Bismillah.

Diantara keisitimewaan bulan Ramadhan adalah bahwa pada bulan ini kaum muslimin ditempa untuk menjadi pribadi yang sabar. Sabar itu memiliki cakupan yang luas; termasuk di dalamnya dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Termasuk bentuk kesabaran adalah sabar dalam menghadapi musibah atau hal-hal yang tidak menyenangkan.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, bahwa beliau berkata, “Sabar di dalam iman seperti kepala di dalam sebuah tubuh. Apabila kepala itu putus maka tubuh itu menjadi mati. Ketahuilah, bahwa tidak ada iman pada orang yang tidak punya kesabaran.”

Puasa adalah bentuk kesabaran. Sabar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Sabar menjaga lisan dari mengucapkan kata-kata yang kotor atau merusak hubungan sesama muslim. Ini juga bentuk kesabaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama juga menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari 2 bagian; sabar dan syukur. Sabar ketika tertimpa hal-hal yang tidak mengenakkan. Dan bersyukur ketika diberi nikmat dan kebaikan. Para rasul pilihan yang digelari sebagai ulul ‘azmi adalah orang-orang yang memiliki tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Tidakkah kita ingat bagaimana Nabi Nuh ‘alaihis salam -yang juga termasuk ulul ‘azmi- bersabar dalam mendakwahi kaumnya selama 950 tahun dan tiada yang beriman bersamanya kecuali sedikit.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang besar selalu memiliki sifat dan karakter sabar. Bulan Ramadhan adalah sarana untuk mendidik jiwa agar lebih kuat bersabar dengan berbagai perintah Allah; baik itu sholat, puasa, dzikir, sedekah, membaca al-Qur’an, membantu sesama, i’tikaf, dsb. al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam ketaatan dan sabar menjauhi perkara yang diharamkan lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)

Hal ini juga mengisyaratkan bahwa kesabaran menjadi salah satu ciri khas kaum yang bertakwa. Karena ketakwaan itu menggabungkan antara pelaksanaan perintah dan menjauhi larangan. Oleh sebab itu Allah sediakan surga bagi orang yang bertakwa, dan Allah perintahkan penduduk surga masuk ke dalam surga disebabkan kesabaran mereka. Oleh sebab itu tidak heran jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang diberikan suatu anugerah yang lebih baik dan lebih lapang daripada sabar.” (HR. Muslim)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *