Bismillah.

Diantara faidah yang terkandung di dalam risalah Ushul Tsalatsah adalah penjelasan tentang tarbiyah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Para ulama menjelaskan, bahwa ada 2 jenis tabiyah dari Allah kepada hamba; ada tarbiyah yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Tarbiyah yang umum ini diberikan kepada semua manusia; yang beriman maupun yang kafir. Tarbiyah umum ini berupa nikmat dan segala faslitas hidup di alam dunia.

Adapun tarbiyah yang khusus diberikan hanya untuk kaum beriman; berupa bimbingan iman, amal salih, dan taufik untuk mencapai segala kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. Demikian makna keterangan dari Syaikh as-S’idi rahimahullah dalam Tafsirnya.

Allah adalah rabb; pencipta, pengatur dan penguasa seluruh alam. Allah juga menjadi murabbi/yang mentarbiyah; memelihara dan menjaga alam semesta ini dengan nikmat-nikmat-Nya. Diantara bentuk tarbiyah dan rububiyah Allah kepada manusia adalah dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab yang menunjukkan kepada manusia tata-cara beribadah kepada Rabbnya.

Diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab merupakan bagian dari konsekuensi rububiyah Allah dan tuntutan dari rahmat-Nya. Allah adalah ar-Rahman dan ar-Rahim; yang memiliki sifat kasih sayang yang begitu luas. Allah jauh lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.

Sebagaimana Allah menjaga alam semesta ini dengan adanya air, udara, dan segala faktor yang menunjang kehidupan jasmani umat manusia dan makhluk yang lainnya, maka Allah juga menjaga perjalanan hidup manusia dengan mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab. Karena itulah Allah turunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi segenap manusia. Akan tetapi yang mau mengikuti dan diberi taufik untuk konsisten berpegang-teguh dengannya hanyalah orang-orang yang beriman. Oleh sebab itu Allah sebut bahwa al-Qur’an ini menjadi hudan/petunjuk bagi orang-orang yang muttaqin/bertakwa.

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah pun membawakan dalil yang menunjukkan bahwa Allah sebagai Rabb dan yang pantas untuk disembah yaitu firman Allah (yang artinya), “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (al-Fatihah : 1). Kemudian beliau berkata : “Segala sesuatu selain Allah adalah alam, dan aku termasuk salah satu bagian dari alam ini.”

Karena hanya Allah yang menjadi rabb bagi alam ini maka tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Hal ini disebut oleh para ulama dengan ungkapan; tauhid rububiyah merupakan dalil untuk menetapkan tauhid uluhiyah. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa tauhid rububiyah merupakan dalil terbesar untuk mewajibkan manusia beribadah kepada Allah semata/bertauhid uluhiyah.

Adapun tauhid rububiyah -yaitu keyakinan Allah sebagai pencipta dan penguasa alam- tidaklah cukup jika tidak disertai dengan tauhid uluhiyah; yaitu mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah. Tauhid uluhiyah inilah yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi dalam keterangan terdahulu yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Artinya kita menujukan sholat, sembelihan, doa, nadzar dan ibadah-ibadah yang lain murni kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk sesembahan selain-Nya.

Oleh sebab itu setiap rasul berkata kepada kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan -yang benar- selain-Nya.” Mereka juga menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Simak seri faidah terdahulu melalui tautan berikut ini : [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *