Akibat Kebodohan

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata :

Salah satu bentuk bid’ah yang dilakukan orang adalah berbagai perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi (maulid nabi). Maka itu termasuk bid’ah. Tidak ada dalilnya dari al-Kitab dan as-Sunnah maupun petunjuk para khulafa’ur rasyidin, dan bukan berasal dari petunjuk generasi yang diutamakan (salafus shalih, pent) dimana mereka itu adalah generasi-generasi yang telah dipersaksikan kebaikannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sesungguhnya perbuatan itu -perayaan maulid, pent- diada-adakan setelah berlalunya generasi paling utama ini. Yaitu ketika kebodohan merajalela. Dan yang pertama kali menciptakan maulid ini adalah kaum Syi’ah Fathimiyun, kemudian diikuti oleh orang-orang yang terkecoh dari kalangan orang-orang yang menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah dengan alasan niat baiknya. Mereka beranggapan bahwa hal itu termasuk bentuk kecintaan kepada Rasul. Padahal itu bukanlah bagian dari kecintaan kepada beliau. Sesungguhnya kecintaan yang sejati adalah dengan cara ittiba’/mengikuti sunnah/ajarannya, bukan dengan membuat-buat bid’ah.

(lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala Matn al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 175-176)

Mari Kita Renungkan Bersama

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang indah (uswah hasanah) yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (al-Ahzab : 21)

Muhammad bin ‘Ali at-Tirmidzi rahimahullah mengatakan, “Beruswah kepada rasul maksudnya adalah meneladani beliau, mengikuti sunnah/ajarannya, dan meninggalkan tindakan yang menyelisihinya baik berupa ucapan maupun perbuatan.” (lihat asy-Syifaa, hal. 479)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnah/ajaranku, dan juga Sunnah para khulafa’ur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang-teguhlah kalian dengannya. Dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan -dalam agama, pent- karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dll dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bersikap sederhana/pertengahan di dalam Sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam bid’ah.” (lihat asy-Syifaa, hal. 486)

Allah berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi dari perintah/ajaran rasul itu, karena mereka akan tertimpa suatu fitnah/malapetaka, atau akan menimpa mereka azab yang sangat pedih.” (an-Nuur : 63)

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran : 31)

Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu berkata -sambil melihat Hajar Aswad-, “Demi Allah!Sesungguhnya kamu ini adalah batu, tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat. Kalaulah bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu maka niscaya aku pun tidak akan menciummu.” (lihat asy-Syifaa, hal. 487)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.