Bismillah.

Diantara pelajaran penting dari risalah Ushul Tsalatsah adalah wajibnya kita untuk terus memohon pertolongan kepada Allah dalam segala urusan.

Penulis rahimahullah berkata :

وَدَلِيلُ الاسْتِعَانَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

Dalil isti’anah/memohon pertolongan adalah firman Allah (yang artinya), “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (al-Fatihah : 5)

وفي الحديث: «إذا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ» 

Dan disebutkan dalam sebuah hadits, “Apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.”

Para ulama menjelaskan bahwa isti’anah adalah salah satu bentuk doa permintaan/doa mas’alah. Yaitu seorang hamba meminta kepada Allah agar memberikan pertolongan kepadanya. Hal ini dibangun di atas keyakinan bahwa Allah adalah Rabb penguasa dan pengatur seluruh alam. Allah Mahakuasa lagi Mahamendengar. Ini yang disebut dengan istilah tauhid rububiyah; meyakini Allah sebagai Rabb/pencipta dan penguasa alam semesta.

Isti’anah termasuk bentuk ibadah yang sangat agung. Karena Allah memerintahkan kita untuk memohon pertolongan kepada-Nya, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Sebab ibadah itu mencakup segala hal yang dicintai dan dirdhai oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan; yang lahir maupun batin. Diantara ciri ibadah itu adalah Allah memerintahkan untuk melakukannya atau memuji orang yang melakukan hal itu.

Diantara bentuk cara untuk memohon pertolongan kepada Allah adalah dengan menjaga sholat dan memiliki sifat sabar. Allah berfirman (yang artinya), “Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat.” (al-Baqarah : 153). Hal ini menunjukkan bahwa sholat dan sabar merupakan amalan dan keadaan yang dicintai Allah; meminta pertolongan dengan menempuh dua hal ini termasuk hal yang disyariatkan (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, hal. 63)

Disebutkannya isti’anah setelah ibadah di dalam ayat di atas menunjukkan bahwa setiap hamba sangat membutuhkan bantuan Allah untuk mewujudkan ibadah kepada-Nya; seandainya Allah tidak membantunya niscaya dia tidak akan bisa melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya (lihat penjelasan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 69)

Agama Islam ini berporos pada 2 hal utama; ibadah kepada Allah dan isti’anah kepada-Nya. Mewujudkan kedua hal ini merupakan jalan untuk meraih kebahagian yang abadi dan selamat dari segala keburukan. Tidak ada jalan untuk selamat kecuali dengan menegakkan ibadah dan isti’anah kepada Allah (lihat keterangan Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim hafizhahullah dalam Taisirul Wushul Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 137)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Tulisan ini adalah seri ke-31 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’

Silakan membaca seri terdahulu di tautan berikut ini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

1 Komentar

Arihusodo · November 24, 2025 pada 5:28 PM

Bagus, sangat penting dlm rangka menegakkan Aqidah dlm setiap aktivitas smg jadi amal jariyah siapa saja yg terlibat munculnya tulisan ini.Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *