Kaitan Amal Badan Dengan Iman
oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
أعمال الجوارح هل تعتبر كمالاً للإيـمان أو تعتبر كصحة للإيـمان؟
“Amal-amal anggota badan apakah ia termasuk penyempurna iman ataukah dianggap sebagai penentu keabsahan iman?”
oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
أعمال الجوارح هل تعتبر كمالاً للإيـمان أو تعتبر كصحة للإيـمان؟
“Amal-amal anggota badan apakah ia termasuk penyempurna iman ataukah dianggap sebagai penentu keabsahan iman?”
oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
هل يكفي المعتقد الصحيح عن العمل، والاستقامة على شرع الله؟
“Apakah keyakinan/akidah yang lurus sudah cukup sehingga tidak perlu beramal dan istiqomah di atas syari’at Allah?”
oleh : Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah hafizhahullah
ما درجة حديث: ((النظر في المصحف عبادة))؟
Pertanyaan : Apakah derajat hadits, “Melihat kepada mushaf adalah ibadah.”?
Komite Tetap Urusan Fatwa di Arab Saudi pernah mendapatkan pertanyaan :
Apakah agama yang ada pada diri seorang insan saat dia terlahir adalah agama yang benar?
Maka para ulama menjawab :
Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi hafizhahullah pernah ditanya :
هل يجوز للإنسان أن يتشاءم في عدد أو يوم أو شهر ونحو ذلك؟
“Bolehkah seorang insan memiliki anggapan sial berdasarkan bilangan/angka tertentu, hari, bulan, atau semacamnya?”
Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi hafizhahullah pernah ditanya :
ما هو الواجب على العبد معرفته عن الإسلام؟
“Apakah yang wajib bagi seorang hamba untuk dia mengerti tentang Islam?”
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya :
عندما يسلم المذيع في الراديو أو التلفزيون عند بداية البرنامج مثلاً، فهل يجب علي أن أرد السلام؟
Ketika seorang penyiar/pembawa acara mengucapkan salam di dalam siaran radio atau melalui televisi pada saat permulaan acara misalnya, maka apakah wajib bagi saya untuk membalas ucapan salamnya itu?
oleh : Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lainnya, karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang diwasiatkan oleh-Nya kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-An’am : 153)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :
أسأل الثاني وأنا أعتقد بأن علي إثم في هذا السؤال وهو أن لدينا ناساً يقولون إن عبد الله أبا محمد صلى الله عليه وسلم هو للنار، وناس يقولون لا بل هو للجنة لأنه أبو نبي، أفيدونا جزاكم الله خيراً، وهل عليّ إثم في هذا السؤال، وإذا كان علي إثم فهل له كفارة؟ أفيدونا جزاكم الله خيراً ودمتم؟
“Pertanyaan kedua yang ingin saya ajukan, dan saya berkeyakinan saya berdosa dengan mengajukan pertanyaan ini. Yaitu ada orang-orang di tempat kami yang mengatakan bahwa Abdullah ayah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tempatnya di neraka. Kemudian ada orang-orang lain yang mengatakan ‘tidak’, bahkan beliau itu masuk surga, karena dia adalah ayah dari nabi. Oleh sebab itu berikanlah penjelasan bagi kami jazakumullahu khairan. Dan apakah saya berdosa dengan pertanyaan ini. Seandainya berdosa, maka apakah ada kaffarah/penebusnya? Berikanlah faidah kepada kami jazakumullahu khairan?”