Bismillah.
Ilmu nahwu adalah salah satu ilmu dasar dalam kaidah bahasa Arab yang membahas seputar kedudukan kata di dalam kalimat dan kondisi akhir kata; yang tetap dan yang berubah serta berbagai variasi perubahan pada akhir kata. Ilmu nahwu sangat penting dalam menunjang ilmu agama Islam karena al-Qur’an dan as-Sunnah berbahasa Arab.
Mempelajari ilmu nahwu termasuk fardhu kifayah. Oleh sebab itu orang yang hendak menjadi penimba ilmu dan pendakwah tidak bisa tidak harus belajar ilmu nahwu. Diantara panduan yang sering digunakan untuk belajar nahwu dasar di negeri kita adalah kitab al-Muyassar fi ‘Ilmin Nahwi Jilid 1 karya Ust. Aceng Zakaria rahimahullah.
Alhamdulillah dengan taufik dari Allah kami dimudahkan untuk mengajarkan kitab tersebut kepada teman-teman baik yang masih muda maupun yang sudah cukup lanjut usia. Diantara kendala yang sering ditemui dalam proses belajar nahwu ini adalah banyaknya peserta yang berguguran di tengah jalan. Barangkali diantara sebabnya adalah beratnya muatan ilmu kaidah bahasa Arab itu sendiri atau karena metode belajar atau mengajarkannya yang kurang tepat.
Kitab Muyassar Jilid 1 yang oleh penulisnya dibuat dengan sistematis dan bisa diselesaikan kurang lebih dalam 40 jam memang akan terasa panjang dan melelahkan bagi banyak kalangan. Oleh sebab itu pada kesempatan ini dengan memohon taufik dari Allah kami akan berusaha meringkas materi-materi pokok dari kitab tersebut dengan harapan bisa membantu para penimba ilmu dalam belajar dan memahami ilmu nahwu.
Petunjuk Pendahuluan :
Fokus pembahasan ilmu nahwu adalah keadaan akhir kata di dalam kalimat. Untuk bisa memahami kaidah-kaidah itu maka terlebih dulu pelajar nahwu harus memahami berbagai istilah dalam bahasa Arab yang menjadi istilah kunci dan komponen mendasar dalam ilmu nahwu.
Bab 1. Pembagian Kata dalam Bahasa Arab
Di dalam bahasa Arab, terdapat istilah-istilah yang mirip dengan bahasa Indonesia seperti huruf, kalimat. Satuan terkecil yang menyusun kata di dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah huruf atau harf. Itu yang biasa kita kenal dengan nama huruf hijaiyah; dari alif sampai ya’.
Kemudian, di atasnya ada ‘kalimah’; yang dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan ‘kata’. Istilah kalimah di sini adalah pemaknaan secara ilmu kaidah bahasa Arab, walaupun dalam penggunaan percakapan bahasa Arab biasa ‘kalimah’ sama artinya dengan kalimat dalam bahasa kita. Yaitu susunan beberapa kata yang membentuk makna sempurna. Adapun kalimat yang kita kenal dalam ilmu kaidah bahasa Arab disebut dengan ‘jumlah’ (kalimat) atau lebih lengkapnya ‘jumlah mufidah’; kalimat sempurna. Nama lainnya adalah al-kalam.
Kata atau al-kalimah itu terdiri dari 3 macam; isim/kata benda, fi’il/kata kerja, dan harf/kata penghubung. Apabila suatu jumlah (kalimat) diawali dengan isim maka ia dinamakan jumlah ismiyah. Dan apabila ia diawali dengan fi’il maka disebut jumlah fi’liyah.
Isim dapat dikenali dengan beberapa tanda atau ciri. Misalnya, bisa diakhiri dengan tanwin. Selain itu, isim juga bisa diberi alif lam di awalnya. Isim juga bisa diakhiri kasroh. Isim juga dapat didahului oleh harf/huruf jar; yaitu kata penghubung yang menyebabkan sesudahnya dikasroh. Isim/kata benda menunjukkan kepada makna tetapi tidak memiliki latar belakang waktu. Berbeda dengan fi’il/kata kerja yang terkait dengan latar belakang waktu; sekarang, lampau atau akan datang.
Dalam bahasa Arab, fi’il atau kata kerja terbagi 3; fi’il madhi/kata kerja lampau, fi’il mudhori’/kata kerja sekarang atau akan datang, dan fi’il amr/kata kerja perintah. Kata kerja ada yang aktif; disebut fi’il ma’lum, ada juga yang pasif; disebut fi’il majhul. Untuk mengetahui rumus-rumus fi’il dan pembentukannya bisa dipelajari dalam ilmu shorof. Karena ilmu nahwu terfokus pada pembahasan kedudukan kata dan keadaan akhir kata.
Diantara kiat untuk belajar nahwu adalah perlu menghafal kosakata dan istilah yang sering digunakan dalam bahasa Arab. Selain itu harus dipahami pembagian kata dan tanda-tandanya. Misalnya isim atau kata benda cirinya bisa ditanwin, bisa dikasroh, dst. Dalam ilmu nahwu isim dan fi’il ada yang akhirannya tetap dan ada yang akhirannya bisa berubah. Yang akhirannya tetap disebut mabni, dan yang berubah akhirannya disebut mu’rob.
Bersambung insya Allah.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar