Bismillah.
Diantara akhlak yang indah di dalam agama Islam adalah anjuran dan perintah untuk menutupi aib/aurot sesama muslim. Sebaliknya, Islam melarang perbuatan ghibah/menggunjing dan namimah/adu-domba atau pun merendahkan saudara sesama muslim.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Barangsiapa yang menutupi aurat/aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan menutupi auratnya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang suka membongkar aurat/aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan membongkar auratnya bahkan Allah akan mempermalukan dirinya karena dosanya itu di rumahnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Dari Tsauban radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, dan janganlah kalian mengejek mereka, dan jangan mencari-cari aurat/aib mereka karena barangsiapa yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim pasti Allah akan membongkar auratnya sehingga dia pun akan menanggung malu di rumahnya sendiri.” (HR. Ahmad)
Seorang muslim akan berusaha untuk memperbaiki aib yang ada pada saudaranya, bukan justru memanfaatkan aib saudaranya demi mengejar ketenaran atau mengais ambisi duniawi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, apabila dia melihat aib padanya maka dia berusaha memperbaikinya.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah menjadi keburukan/dosa pada diri seseorang apabila dia merendahkan/menyepelekan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain terperlihara darahnya, hartanya dan harga diri/kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu yang suka mencela, yang suka melaknat, yang suka berbuat jorok/keji, atau yang suka berkata-kata kotor.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencaci-maki seorang muslim adalah perbuatan fasik, dan memeranginya adalah tindakan kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang dia cintai bagi dirinya.” (HR. Bukhari dari Anas radhiyallahu’anhu)
Imam Bukhari rahimahullah memberi judul untuk hadits ini dengan ‘Bab. Salah satu bagian dari iman adalah mencintai bagi saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya’. Oleh sebab itulah salah satu konsekuensi iman adalah menasihati kaum muslimin dan menginginkan kebaikan untuk mereka. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3)
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Islam manakah yang paling utama?” beliau menjawab, “Orang yang membuat selamat kaum muslimin dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari). Hadits ini menerangkan bahwasanya menahan diri dari menyakiti kaum muslimin dalam bentuk ucapan atau perbuatan merupakan salah satu sifat Islam yang paling utama. Demikian diterangkan oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah (lihat Minhatul Malik, 1/80)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 38)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenali jati dirinya sendiri maka dia akan menyibukkan diri dengan memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib-aib orang lain. Barangsiapa yang mengenal kedudukan Rabbnya niscaya dia akan sibuk dalam pengabdian kepada-Nya daripada memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 56)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk tetapi engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau orang yang bodoh tetapi engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir tetapi itu engkau mengira dirimu pemurah. Engkau dungu tetapi engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15)
Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang menjadi imam/teladan apabila dia selalu menuturkan setiap pembicaraan/hadits yang dia dengar. Dan tidak pula menjadi imam/panutan orang yang senantiasa menyampaikan hadits -tanpa meneliti- dari siapa pun datangnya.” (lihat adh-Dhu’afa’ al-Kabir Jilid 1 hal. 9)
Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan Sunnah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu/wawasan dan bukunya banyak.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163)
al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)
Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menimba ilmu untuk beramal maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa yang menimba ilmu bukan untuk beramal maka semakin banyak illmu akan justru membuatnya semakin congkak.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 575-576)
Referensi :
Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr
Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad karya Syaikh Husain al-‘Awaisyah
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar