Bismillah.

Orang-orang yang besar diciptakan dan hadir dalam perjalanan sejarah dengan perjuangan dan cobaan. Allah telah menggariskan petunjuk dan bimbingan yang bermanfaat bagi umat manusia. Kitab-kitab telah diturunkan, para rasul pun diutus untuk mengajak manusia menyadari hakikat kehidupan.

Kita hidup dengan membawa misi besar umat manusia; untuk mewujudkan penghambaan sepenuhnya kepada Allah. Bukan karena Allah membutuhkan kita. Akan tetapi kita yang membutuhkan ibadah dan ketaatan kepada Allah sebagai kunci dan jalan utama untuk meraih kebahagiaan.

Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Mewujudkan amal yang terbaik tidak cukup dengan niat baik; tetapi harus diikat dengan kesetiaan kepada ajaran Rasul. Beliau telah memberikan teladan terbaik bagi manusia yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan takut akan hari akhir.

Kehidupan di alam dunia bukanlah medan untuk berfoya-foya, menebar kekejaman, membangun kejayaan semu dan melupakan hari pembalasan. Akan ada hari pembalasan, kebangkitan setelah kematian dan penimbangan atas amal perbuatan dan kesalahan. Setiap orang akan menerima catatan amalnya; catatan yang tidak meluputkan perkara yang kecil dan besar kecuali ia catat dengan lengkap.

Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Oleh sebab itu seorang muslim dalam kehidupan dunia menjadikan amal salihnya sebagai bahtera, dan dunia ini ia jadikan laksana samudera. Badai kehidupan, gelombang cobaan dan tekanan tidak boleh membuatnya menyerah. Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka ditinggalkan mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka dalam keadaan tidak diuji…” (al-Ankabut : 2)

Kaum muslimin telah diberikan petunjuk untuk mengemban tugas besar di muka bumi ini dengan pesan al-Kitab dan as-Sunnah. Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah sebuah kaum yang telah Allah muliakan dengan ajaran Islam ini; maka kapan saja kami berusaha mencari kemuliaan dengan selain cara Islam; pasti Allah akan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Kemuliaan itu adalah milik Allah, rasul-Nya, dan kaum beriman. Oleh sebab itu umat Islam berjuang untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah dari segala kotoran syirik dan kemunafikan. Berupaya untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama; menuju penghambaan kepada Rabb penguasa jagad raya. Inilah bentuk keadilan terbesar di alam semesta; mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif/bertauhid, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)

Ibadah kepada Allah mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah; yang lahir dan yang batin. Ibadah kepada Allah memadukan antara puncak kecintaan dan puncak perendahan diri. Ibadah kepada Allah ditopang oleh amalan-amalan hati; takut, cinta dan harapan. Ibadah kepada Allah tegak di atas tauhid dan keikhlasan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Oleh sebab itulah Allah perintahkan nabi-Nya untuk menegakkan penghambaan hingga ajal tiba. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan/kematian.” (al-Hijr : 99). Sebagaimana Allah juga memerintahkan agar kita tidak meninggal kecuali dalam keadaan memeluk Islam. Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya; tidaklah ada seorang pun yang mendengar kenabianku dari umat ini; apakah dia beragama Yahudi atau Nasrani kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa, melainkan dia pasti termasuk golongan penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Inilah kebenaran yang akan terus kita serukan; walaupun banyak orang yang tidak suka! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang taat kepadaku (rasul) maka masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia lah orang yang enggan masuk surga.” (HR. Bukhari)

Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa’ : 80). Allah juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman; niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih, dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam; dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115)

Dari sinilah kita bisa mengenali letak penting takwa dalam hati dan kehidupan manusia. Tanpa takwa manusia hanya akan bertingkah laksana binatang; bahkan lebih keji dan lebih rendah darinya. Takwa itulah sebaik-baik bekal untuk menyambut masa depan. Orang yang bahagia hanyalah yang bertakwa. Dengan sebab takwa itu pula Allah akan berikan jalan keluar bagi permasalahan dan kesulitan hamba. Bahkan dengan sebab takwa pula Allah akan berikan kepadanya rezeki dari jalan dan arah yang tidak dia sangka-sangka.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *