Bismillah.
Dalam sebuah hadits dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Berlindunglah kalian dari fitnah-fitnah; yang tampak maupun yang tersembunyi.” Maka para sahabat pun berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang tampak dan yang tersembunyi.” (HR. Muslim)
Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah berkata :
فنحن بحاجة إلى أن نرجع إلى ديننا، وأن نعتصم بكتاب ربنا ففيه المخرج من الفتن،
“Kita butuh kembali kepada agama kita dan berpegang teguh dengan kitab Rabb kita (al-Qur’an) maka di dalamnya terdapat jalan keluar/solusi dari fitnah-fitnah…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari [klik])
Terdapat berbagai macam jenis fitnah yang melanda; diantaranya berupa peperangan, fitnah syubhat/kerancuan berupa pemahaman atau akidah yang sesat, fitnah syahwat/hawa nafsu yang berkaitan dengan harta, kemaluan atau yang lainnya, atau berupa terjadinya pembunuhan dimana-mana (lihat transkrip kajian Syarah Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah [klik])
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegaralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman tetapi di sore harinya menjadi kafir. Atau pada sore hari beriman tetapi keesokan harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mencari perhiasan/kesenangan dunia.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)
Dalam kondisi fitnah, melakukan amal-amal salih dan beribadah kepada Allah adalah perisai yang akan melindungi dari terpaan fitnah. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beribadah ketika terjadi kekacauan -fitnah atau maraknya pembunuhan- seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)
Adalah Thalq bin Habib rahimahullah -salah seorang ulama terdahulu- mengatakan, “Jagalah diri kalian dari fitnah dengan takwa.” Ada yang bertanya kepadanya, “Gambarkan kepada kami takwa itu seperti apa?” maka beliau menjawab, “Yaitu kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah seraya mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah seraya takut akan azab Allah.” Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Abi Dun-ya, dan lain-lain (lihat Mauqif al-Muslim minal Fitan, oleh Syaikh Dr. Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah, hal. 92)
Diantara penyebab fitnah adalah tidak ditegakkannya amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allah berfirman (yang artinya), “Telah dilaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam; hal itu disebabkan perbuatan maksiat mereka dan mereka suka melampaui batas. Mereka tidak mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh sesamanya. Betapa buruk apa-apa yang mereka kerjakan itu.” (al-Ma’idah : 78-79)
Akibat dari tidak ditegakkannya amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah bertebarannya berbagai kefasikan, kemaksiatan, dan kezaliman. Hal ini pun menjadi sebab semakin besarnya fitnah yang menimpa umat. Allah berfirman (yang artinya), “Dan takutlah kalian akan suatu fitnah yang tidak hanya menimpa kepada orang-orang yang zalim diantara kalian, dan ketahuilah bahwasanya Allah sangatlah keras hukuman-Nya.” (al-Anfal : 25)
Disebutkan dalam sebuah riwayat, “Tidaklah suatu kaum melanggar perjanjian melainkan pasti akan terjadi pembunuhan diantara mereka. Tidaklah perbuatan keji merajalela pada suatu kaum kecuali pasti Allah ‘azza wa jalla akan menimpakan kepada mereka bencana kematian. Tidaklah suatu kaum menolak untuk membayar zakat kecuali pasti Allah halangi hujan untuk turun kepada mereka.” (HR. al-Bazzar, al-Hakim, dan al-Baihaqi)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya : “Apakah yang anda nasihatkan kepada kami di masa ini yang begitu banyak fitnah/kekacauan dan tersebar ahli bid’ah serta wafatnya para ulama?”
Beliau menjawab : “Pertama kali yang aku wasiatkan kepada kalian adalah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, banyak-banyak berdoa kepada Allah agar memberikan keteguhan kepada kami dan kalian di atas agama [Islam ini], dan supaya Allah menjaga kita dari keburukan fitnah-fitnah.
Kemudian, kami wasiatkan juga kepada kalian untuk menimba ilmu; menimba ilmu dari ahli ilmu serta bersemangat dalam menimba ilmu. Karena sesungguhnya tidaklah menjaga dari fitnah-fitnah dengan izin Allah kecuali dengan ilmu yang benar. Adapun apabila anda tidak membekali diri dengan ilmu yang benar maka bisa jadi anda terjerumus di dalam fitnah-fitnah dalam keadaan tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa hal itu adalah fitnah. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk terus menimba ilmu kepada ahli ilmu, jangan malas menimba ilmu, selama hal itu masih memungkinkan bagi kalian untuk dilakukan [maka tuntutlah ilmu].”
(lihat : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14958)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar