh dari pusat pendidikan. Justru ia terjadi di daerah yang dikenal sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan yang memiliki banyak perguruan tinggi.
Banyak orang membicarakan krisis kesehatan mental, sementara di sisi lain ternyata krisis aqidah dan pelemahan tauhid terus saja terjadi dan dipertahankan oleh sebagian kalangan. Apa yang kita lihat dan alami pada hari ini mencerminkan bahwa perubahan masyarakat menuju terwujudnya negeri yang baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofuur itu bukanlah perkara sepele seperti membalikkan telapak tangan. Tidak semudah mencari harga dan tipe hape di mesin pencari sepeti Google.
Perubahan negeri ini harus dimulai dari pribadi dan akar umat. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa-apa yang ada pada dirinya sendiri.” (ar-Ra’d : 11). Khalifah Umar radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam pastilah Allah akan merendahkan kami.” (HR. Hakim dalam al-Mustadrak)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari bapak-bapak itulah kita bisa mengambil hikmah bahwa belajar ilmu agama merupakan pondasi dan titik awal perubahan umat menuju kejayaan Islam. Semakin jauh umat ini dari majelis ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah maka semakin jauh pula gerbang kejayaan yang didambakan… Wallahu a’lam.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar