Bismillah.
Diantara pelajaran penting dari risalah Ushul Tsalatsah adalah mengenal berbagai bentuk ibadah yang Allah perintahkan kepada kita untuk dimurnikan untuk-Nya. Karena ibadah adalah hak Allah; tiada yang berhak mendapatkannya kecuali Allah. Di sini lah letak pentingnya mengenali berbagai macam jenis ibadah itu.
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah berkata :
وَأَنْوَاعُ الْعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا، مِثْلُ الإِسْلامِ وَالإِيمَانِ وَالإِحْسَانِ، وَمِنْهُ الدُّعَاءُ، وَالْخَوْفُ، وَالرَّجَاءُ، وَالتَّوَكُّلُ، وَالرَّغْبَةُ، وَالرَّهْبَةُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَشْيَةُ، وَالإِنَابَةُ، وَالاسْتِعَانَةُ، وَالاسْتِعَاذَةُ، وَالاسْتِغَاثَةُ، وَالذَّبْحُ، وَالنَّذْرُ، وَغَيْرُ ذَلَكَ مِنْ العبادة التي أمر الله بها،
كلها لله، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً}
Macam-macam ibadah yang Allah perintahkan diantaranya adalah islam, iman, dan ihsan. Termasuk di dalamnya adalah berdoa, takut, berharap, tawakal, roghbah, rohbah, khusyu’, khosy-yah, inabah, isti’anah, isti’adzah, istighotsah, menyembelih, bernadzar dan lain sebagainya dari ibadah yang Allah perintahkan; semuanya harus ditujukan kepada Allah. Dalilnya firman Allah (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Allah maka janganlah kalian berdoa/beribadah bersama dengan Allah ada yang lain; siapa pun itu.” (al-Jin : 18)
Ibadah -sebagaimana telah diterangkan para ulama- mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah; berupa ucapan dan perbuatan; yang batin/tersembunyi dan yang lahir/tampak. Di dalam risalah ini penulis ingin menunjukkan kepada kita berbagai bentuk ibadah. Diantaranya yang paling utama adalah islam, iman, dan ihsan; tiga hal yang akan diterangkan secara rinci pada bagian berikutnya dari risalah ini.
Kemudian beliau pun menyebutkan berbagai contoh ibadah yang lain dan nanti beliau juga akan membawakan dalil-dalilnya. Dan di bagian akhir paragraf ini beliau ingin menekankan bahwa segala bentuk ibadah itu harus dipersembahkan untuk Allah saja, tidak kepada selain-Nya. Oleh sebab itu ibadah itu pada hakikatnya telah mencakup agama ini secara keseluruhan (lihat Hushul al-Mamul bi Syarh Tsalatsah al-Ushul [klik])
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
وكل ما أمر الله به عبادة، فالواجب على المسلمين إخلاصها لله وحده، فلا يدعوا مع الله الأنبياء، ولا الأولياء، ولا الأصنام، ولا الأشجار، ولا الأحجار، ولا النجوم؛ لأنَّ العبادة حقٌّ لله وحده
“Segala yang diperintahkan oleh Allah adalah ibadah, maka wajib bagi kaum muslimin untuk memurnikannya untuk Allah semata, sehingga tidak boleh dia berdoa bersama dengan Allah dia juga beribadah/berdoa kepada nabi, atau wali, atau patung, atau pohon, atau batu, atau bintang-bintang. Karena ibadah adalah hak Allah semata.” (lihat Transkrip Pelajaran Syarh Ushul Tsalatsah Yang Pertama [klik])
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah menjelaskan :
والعبادة أنواع كثيرة:
منها أعمال قلبية: مثل: الخوف والرجاء والتوكل والرغبة والرهبة والخشية.
ومنها أعمال ظاهرة: وهي: أعمال الجوارح؛ كالاستعانة والاستعاذة والاستغاثة والذبح والنذر، ومنها: الركوع والسجود والصيام والحج والجهاد، وهناك أنواع أخرى، وإنما ذكر الشيخ هذه على سبيل المثال
“Ibadah itu mencakup banyak jenis, ada yang berupa amalan hati seperti takut, harapan, tawakal, roghbah, rohbah, khosy-yah. Ada juga yang berupa amalan lahiriah yaitu amal anggota badan seperti isti’adzah, istighotsah, menyembelih, nadzar. Ada juga ruku’, sujud, puasa, haji dan jihad. Ada juga amal-amal yang lain. Syaikh menyebutkan ini semuanya dalam rangka memberikan contoh…” (lihat Syarh Ushul Tsalatsah al-Barrak [klik])
Allah berfirman :
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah; maka janganlah kalian menyeru/beribadah bersama dengan Allah siapa pun juga.” (al-Jin : 18)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :
يقول تعالى آمرا عباده أن يوحدوه في مجال عبادته ، ولا يدعى معه أحد ولا يشرك به
“Allah berkata memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mentauhidkan-Nya dalam segala bentuk ibadah, sehingga tidak boleh diseru/diibadahi siapa pun bersama-Nya, tidak boleh Allah dipersekutukan…” (lihat Tafsir Ibnu Katsir dari website KSU [klik])
Qatadah rahimahullah menjelaskan :
كانت اليهود والنصارى إذا دخلوا كنائسهم وبِيَعهم أشركوا بالله، فأمر الله نبيه أن يوحد الله وحده.
“Dahulu orang Yahudi dan Nasrani apabila masuk ke dalam gereja dan biara mereka pun mempersekutukan Allah, maka Allah perintahkan kepada nabi-Nya untuk mentauhidkan Allah semata.” (disebutkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsirnya, dikutip dari website KSU [klik])
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa yang dimaksud ‘doa’ di dalam ayat tersebut mencakup segala bentuk ibadah. Inilah yang biasa disebut dengan istilah doa ibadah. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa doa merupakan bentuk ibadah yang paling agung dan paling mencakup. Wallahu a’lam.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah menjelaskan :
دعاءُ العبادةِ: الصلاةُ والصيامُ وسائرُ الطاعات هي كلُّها مِن دعاءِ العبادة، ودعاءُ المسألة: هي التي فيها: “اللهمَّ اغفرْ لي، اللهمَّ ارزقني، اللهمَّ أصلح لي، اللهمَّ يسِّر أمري”، هذا اسمُه: “دعاء مسألة”، دعاء العبادة أعمُّ مِن دعاءِ المسألة.
“Doa ibadah seperti sholat, puasa, dan segala bentuk ketaatan. Ini semuanya disebut dengan istilah doa ibadah. Adapun doa mas’alah/permintaan adalah yang di dalamnya terdapat ucapan seperti ‘Allahummaghfirlii’, ‘Allahummarzuqnii’. ‘Allahumma ashlih lii’, ‘Allahumma yassir amrii’ (yaitu doa yang berisi permohonan secara khusus, pent); ini disebut dengan istilah doa mas’alah/permohonan. Sehingga doa ibadah lebih umum daripada doa mas’alah…” (lihat transkrip pelajaran Tafsir as-Sa’di Surat al-Jin oleh Syaikh al-Barrak [klik])
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Tulisan ini adalah seri ke-22 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’.
Silakan membaca seri tulisan terdahulu dalam tautan berikut ini [klik]
0 Komentar