Melangkah bersama ilmu

Menjadi kuat bersama iman

Bismillah…

Bulan Agustus dan September adalah bulan dimana banyak mahasiswa baru berdatangan di Jogja. Mereka generasi muda yang membawa segudang asa dan cita-cita dari kampung halamannya. Bukan hanya harapan orang tua dan keluarga, bahkan para mahasiswa juga memanggul harapan bangsa dan negara. Kekuatan pemuda mengingatkan kita akan perjuangan para pendahulu bangsa ini di masa menjelang kemerdekaan di tahun 1945.

Ya, penulis pun pernah merasakan ketika pertama-tama berkenalan dengan dunia kampus di Jogja. Sekitar 26 tahun yang silam. Suasana yang benar-benar jauh berbeda dengan keadaan di saat masih belajar di bangku SMA. Bukan sekedar karena ganti seragam putih abu-abu menjadi baju bebas alias tak lagi berseragam. Lebih dari itu, dunia kampus menawarkan semangat pencarian dan perkembangan pemikiran sekaligus perluasan jaringan pertemanan.

Para mahasiswa baru yang penuh dengan cita-cita dan semangat, perlu untuk kita sadari bahwa kehidupan di masyarakat kampus atau civitas akademika adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat luas di kota Jogja ini. Kota yang dikenal sebagai kota pelajar. Ia juga dikenal dengan kota budaya dan tata-krama. Sebuah lingkungan yang akan mengajarkan kepada kita bahwa hidup bermasyarakat butuh untuk saling menghormati dan menghargai. Perbedaan yang ada tidak serta-merta menjadikan kita berpecah-belah atau menyulut bentrokan massa.

Keberagaman adalah realita kehidupan yang harus disikapi dengan bijaksana. Generasi muda tentu wajib menghormati kaum tua yang lebih senior dari sisi ilmu maupun usia. Sebagaimana yang tua pun diperintahkan untuk menyayangi yang lebih muda. Ini bahkan termasuk keindahan ajaran Islam yang sering kita lupakan. Umat Islam diajari untuk menjaga keamanan, memelihara kerukunan dan merawat keharmonisan di tengah masyarakat dan hidup bertetangga. Perihal ucapan pun Islam mengatur kita untuk menjaganya, agar kita berucap yang baik atau diam.

Pada hari ini kita sering menyaksikan sebagian anak muda yang terlalu mudah mengeluarkan kalimat-kalimat umpatan dan cacian. Bahkan di area yang sangat dekat dengan kampus Islam sekalipun. Tentu hal ini merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Mungkin banyak yang lupa bahwa sebagai muslim kita wajib menjaga lisan dan ucapan, walaupun kepada teman sendiri. Belum lagi kalau sudah tiba waktu sholat 5 waktu, kita terkadang menemui sebagian mahasiswa muslim/lelaki tidak segera menghampiri masjid atau musholla. Padahal jika dia penuhi panggilan itu, niscaya ketenangan dan kesejukan akan menyelimuti hati dan pikiran.

Berbicara tentang anak muda maka artinya kita sedang membahas jajaran manusia yang akan membawa warna dan lentera harapan di masa depan. Hitam putihnya sejarah umat akan sangat erat kaitannya dengan kondisi pemuda di hari ini.  Menelantarkan kaum muda tanpa arahan dan bimbingan justru akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kehancuran. Melangkah tanpa arah, berjalan tanpa tujuan yang jelas, dan bergerak tanpa pedoman. Hal itu akan membuat mereka menjadi sasaran empuk konspirasi keji perusak peradaban.

Chapter 1. Untuk Apa Anda Hidup?

Ini mungkin pertanyaan paling mendasar yang perlu untuk dijawab sebelum anda melangkah dan meneruskan perjalanan. Karena tanpa memahami tujuan hidup sama saja membiarkan diri kita hanyut dalam kesia-siaan. Hidup tanpa arah dan manfaat yang diperoleh. Hidup sekedar memuaskan hawa nafsu dan perasaan. “Lho kan saya mahasiswa?!” mungkin sebagian orang akan berkomentar demikian. Seolah-olah pertanyaan di atas hanya layak diberikan kepada anak SD atau SMP.

Kalau orang sering mengatakan bahwa hidup cuma sekali, maka itu perlu untuk kita cermati. Karena hidup di dunia ini masih akan berlanjut dengan kehidupan setelah kematian. Yaitu kehidupan di alam akhirat. Ada surga dan neraka. Ada hari penimbangan amal, hari perhitungan dan hari pembalasan. Kita tidak hidup demi suatu kesia-siaan. Ada perintah yang harus dijalankan, dan ada larangan yang harus dijauhi. Ibadah kepada Allah merupakan tujuan hidup manusia. Bukan karena Allah butuh kepada ibadah kita, tetapi karena dengan ibadah itulah kita akan bahagia. Inilah mindset penting yang wajib kita tanamkan dalam aktifitas dan keyakinan kita.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Ibadah kepada Allah adalah dengan melakukan hal-hal yang Allah cintai dan ridhai. Ibadah kepada Allah dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk rasul. Inilah amalan terbaik yang akan menentukan nasib kita kelak di akhirat.

Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Yuk kita cermati bersama; di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa yang dicari adalah amal yang terbaik, bukan sekedar amalan yang banyak. Karena jika amal itu banyak tetapi tidak diterima tentu sia-sia. Bukan sekedar kuantitas, tetapi kualitas yang harus kita jaga. Sedikit tapi terus-menerus lebih baik daripada banyak kemudian habis dan lenyap tanpa bekas.

Jogja adalah kota yang akan mengenalkan kepada anda bahwa kecerdasan tidak semata-mata diukur dengan nilai akademik atau indeks prestasi di kampus. Kecerdasan yang hakiki adalah ketika anda lebih menghargai waktu yang berlalu daripada obrolan-obrolan tanpa arah yang bersliweran di beranda medsos kita. Waktu adalah pedang. Banyak orang yang tidak sadar bahwa pedang waktu telah menebas umurnya hingga jiwanya terjerembab dalam lembah nista dan comberan petaka. Duduk-duduk di kafe hingga larut malam sekedar untuk cari suasana baru. Berniat mencari ketenangan tapi yang dipanen justru kegalauan demi kegalauan. Bukan masalah kopi yang diminum atau warung yang menyajikan makanan enak. Akan tetapi perkaranya adalah kita lupa tujuan utama dan hanyut dalam hiruk-pikuk fatamorgana yang melalaikan kita dari kampung akhirat….

Taubat. Hanya itu solusi terbaik bagi kita, wahai saudaraku. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3). Apakah anda mengira bahwa iman hanya cukup dengan ucapan lisan dan penampilan ala santri di setiap hari jum’at? Apakah anda mengira bahwa amal salih itu cukup dengan sholat ala kadarnya walaupun telat-telat?! Apakah anda mengira bahwa nasihat itu dibuktikan dengan berunjuk-rasa mencela kebijakan istana? Apakah anda menyangka bahwa kesabaran itu artinya kita biarkan kemungkaran bertebaran di tengah masyarakat sehingga maksiat meraja-lela serta miras dan narkoba menghiasi pesta dan pergaulan anak-anak muda?   

Ya, Jogja akan memberikan pelajaran kepada anda bahwa hidup berdampingan damai di tengah masyarakat menuntut kesadaran penuh dari setiap warga. Hidup akan tenang jika kita selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Hidup akan nyaman jika kita menunaikan hak kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Pemimpin memiliki hak untuk dipatuhi, selama bukan dalam hal maksiat dan pelanggaran. Tetangga pun memiliki hak yang wajib kita hargai. Dosen, kakak tingkat, karyawan di kampus, teman kuliah, satpam, tukang parkir, bahkan sampai petugas cleaning service pun memiliki hak dan kehormatan yang tidak boleh kita nodai.

Jadi, ibadah kepada Allah tidak melulu berupa sholat atau puasa dan sedekah. Ada ibadah dalam bentuk menjaga ucapan dan perbuatan. Ada ibadah dalam bentuk menyingkirkan gangguan dari jalan. Ada pula ibadah berupa rasa malu dari melakukan perbuatan yang tercela. Ibadah kepada Allah artinya tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Di sinilah kita belajar tentang kedisiplinan dan ketekunan. Bahwa kualitas amalan ditentukan dengan keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntunan, bukan sekedar memperbanyak amalan atau pun memperindah penampilan.

Bersambung insya Allah…

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *