Bismillah.
Diantara pelajaran yang penting dari risalah Ushul Tsalatsah adalah mengenai dalil dan makna kalimat syahadat.
Penulis rahimahullah berkata :
فدليل الشهادة قوله تعالى: شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [آل عمران:18]، ومعناها: لا معبودَ بحقٍّ إلا الله وحده.
Dalil syahadat yaitu firman Allah (yang artinya), “Allah telah bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- kecuali Dia, dan para malaikat serta orang-orang berilmu juga bersaksi, demi tegaknya keadilan. Tiada ilah/sesembahan -yang benar- selain Dia; Yang Maa Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imran : 18)
Dan makna kalimat syahadat itu adalah ‘tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah semata.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan :
معنى قولك “لا إله” تنفي جميع العبادة لغير الله، وقولك “إلا الله” تُثبت العبادة لله وحده، وأنه ليس له شريك: لا ملك، ولا نبي مرسل، ولا صنم، ولا غير ذلك، بل العبادة حقّه
Makna ucapanmu ‘tidak ada ilah’ adalah anda menolak segala bentuk ibadah kepada selain Allah, dan ucapanmu ‘kecuali Allah’ merupakan penetapan bahwa ibadahmu ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh ada sekutu bagi-Nya; baik itu berupa malaikat, nabi utusan, patung ataupun yang lainnya. Bahkan ibadah itu adalah hak Allah saja… (lihat penjelasan beliau dalam Dars Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah [klik])
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah menjelaskan :
أي أن كل معبود سوى الله باطل.
فآلهة المشركين معبودة بغير حق، فهي باطلة، قال تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ﴾
Artinya bahwa segala bentuk sesembahan selain Allah adalah batil/keliru, maka semua sesembahan kaum musyrik (selain Allah, pent) adalah batil. Allah berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah Dia lah -sesembahan- yang benar, sedangkan apa-apa yang mereka seru selain-Nya adalah batil.” (al-Hajj : 62) (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh Syaikh al-Barrak [klik])
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Adapun segala yang mereka seru selain Allah adalah batil; yaitu patung, tandingan, berhala, dan segala sesuatu yang disembah selain Allah maka itu adalah [sesembahan yang] batil; karena ia tidak menguasai kemanfaatan maupun madharat barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/449])
Kalimat laa ilaha illallah mengandung konsekuensi tidak mengangkat ilah/sesembahan selain Allah. Sementara ilah adalah Dzat yang ditaati dan tidak didurhakai, yang dilandasi dengan perasaan takut dan pengagungan kepada-Nya. Dzat yang menjadi tumpuan rasa cinta dan takut, tawakal, permohonan, dan doa. Dan ini semuanya tidak pantas dipersembahkan kecuali kepada Allah ‘azza wa jalla. Barangsiapa yang mempersekutukan makhluk dengan Allah dalam masalah-masalah ini -yang ia merupakan kekhususan ilahiyah- maka hal itu merusak keikhlasan dan kemurnian tauhidnya. Dan di dalam dirinya terdapat bentuk penghambaan kepada makhluk sesuai dengan kadar ketergantungan hati kepada selain-Nya. Dan ini semuanya termasuk cabang kemusyrikan (lihat Kitab at-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 49-50 karya Imam Ibnu Rajab rahimahullah)
Dengan demikian, seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah wajib mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah dan mengingkari segala yang disembah selain Allah, maka terjaga harta dan darahnya. Adapun hisabnya adalah urusan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim dari Thariq bin Asy-yam radhiyallahu’anhu)
Adapun orang yang mengucapkan laa ilaha illallah tetapi tidak mengingkari sesembahan selain Allah atau berdoa kepada wali dan orang-orang salih [yang sudah mati] maka tidak bermanfaat baginya ucapan laa ilaha illallah. Karena hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu saling menafsirkan satu sama lain. Tidak boleh mengambil sebagian hadits dan meninggalkan sebagian yang lain (lihat Syarh Tafsir Kalimat at-Tauhid, hal. 12)
Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’ mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan : Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila.” (ash-Shaffat : 35-36)
Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kandungan dan konsekuensi kalimat laa ilaha illallah yaitu wajibnya menyingkirkan segala bentuk syirik dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh karena itu mereka menolak dakwah tauhid (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyun al-Muwahhidin, hal. 7)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Tulisan ini adalah seri ke-38 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’
Silakan membaca seri terdahulu di tautan berikut ini [klik]
0 Komentar