Bismillah.

Diantara nasihat emas yang disampaikan oleh ulama salaf adalah apa yang diriwayatkan dari Masruq rahimahullah sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Kitab az-Zuhd dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf :

 إن المرء لحقيق أن يكون له مجالس يخلو فيها فيذكر فيها ذنوبه فيستغفر منها

“Sesungguhnya seorang benar-benar butuh memiliki majelis-majelis yang dia menyendiri di dalamnya untuk mengingat dosa-dosanya lalu memohon ampunan darinya.”

Nasihat beliau didukung oleh ucapan ulama yang lain. ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata :

الدَّاءُ الذُّنُوبُ، وَالدَّوَاءُ الِاسْتِغْفَارُ، وَالشِّفَاءُ أَنْ تَتُوبَ فَلَا تَعُودَ

“Dosa-dosa itulah penyakit, obatnya adalah istighfar, dan penyembuhnya adalah kamu bertaubat sehingga tidak mengulanginya.”

Masruq rahimahullah berkata :

بِحَسْبِ الْمَرْءِ مِنَ الْجَهْلِ أَنْ يُعْجَبَ بِعِلْمِهِ وَبِحَسْبِهِ مِنَ الْعِلْمِ أَنْ يَخْشَى اللَّهَ 

“Cukuplah bukti kebodohan pada diri seorang ketika dia ujub/kagum kepada ilmunya sendiri dan cukuplah tanda keilmuannya jika dia merasa takut kepada Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah memberikan nasihat :

من أعجب بنفسه احتقر غيره، ولا شك أن العجب آفة، وهو قبيح بالنسبة لعموم الناس، وهو في من ينتسب إلى العلم وطلبه أقبح

“…Barangsiapa yang ujub terhadap dirinya sendiri maka dia akan merendahkan orang lain, dan tidaklah ragu bahwa ujub ini penyakit. Dan penyakit ini sangat buruk jika ada pada diri orang awam sekalipun, dan pada diri orang yang menisbatkan diri kepada ilmu atau pencari ilmu maka hal ini/ujub jauh lebih buruk.” (lihat Syarh Kitab al-‘Ilmi li Abi Khaitsamah [buka])

Setiap manusia -termasuk di dalamnya para penimba ilmu- adalah sering terjatuh pada dosa dan kesalahan. Oleh sebab itu semestinya ia selalu memohon ampunan kepada Allah atas dosanya. Dia harus menyadari aib pada diri dan amalnya. Dengan itulah akan pupus benih dan tunas sifat ujub. Adapun melupakan aib dan dosa akan membuahkan kesombongan dan sifat ujub.

Dari sana lah dibutuhkan waktu dan kesempatan khusus bagi setiap orang -terlebih lagi penimba ilmu- untuk bermuhasabah dan mengingat dosanya. Diantara sarana yang sangat bermanfaat untuk membantu mewujudkan hal ini adalah dengan sering membaca kitab para ulama dan menyerap petuah serta nasihat mereka yang penuh ketulusan.

Akan tetapi itu tidak akan membuahkan hasil jika Allah tidak memberikan taufik kepada seorang hamba untuk memperbaiki hatinya. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk banyak berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan hati di atas agama-Nya dan agar Allah palingkan hati kita menuju ketaatan kepada-Nya… Karena hati manusia berada diantara jari-jemari ar-Rahman; yang Dia bolak-balikkan hati itu sebagaimana kehendak-Nya…

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Referensi :

‘Ujbul Mar’i bi ‘Ilmihi, Atsar wa Ta’liq. Syaikh Abdurrazzaq al-Badr [buka]

Kitab az-Zuhd dari al-Mushannaf. Imam Ibnu Abi Syaibah [buka]

Hayatus Salaf bainal Qaul wal ‘Amal. Ahmad bin Nashir ath-Thayyar [buka]

al-Waqtu Anfaasun Laa Ta’uudu. Abdul Malik bin Qasim [buka]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *