Bismillah.

Diantara pelajaran yang paling penting dari risalah Ushul Tsalatsah adalah perlunya kita memahami dalil/dasar untuk persaksian bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.

Penulis rahimahullah berkata :

وَدِليلُ شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾

Dalil syahadat anna Muhammadar rasulullah adalah firman Allah (yang artinya), “Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, terasa berat baginya apa-apa yang menyusahkan kalian, dia sangat bersemangat dalam kebaikan untuk kalian, dan kepada orang-orang beriman dia itu sangat penyayang.” (at-Taubah : 128)

Ayat yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita merupakan anugerah yang sangat besar. Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang beriman ketika Allah membangkitkan di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.” (Ali ‘Imran : 164)

Seorang sahabat yang mulia Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu’anhu menggambarkan kepada kita mengenai nikmat agung yang banyak diremehkan oleh manusia. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah menyelamatkan kalian dengan Islam dan dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari). Nasihat serupa juga diutarakan olen Mujahid rahimahullah. Beliau mengatakan, “Aku tidak mengetahui diantara kedua buah nikmat ini mana yang lebih agung; yaitu ketika Allah beri hidayah Islam kepadaku ataukah ketika Allah selamatkan aku dari berbagai penyimpangan hawa nafsu/bid’ah ini.” (HR. Darimi) (lihat Syarh Kitab al-Urwah al-Wutsqa, hal. 15)

Menjadi pengikut rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nikmat agung yang banyak dilalaikan oleh manusia. Sebab ketaatan kepada rasul merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa’ : 80). Sebagaimana kesetiaan kepada ajarannya adalah sebab kecintaan dan ampunan dari Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali ‘Imran : 31)

Hidayah yang Allah turunkan kepada manusia melalui perantara kitab-kitab-Nya dan bimbingan para rasul adalah sebab kebahagiaan dan keselamatan. Karena itulah berpaling dari hidayah dan mencampakkannya merupakan jalan kehancuran. Allah berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang menentang rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, Kami akan palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami akan masukkan dia ke dalam Jahannam; dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115)

Sebagaimana hidayah Islam itu adalah nikmat, maka hidayah mengikuti ajaran/sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nikmat agung yang tidak boleh diremehkan. Imam Malik rahimahullah mengingatkan kepada kita tentang pentingnya nikmat sunnah ini, “as-Sunnah adalah perahu Nuh; barangsiapa menaikinya selamat dan barangsiapa tertinggal darinya tenggelam.” Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya berada dalam nikmat yang sangat besar; menjadi pengikut sunnah/ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah memberikan nikmat bagi orang-orang beriman; ketika Allah utus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, padahal sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang amat nyata.” (Ali ‘Imran : 164)

Rasul tidak menyampaikan petunjuk dan hukum agama berlandaskan dengan hawa nafsu dan pikiran beliau semata. Akan tetapi itu berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah dia -rasul- itu berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (an-Najm : 3-4)

Dengan demikian keimanan seorang hamba dibuktikan dengan kepatuhannya kepada ketetapan dan aturan Islam. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah telah menetapkan suatu urusan maka masih ada bagi mereka pilihan lain dalam urusan mereka. Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (al-Ahzab : 36)

Allah berfirman (yang artinya), “Sekali-kali tidak, demi Rabbmu. Mereka itu belumlah beriman sampai mereka menjadikanmu -nabi- sebagai pemutus perkara/penetap hukum dalam segala hal yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati rasa sempit dalam hati mereka terhadap keputusan hukum yang kamu berikan. Dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’ : 65)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang manusia yang diberikan Allah kepadanya al-Kitab, hukum dan kenabian lantas berkata kepada manusia: Jadilah kalian sebagai pemuja diriku sebagai tandingan untuk Allah. Akan tetapi jadilah kalian rabbani dengan sebab apa yang kalian ajarkan berupa al-Kitab dan apa yang kalian pelajari. Dan tidaklah dia memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan nabi-nabi sebagai sesembahan. Apakah dia hendak memerintahkan kalian kafir setelah kalian memeluk Islam?” (Ali ‘Imran: 79-80)

Ibnu Juraij dan sekelompok ulama tafsir yang lain menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah, “Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidaklah memerintahkan kalian menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan sebagaimana yang dilakukan kaum Quraisy dan Shabi’in yang berkeyakinan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah. Tidak juga sebagaimana Yahudi dan Nasrani yang berkeyakinan tentang ‘Isa al-Masih dan ‘Uzair seperti apa yang mereka ucapkan [bahwa mereka berdua adalah anak Allah, pent].” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 220 oleh Imam al-Baghawi)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Tulisan ini adalah seri ke-40 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’

Silakan membaca seri terdahulu di tautan berikut ini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *