Bismillah.

Di dalam kitabnya al-Istidzkar, Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengutip ucapan salah seorang ulama salaf bernama Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah tentang kewaspadaan dari fitnah/kerusakan dan penyimpangan.

Ibrahim an-Nakha’i berkata :

لَا يَأْمَنُ الْفِتْنَةَ وَالِاسْتِدْرَاجَ إِلَّا مَفْتُونٌ

“Tidaklah merasa aman/terbebas dari ancaman fitnah/kerusakan dan istidraj/tipuan nikmat kecuali orang yang terfitnah.”

Apa yang diungkapkan oleh beliau merupakan bukti pemahaman beliau terhadap jalan para nabi dan orang-orang salih terdahulu. Mereka tidak merasa aman dari fitnah bahkan dari syirik sekali pun.

Lihatlah imamnya orang-orang bertauhid Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang berdoa kepada Allah :

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku (Ya Allah) dan anak keturunanku dari menyembah patung.” (Ibrahim : 35)

Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata :

من يأمن من البلاء بعد خليل الله إبراهيم ، حين يقول: ربّ( اجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ ) .

“Siapakah orang yang bisa merasa aman dari bala/malapetaka/fitnah setelah kekasih Allah Ibrahim, ketika beliau berdoa, “Wahai Robbku jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah patung.” (lihat Tafsir ath-Thabari Surat Ibrahim Ayat 35 [buka])

Silakan baca penjelasan faidah dari ayat tersebut dalam tulisan seri Tafsir Ayat Tauhid [buka]

Begitu pula doa Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang dikisahkan di dalam al-Qur’an :

وتوفني مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Dan wafatkanlah diriku sebagai seorang muslim dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang salih.” (Yusuf : 101)

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan 30 orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mereka semuanya takut dirinya terjangkiti kemunafikan. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril dan Mika’il.” (lihat Shahih al-Bukhari, Kitabul Iman)

Ucapan serupa juga diutarakan oleh Ibrahim at-Taimi rahimahullah, “Tidaklah aku membandingkan antara ucapanku dengan perbuatanku melainkan aku takut termasuk jenis orang yang didustakan.” (lihat Shahih al-Bukhari, Kitabul Iman)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak takut terjangkiti kemunafikan maka dia itulah orang yang munafik.” (lihat Fath al-Bari, Juz 1 hal. 137)

Nasihat dari para ulama ini menjadi cermin sekaligus cambuk bagi kita agar selalu memperbaiki keadaan iman kita. Jangan kita merasa terbebas dari perusak iman. Kita wajib merasa takut terjerumus dalam hal-hal yang menyimpang dan menyesatkan. Tidak boleh kita meremehkan kesesatan dan penyimpangan. Dengan demikian seorang mukmin akan selalu menghiasi hidupnya dengan taubat dan istighfar kepada Allah. Inilah yang telah dicontohkan oleh manusia terbaik; nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi :

al-Istidzkar, Ibnu Abdil Barr. Maktabah Syamilah [buka]

al-Wafat ‘alal Islam, Syaikh Abdurrazzaq al-Badr. Atsar wa Ta’liq [buka]

Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari cet Dar al-Hadits Kairo 1424 H. Ibnu Hajar

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *