Faidah Tafsir al-Fatihah [bagian 8]

Materi :

– Penetapan Risalah

– Hakikat Jalan Lurus

– Ilmu dan Amal

Penetapan Risalah

Surat al-Fatihah mengandung penetapan risalah atau misi kenabian dari berbagai sisi pendalilan. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di dalamnya juga terkandung penetapan risalah/kerasulan. Karena hal itu merupakan konsekuensi dari firman-Nya ‘Rabbul ‘alamin’. Sementara Rabb adalah yang memperbaiki hamba-hamba-Nya dan memelihara mereka. Konsekuensi pemeliharaan/tarbiyah bagi mereka adalah diutusnya para rasul untuk memberikan petunjuk dan mendidik mereka. Inilah yang menjadi konsekuensi rububiyah Allah dan konsekuensi hidayah yang terkandung dalam ayat ‘Ihdinash shirathal mustaqim’, karena tidak mungkin petunjuk menuju jalan lurus itu diperoleh kecuali dengan perantara para rasul ‘alaihimush sholatu was salam; ini artinya surat ini juga mengandung penetapan risalah.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 8 cet. Dar al-Imam Ahmad)

(lebih…)

Sepertiga al-Qur’an

Dari Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang lelaki untuk memimpin serombongan pasukan. Kebiasaan lelaki itu pada saat membaca -surat- dalam sholat ketika mengimami teman-temannya adalah selalu mengakhiri bacaannya dengan Qul huwallahu ahad. Ketika mereka telah kembali, hal itu pun diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Tanyakanlah kepadanya. Mengapa dia melakukan hal itu?”. Lantas mereka bertanya kepadanya. Lelaki itu menjawab, “Karena ia adalah sifat ar-Rahman (Allah), oleh sebab itu aku sangat cinta membacanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Sampaikanlah kabar kepadanya, bahwa Allah pun mencintai dirinya.” (HR. Bukhari dalam Kitab at-Tauhid [7375] dan Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [813])

(lebih…)

Faidah Tafsir al-Fatihah [bagian 7]

Materi :

– Isti’anah dan Tawakal kepada Allah

– Pengertian dan Keutamaan Tawakal

– Larangan Bertawakal kepada Makhluk

Isti’anah kepada Allah

Isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) adalah bagian dari ibadah. Meskipun demikian di dalam al-Fatihah ia disebutkan secara khusus setelah ibadah. Allah berfirman (yang artinya), “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan/beristi’anah.” Hal ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan hamba untuk memohon pertolongan Allah dalam menjalankan semua ibadah. Karena sesungguhnya apabila Allah tidak menolongnya niscaya dia tidak akan bisa meraih apa yang dia kehendaki; apakah dalam hal melaksanakan perintah atau pun menjauhi larangan (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)

(lebih…)