Bismillah.

Alhamdulillah pada kesempatan ini kita kembali dimudahkan untuk melanjutkan seri pelajaran dari kitab al-Qawa’id al-Arba’ (empat kaidah dalam aqidah) karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H)

Beliau berkata :

والشفاعة شفاعتان: شفاعة منفيّة وشفاعة مثبَتة:

فالشفاعة المنفيّة ما كانت تٌطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلاّ الله، والدليل: قوله –تعالى-: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ} [البقرة:٢٥٤]

Syafaat itu adalah 2 macam; syafa’at yang ditolak dan syafa’at yang ditetapkan/diterima. Syafaat yang ditolak adalah yang diminta kepada selain Allah dalam hal-hal yang hanya dikuasai oleh Allah. Dalilnya firman Allah (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang tidak ada lagi jual-beli, tidak ada khullah/kasih-sayang dan kecintaan dan tidak pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah : 254)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan :

وخلاصة القول: أن الشفاعة المنفية هي التي تطلب بغير إذن الله، أو تطلب لمشرك

“Kesimpulan pembahasannya adalah bahwa syafaat yang ditolak itu adalah yang diminta tanpa izin dari Allah atau diminta untuk diberikan kepada orang musyrik.” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh beliau, dikutip dari Maktabah Syamilah [klik])

Syaikh Abdurrahman al-Barrak hafizhahullah menjelaskan :

فعندهم أن الشفاعة عند الله كالشفاعة عند المخلوق، يعتقدون أن الأولياء والملائكة يشفعون عند الله كما يشفع وزير الملك عند الملك، والصديق عند صديقه، وقد نفى الله هذه الشفاعة

“Menurut mereka/orang-orang musyrik bahwa syafaat di sisi Allah itu sama dengan syafaat di sisi makhluk. Mereka meyakini bahwa para wali dan malaikat bisa memberikan syafaat di sisi Allah sama persis dengan menteri yang memberi syafaat/rekomendasi di sisi raja dan teman yang memberikan rekomendasi di depan temannya, maka Allah pun menafikan adanya syafaat seperti ini.” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh al-Barrak [klik])

Termasuk bentuk syafaat yang ditolak itu adalah apabila seorang berdoa/meminta kepada Rasul -padahal beliau sudah wafat- wahai Rasul berikanlah syafaat untukku, atau wahai Ali berikan syafaat untukku, wahai Husain, wahai Abdul Qadir Jailani. Ini semua adalah meminta syafaat kepada selain Allah dan itu merupakan perbuatan syirik. Apa yang dilakukan ini serupa dengan apa yang dahulu dilakukan oleh kaum musyrikin jahiliyah (lihat keterangan Syaikh Khalid al-Mushlih hafizhahullah dalam Syarah-nya [klik])

Oleh sebab itu kaum muslimin harus waspada dari hal-hal yang bisa merusak dan mengotori aqidah mereka. Jangan sampai kita termasuk golongan yang menujukan ibadah kepada selain Allah. Ya benar, ada syafaat yang diterima di sisi Allah; yaitu apabila ia memenuhi syarat-syaratnya. Insya Allah akan dibahas pada seri berikutnya.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Seri tulisan terdahulu bisa dibaca di sini [buka]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *