Bismillah.
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Ilmu yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Ilmu yang masuk ke dalam hati dan membuahkan keyakinan dan keikhlasan. Adapun hakikat ilmu itu sendiri adalah mengenali petunjuk berdasarkan dalilnya.
Allah berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah; Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu.” (az-Zumar : 9)
Imam al-Qurthubi rahimahullah menukil penafsiran sebagian ulama tentang ayat ini :
الذين يعلمون هم الذين ينتفعون بعلمهم ويعملون به ، فأما من لم ينتفع بعلمه ولم يعمل به فهو بمنزلة من لم يعلم .
“Yang dimaksud orang-orang yang berilmu itu adalah yang mengambil manfaat dengan ilmunya dan beramal dengannya. Adapun orang yang tidak menggunakan ilmunya dan tidak beramal dengannya maka dia itu seperti keadaan orang yang tidak berilmu.” (lihat Tafsir al-Qurthubi [klik])
Oleh sebab itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berdoa kepada Allah meminta ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.
عن زيد بن أرقم أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يقول: “اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا”
Dari Zaid bin Arqam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering membaca doa ‘Allahumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ wa min qolbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’ wa min da’watin laa yustajaabu lahaa‘ artinya, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu/jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)
Dari Jabir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا، وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
“Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah)
Imam Tirmidzi rahimahullah (wafat 279 H) menuturkan di dalam Kitab Shifatul Qiyamah hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidaklah bergeser telapak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang lima perkara : umurnya untuk apa dihabiskan, masa muda untuk apa dia gunakan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa, dan apa yang dia amalkan dengan ilmu yang sudah diketahuinya.” (HR. Tirmidzi no. 2416, disahihkan al-Albani)
Allah pun mencela orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakn apa-apa yang tidak kalian lakukan. Betapa besar kemurkaan di sisi Allah; kalian mengucapkan apa-apa yang kalian tidak lakukan.” (ash-Shaff : 2-3). Allah juga menegur (yang artinya), “Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan sementara kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian juga membaca al-Kitab. Apakah kalian tidak menggunakan akal.” (al-Baqarah : 44)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, bahwa amal adalah buah dari ilmu. Orang yang melakukan amal tanpa ilmu artinya dia menyerupai kaum Nasrani. Adapun orang yang berilmu namun tidak mau beramal itu artinya dia menyerupai kaum Yahudi (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 22)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda keilmuan, dan ightirar/terpedaya karena curahan nikmat Allah sebagai bukti kebodohan.” Bahkan, Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28) (lihat Miftah Daar as-Sa’aadah [1/225])
ar-Rabi’ bin Anas rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah ta’ala maka sesungguhnya dia bukanlah seorang yang ‘alim/berilmu.” Mujahid rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar ‘alim ialah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)
al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)
Imam Ibnul A’rabi rahimahullah berkata, “Seorang yang berilmu tidak dikatakan sebagai alim robbani sampai dia menjadi orang yang -benar-benar- berilmu, mengajarkan ilmunya, dan juga mengamalkannya.” (lihat Fath al-Bari [1/197])
Suatu saat Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata: Aku tidak takut apabila kelak ditanyakan kepadaku, “Hai Uwaimir, apa yang sudah kamu ilmui?”. Namun, aku khawatir jika ditanyakan kepadaku, “Apa yang sudah kamu amalkan dari ilmu yang sudah kamu ketahui?”. Karena Allah tidak memberikan ilmu kepada seseorang selama dia hidup di dunia melainkan pasti menanyainya pada hari kiamat (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang rusak di antara ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Nasrani. Barangsiapa yang rusak di antara ahli ilmu kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi.” Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hal itu dikarenakan Nasrani beribadah tanpa ilmu sedangkan Yahudi mengetahui kebenaran tetapi mereka justru berpaling darinya.” (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 36)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata,“… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.”(lihat al-Fawa’id, hal. 34)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar