Bismillah.

Alhamdulillah pada kesempatan ini kita diberikan kemudahan untuk kembali melaanjutkan pembahasan seputar kaidah dalam memahami hakikat tauhid dan syirik dari kitab al-Qawa’id al-Arba’.

Penulis rahimahullah berkata :

القاعدة الثانية: أنهم يقولون: ما دعوناهم وتوجهنا إليهم إلا لطلب القربة والشفاعة.

فدليل القربة قوله تعالى: {وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ} .

ودليل الشفاعة قوله تعالى: {وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ}

Kaidah yang kedua; bahwasanya mereka/orang musyrik mengatakan; Tidaklah kami berdoa dan menujukan ketergantungan hati kepada mereka/selain Allah kecuali untuk mencari kedekatan diri -di sisi Allah- dan untuk mendapatkan syafa’at.

Dalil tentang alasan pendekatan diri (yang mereka harapkan, pent) yaitu firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai wali/penolong/sesembahan berkata; Tidaklah kami beribadah kepada mereka kecuali dalam rangka mereka bisa mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya akan memberikan keputusan atas apa yang mereka perselisihkan, dan sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang pendusta lagi ingkar.” (az-Zumar : 3)

Dalil tentang syafa’at yaitu firman Allah (yang artinya), “Mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang tidak mendatangkan bahaya dan tidak pula memberikan manfaat bagi mereka, mereka beralasan bahwa ‘mereka itu adalah para pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (Yunus : 18)

Maksud dari penulis adalah agar kita memahami bahwa para pelaku syirik itu memiliki syubhat atau kerancuan pemahaman dalam beragama. Mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan dengan berdoa dan beribadah kepada selain Allah itu akan semakin mendekatkan diri kepada Allah dan membuat mereka bisa mendapatkan syafa’at di sisi Allah. Inilah syirik dalam bentuk mengambil perantara dalam beribadah. Padahal ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.

Dari sini lah kita bisa memahami bahwa Islam tidak mengenal kaidah tujuan menghalalkan segala cara. Asal tujuannya baik maka cara apa pun diperbolehkan. Maka ini adalah suatu keyakinan yang keliru. Tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula. Mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan beramal salih sesuai tuntunan, dan mendapatkan syafaat adalah dengan memurnikan tauhid dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Adapun syirik kepada Allah justru mendatangkan kemurkaan Allah dan menghalangi pelakunya dari ampunan Allah dan syafaat di sisi-Nya.

Syaikh Muhammad Said Raslan hafizhahullah berkata, “Maka orang-orang musyrik yang disebut oleh Allah sebagai kaum musyrikin, dan Allah tetapkan bahwa mereka dihukum kekal di neraka; mereka tidak mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah. Sesungguhnya mereka itu hanyalah berbuat syirik dalam hal uluhiyah. Mereka sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu adalah sesembahan yang mandiri atau berdiri sendiri. Mereka mengatakan bahwa ‘sesembahan itu semua hanya akan menjadi sarana/perantara bagi kami untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penghubung antara kami dengan Allah.’…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syaikh Raslan, hal. 18)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *