Bismillah.

Allah berfirman :

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَن مِّن بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ

“Betapa banyak penduduk negeri yang telah Kami binasakan; yang mereka itu telah bersenang-senang dalam penghidupannya, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak lagi didiami setelah mereka kecuali sebagian kecil saja, dan adalah Kami (Allah) yang mewarisinya.” (al-Qashash : 58)

Imam al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan ungkapan ‘tidak lagi didiami setelah mereka kecuali sebagian kecil’ :

فتلك مساكنهم لم يسكنها إلا المسافرون ومن مر بالطريق يوما أو بعض يوم أي لم تسكن من بعدهم إلا سكونا قليلا

“Itulah tempat tinggal mereka dahulu yang tidak ada lagi orang yang mendiaminya kecuali para musafir atau orang yang lewat/singgah di perjalanan sehari atau sebagian hari saja. Artinya tempat-tempat itu tidak lagi ditinggali kecuali sebentar saja.” (lihat Tafsir al-Qurthubi Surat al-Qashash [klik])

Ayat ini merupakan ancaman dari Allah kepada umat manusia yang tidak mau tunduk beriman kepada para rasul bahwa Allah akan menimpakan kepada mereka bencana sebagaimana telah ditimpakan bencana itu kepada umat-umat terdahulu yang kufur terhadap nikmat Allah dan tenggelam dalam kelalaian sehingga Allah pun menghancur-leburkan negeri mereka. Allah ganti keamanan yang mereka rasakan dengan rasa takut. Allah ganti kemuliaan yang mereka raih dengan kehinaan. Allah gantikan kekayaan mereka dengan kemiskinan (lihat penjelasan Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman tafsir Surat al-Qashash [klik])

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ungkapan ‘dan Kami lah yang mewarisinya’ :

أي : رجعت خرابا ليس فيها أحد 

“Artinya negeri mereka itu hancur sehingga tidak ada lagi penduduknya.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir [klik])

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi siapa saja; bahwa kenikmatan yang Allah berikan kepada kita wajib untuk disyukuri dan bentuk syukur yang terbesar adalah dengan tunduk kepada ajaran para Rasul dengan mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya. Apabila nikmat itu tidak digunakan sebagaimana mestinya atau disalahgunakan maka Allah tidak segan-segan untuk menurunkan azab-Nya, wal ‘iyadzu billaah

Dari sini kita pun bisa memetik hikmah, bahwa kemajuan suatu negeri tidaklah diukur dengan pesatnya perkembangan teknologi, tingginya kekayaan ekonomi, luasnya kekuasaan teritorial dan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, tidak pula dengan banyaknya alumni universitas dan lembaga pendidikan tinggi; akan tetapi tolok ukur kemajuan yang hakiki adalah sejauh mana mereka beriman dan bertakwa kepada Allah…

Semoga Allah berikan taufik kepada para pemimpin kaum muslimin…

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *