Bismillah.

Waktu berjalan terus. Ia tidak berhenti. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kita sering lupa bahwa hari-hari yang kita lewati adalah seri perjalanan hidup yang perlu untuk kita koreksi. Banyak nikmat Allah yang tercurah sementara kita lalai dari mensyukurinya. Terkadang musibah menerpa dan sering manusia tidak bersabar dalam menghadapinya. Dan tidak sedikit orang yang tenggelam dalam dosa lantas tidak bertaubat darinya.

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini adalah kumpulan hari demi hari. Setiap hari berlalu itu artinya telah lenyap sebagian dari dirimu.” Nasihat beliau ini menjadi ‘tamparan keras’ untuk kita yang selama ini sering membuang-buang waktu dalam hal yang tidak bermanfaat.

Dalam nasihat yang lainnya, para ulama juga menjelaskan, “Diantara tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah ketika Allah jadikan ia sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna/tidak penting untuknya.” Bahkan hal ini telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya; bahwa diantara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dengan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat atau di luar kapasitas dan wewenangnya.

Kita hidup di zaman informasi dengan deras mengalir memenuhi beranda media sosial. Ketika orang tidak memiliki ilmu dan iman yang kuat maka banjir berita itu akan menggoyahkan hati dan jiwanya dari jalan yang lurus. Sebab ia tidak memiliki filter/penyaring yang bisa menyeleksi sekian banyak informasi dan berita yang sampai kepadanya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan; bahwa cukuplah seorang disebut pendusta apabila dia selalu menyebarkan atau menceritakan semua berita yang dia dengar.

Belum lagi pembicaraan mengenai tema atau topik tertentu yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh umumnya manusia karena lemahnya akal dan tipisnya ilmu mereka. Bukan karena hal itu jelek atau batil. Tetapi karena ia diletakkan bukan pada tempatnya sehingga menimbulkan kekacauan dan kesalahpahaman. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu telah mengingatkan, “Tidaklah kamu menuturkan kepada suatu kaum sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh akal-akal mereka kecuali hal itu pasti akan menimbulkan fitnah/kekacauan bagi sebagian mereka.” Riwayat ini disebutkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah kitab Shahih-nya.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3). Kita sering membaca atau mendengar surat ini tetapi banyak orang yang lalai dari merenungkan kandungan dan pelajaran indah yang termuat di dalamnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Renungkanlah al-Qur’an jika kamu menghendaki petunjuk, karena sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan sering-sering tadabbur/merenungkan al-Qur’an.” Karena itulah di dalam al-Qur’an Allah menyebut orang yang tidak mau merenungkan ayat-ayat al-Qur’an itu sebagai orang yang telah terkunci hatinya; hati mereka digembok atau tertutup dengan belenggu.

Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mengatakan, “Seandainya hati kita ini bersih niscaya ia tidak akan pernah merasa kenyang/capek dan bosan dari kalam/ucapan Rabb kita; yaitu al-Qur’an.” Ribuan ayat dalam 114 surat. Tidakkah ayat-ayat ini mengetuk kesadaran dan hati nurani kita. Sering kita membaca hadits, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Di saat yang sama kita menyangka bahwa hadits ini seolah-olah hanya untuk anak-anak TPA dan guru-gurunya. Sehingga karena sudah tua atau kuliah kita merasa tidak terpanggil lagi untuk mempelajari Kitabullah, merenungkan dan menggali faidah dan hikmah darinya… Subhanallah…

Kita ini umat Islam, umat yang seharusnya berbangga dan berjaya bersama al-Qur’an. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam ini. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam pastilah Allah akan merendahkan dan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Hari yang telah berlalu sudahkah kita hiasi dengan dzikir kepada Allah dan ketaatan? Apakah keadaan kita seperti seekor ikan yang telah terhempas ke daratan dan tidak lagi menjumpai air sebagai habitat kehidupannya? Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan; maka bagaimana keadaan seekor ikan apabila ia memisahkan dirinya dari air?!” Ya, tentu saja ia akan sekarat dan mati…

Wahai para pemuda yang terbuai oleh masa muda dan waktu luangnya; apakah anda mengira bahwa semua ini akan berlalu begitu saja dan tidak ada hisab serta pertanggung jawabannya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sudah berapa banyak jama’ah sholat Subuh di masjid yang anda tinggalkan?!

Anda berbicara dan bertingkah seolah anda adalah pendekar superhero yang mampu menaklukkan Romawi dan Persia. sementara sholat Subuh pun anda telantarkan sedemikian rupa. Lisan anda tajam menjatuhkan kehormatan para penguasa dan pemuka agama; sedangkan lisan itu kering dari sejuknya istighfar dan hangatnya celupan dzikir pagi dan petang… Subhanallah… Subhanallah… Wallahul musta’aan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Iman kepada Allah dan hari akhir merupakan pondasi dan benteng yang akan menjaga kehidupan umat manusia. Iman itu lah yang akan menumbuhkan ketakwaan dan amal salih dalam bentuk ucapan, keyakinan, perasaan dan perbuatan anggota badan.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu hanya dengan berangan-angan atau menghiasi penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Iman akan bertambah dengan ketaatan dan ia menjadi berkurang akibat dari kemaksiatan.

Iman ini perlu untuk dibangun dengan ilmu dan pemahaman. Oleh sebab itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Iman, tauhid dan aqidah ini semua membutuhkan bekal ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah. Ilmu yang akan mengokohkan keyakinan dan menyingkirkan keragu-raguan dari dalam hati. Ilmu yang bermanfaat yang akan menepis terpaan fitnah syubhat dan godaan syahwat.

Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat.” (asy-Syu’araa’ : 88-89). Hati yang selamat adalah hati orang yang beriman dan bertauhid, bukan hati orang kafir dan musyrik. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa hati yang selamat itu tentram di atas as-Sunnah dan bersih dari kotoran bid’ah.

Dari sini lah kiranya kita bisa mengerti bahwa waktu adalah modal seorang muslim. Allah berikan waktu untuknya agar dia bisa beramal salih dan membekali dirinya dengan ketakwaan. Sebab takwa merupakan bekal terbaik untuk menyambut hari akhirat. Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang banyak mengingat saat-saat datangnya kematian kecuali hal itu pasti akan tampak pengaruhnya pada amal perbuatannya.”

Dunia ini dengan segala kemewahan dan perbendaharaan yang ada padanya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk. Dunia tidak lebih bernilai di sisi Allah daripada bangkai seekor kambing yang cacat. Oleh sebab itu seorang mukmin tidak boleh terpedaya oleh gemerlapnya dunia. Barangsiapa yang dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka itulah orang yang sukses sebenarnya…

Ya Rabb kami mohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari azab neraka

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Ditulis di balik meja Ketua Umum YPIA -semoga Allah menjaganya dari segala keburukan-


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

1 Komentar

Andik · Desember 29, 2025 pada 11:24 AM

maa syaa Allah
jazakumullahu khairan ustadz

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *