Bismillah.
Segala puji bagi Allah Rabb yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya teladan dalam berjuang dan menghadapi segala bentuk cobaan.
Amma ba’du.
Bagi seorang yang beriman kepada Allah, hidup dan kematian adalah cobaan. Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2)
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan ketentuan dan takdir-Nya. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin-Nya. Allah yang menjamin rezeki pada setiap makhluk melata di atas muka bumi. Oleh sebab itu keimanan terhadap takdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah.
Iman kepada rububiyah Allah mencakup keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, pengatur dan penguasa alam semesta. Allah Maha mengetahui segala sesuatu dan Maha kuasa atas segalanya. Allah yang menghidupkan dan mematikan. Allah yang menurunkan hujan dan mencurahkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Allah menciptakan manusia agar mereka mau tunduk beribadah kepada-Nya.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Ibadah kepada Allah tegak di atas kecintaan dan pengagungan. Ibadah merupakan bentuk syukur kepada Allah yang telah menciptakan kita. Termasuk dalam ibadah adalah bersabar dalam menghadapi cobaan dan musibah-musibah.
Sebagian ulama salaf berkata, “Sabar di dalam iman seperti kedudukan kepala di dalam tubuh. Apabila kepala dipotong maka tidak lagi tersisa kehidupan di dalam tubuh.” Sabar dibutuhkan tidak hanya ketika tertimpa musibah. Akan tetapi sabar juga diperlukan pada saat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Oleh sebab itu orang yang paling besar cobaannya adalah para nabi. Para ulama menjelaskan bahwa dengan bekal sabar dan keyakinan maka akan diraih derajat kepemimpinan/teladan di dalam agama. Bersabar di kala musibah dan bersyukur atas nikmat merupakan sifat orang yang beriman. Sebagaimana menjadi sifat mereka adalah apabila terjerumus dalam dosa segera mengingat Allah lalu memohon ampunan untuk dosa-dosanya.
Seorang yang beriman senantiasa bertawakal kepada Allah semata. Karena di tangan Allah segala urusan. Seorang yang beriman selalu bersangka baik kepada Allah. Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Allah berikan dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Allah tahan.
Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa bertawakal kepada Allah maka Dia pasti mencukupi baginya.” (ath-Thalaq : 3). Tawakal itu mencakup 2 bagian; percaya sepenuhnya kepada Allah dan bergantung hati kepada-Nya, dan menempuh sebab/usaha yang dibolehkan di dalam syariat.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan kepada Allah semata hendaknya kalian bertawakal; jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (al-Ma-idah : 23). Allah juga berfirman (yang artinya), “Jika kalian beriman kepada Allah maka kepada-Nya semata hendaknya kalian bertawakal; jika kalian benar-benar muslim.” (Yunus : 84)
Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka merasa takut, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabb mereka semata mereka itu bertawakal.” (al-Anfal : 2)
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa semakin kuat iman seorang hamba maka akan semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah semata. Tawakal merupakan buah dari iman kepada rububiyah Allah dan takdir-Nya. Setiap hamba membutuhkan tawakal kepada Allah dalam setiap amal dan ibadahnya. Tanpa tawakal kepada Allah maka manusia akan disandarkan kepada kelemahan dan ketidakmampuan.
Musibah dan bencana adalah cobaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah menimpakan cobaan/musibah untuk mencelakakannya, hanya saja Allah memberikan musibah kepadanya untuk menguji kesabaran dan penghambaannya kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah berhak mendapatkan penghambaan di kala susah sebagaimana Dia juga berhak mendapatkan penghambaan di kala senang…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 4 penerbit Maktabah Darul Bayan)
Ya, dengan adanya musibah dan diikuti dengan kesabaran akan membuahkan keutamaan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali ‘Imran : 146). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (al-Anfal : 46)
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah (yang artinya), “Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Maksud ayat ini adalah berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu adalah bahwa sabar merupakan sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278)
Karena itulah tidak heran apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah timpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari). Oleh sebab itulah dikisahkan bahwa sebagian para ulama terdahulu apabila dia melihat bahwa dirinya tidak pernah tertimpa musibah baik berupa tertimpa penyakit/sakit atau yang lainnya maka dia pun mencurigai dirinya sendiri (lihat at-Tam-hid li Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 379)
Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah akan sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani). Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar