Seri Faidah Kitab Tauhid [5]
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kami bisa menyajikan salah satu rekaman kajian bersama Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz bin Utsman Sindi hafizhahullah.
Yang dimaksud yaumud diin adalah hari pembalasan dan hisab/penghitungan. Demikian keterangan dari Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam kitabnya Min Kunuz al Qur’an al-Karim (lihat dalam Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 1/151)
Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah pernah ditanya :
لو سمحتم أن توضحوا مسألة: ارتكاب المعاصي وترك الواجبات لا يسلم من شوب شرك؟
Kalau sekiranya anda berkenan mohon jelaskan perkara : bergelimang maksiat dan meninggalkan kewajiban itu tidak terlepas dari bercak/noda kesyirikan?
Sesungguhnya ilmu yang terpuji di dalam al-Kitab dan as-Sunnah yang mana akan dipuji ilmu tersebut dan juga bagi pemiliknya adalah ilmu syari’at. Ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap pujian yang disebutkan di dalam al-Kitab dan as-Sunnah terhadap ilmu dan para pengembannya maka yang dimaksud adalah ilmu syari’at. Yaitu ilmu al-Kitab dan as-Sunnah serta fikih/pemahaman terhadap agama ini (lihat keterangan Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam Kutub wa Rasa’il, 5/9)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata :
Ketahuilah -semoga Allah Membimbingmu untuk taat kepada-Nya dan Meliputimu dengan penjagaan-Nya serta Menjadi penolongmu di dunia dan di akhirat- bahwa sesungguhnya maksud dari sholat, ruh, dan intinya itu adalah menghadapnya hati kepada Allah ta’ala di dalamnya.
Bismillah.
Sebagaimana sudah dipaparkan dalam beberapa seri tulisan sebelumnya, bahwa di awal Kitab Tauhid ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan ayat-ayat yang menunjukkan makna tauhid dan kedudukannya di dalam Islam.
Doa ada dua macam; doa ibadah dan doa permintaan. Doa ibadah adalah sanjungan kepada Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, dan nikmat-nikmat yang telah dicurahkan oleh-Nya. Adapun doa permintaan (doa mas’alah) adalah memohon berbagai macam kebutuhan kepada Allah.
Sebagian kalangan mengira bahwa wali Allah adalah orang yang memiliki keanehan-keanehan semacam bisa terbang di udara, bisa berjalan di atas air, atau kebal senjata.
Bismillah.
Setelah membawakan ayat ke-56 dari surat adz-Dzariyat, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan ayat ke-36 dari surat an-Nahl.