Bismillah.
Dalam sebuah hadits dari jalur Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ما ذِئبانِ جائعانِ أُرْسِلا في غنَمٍ ، بأفسدَ لَها من حِرصِ المَرءِ علَى المالِ والشَّرَفِ لدينِهِ
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar lalu dilepaskan di tengah kerumunan kambing/domba lebih merusak daripada ambisi seorang manusia terhadap harta dan kedudukan sehingga hal itu pun mencederai agamanya.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Syaikh Ahmad Hathibah menjelaskan maksudnya :
يعني: يحرص على المال وعلى الشرف فيفسد دينه بحرصه ذلك
“Bahwa karena ambisinya terhadap harta dan kedudukan/jabatan maka seorang pun nekad merusak agamanya disebabkan ambisinya tersebut.” (lihat Syarh at-Targhib wa at-Tarhib [buka])
Syaikh Khalid as-Sabt menjelaskan :
يفسد الدين أعظم من إفساد ذلك الذئب لتلك الغنم
“Ambisinya itu merusak agama dengan dampak yang jauh lebih merusak daripada kerusakan yang timbul dari keganasan seekor serigala terhadap domba-domba.” (lihat Transkrip Muhadharah Maa Dzii’baani [buka])
Hadits yang agung di atas mengandung peringatan bagi kita untuk menjauhi keburukan yaitu berambisi/rakus terhadap harta dan kedudukan/pangkat dan jabatan karena hal itu akan merusak agama dengan kerusakan yang sangat mengerikan. Banyak orang rela ‘menjual’ agamanya demi mengejar kedudukan dan harta. Sungguh ini adalah perkara yang sangat membahayakan bagi kita. Lebih membahayakan daripada ganasnya 2 ekor srigala lapar di tengah gerombolan domba…
Hal itu memberikan pelajaran bagi kita pentingnya menjaga niat dan keikhlasan dalam beramal. Diantara godaan yang sering merusak keikhlasan adalah ambisi terhadap kedudukan/jabatan dan ambisi kepada kesenangan/harta benda dunia. Termasuk dalam hal ini adalah keinginan untuk selalu tampil dan terkenal serta dieluk-elukkan oleh manusia. Gila popularitas atau haus validasi, kata orang sekarang.
Di zaman seperti sekarang ini ketika semua orang bisa tampil dengan mudah di media sosial serta berbicara dan berkomentar dalam segala urusan maka celah untuk menjerumuskan manusia ke dalam penyimpangan ini sangat besar dan sangat membahayakan. Mungkin dia menyangka bahwa apa yang dia lakukan sebagai kebaikan dan jasa padahal sesungguhnya yang dia perbuat adalah mengorbankan agamanya demi mengejar serpihan fatamorgana yang bernama kedudukan, popularitas, jabatan, followers, atau kemewahan duniawi…
Apabila hal ini telah jelas bagi kita, maka belajar dan mendalami tentang ikhlas dan amalan hati adalah sesuatu yang sangat urgen sekarang ini. Ini adalah kewajiban kita, sebuah kewajiban yang lebih besar daripada sekedar amalan-amalan lahiriah. Hal ini mengingatkan kita tentang hadits innamal a’maalu bin niyaat yang dicantumkan oleh Imam Bukhari rahimahullah (wafat 256 H) di bagian awal kitab Sahihnya yang berisi ribuan hadits itu.
Abdullah ibnul Mubarok rahimahullah seorang ulama tabi’in mengatakan, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niatnya.” Sebagian salaf juga berkata, “Tidaklah aku berjuang dengan perjuangan yang lebih berat melebihi perjuangan untuk menuju keikhlasan.” Para ulama kita pun telah menegaskan bahwa amal-amal itu berbeda-beda tingkat keutamaannya di sisi Allah sesuai dengan apa-apa yang ada di dalam hati pelakunya berupa iman dan keikhlasan.
Dari sinilah maka seyogyanya setiap muslim kembali memeriksa isi hatinya; apakah benar yang dia cari dengan amalnya itu adalah pahala di sisi Allah dan kenikmatan surga, ataukah sesungguhnya dia sedang menunggangi simbol-simbol agama demi meraih ambisi-ambisi duniawi dan ketenaran belaka?
Kita memohon kepada Allah taufik dan keselamatan…
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar