Bismillah.

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menjelaskan bahwa islam adalah kepasrahan kepada Allah dengan tauhid di dalam batin, ketundukan kepada-Nya dengan ketaatan secara lahiriah dengan penuh ketundukan oleh anggota badan serta berlepas dari syirik dan pelakunya.

Dengan demikian, islam itu mencakup tiga hal;

  1. Kepasrahan kepada Allah di dalam hati yaitu mengikhlaskan batinnya untuk Allah, dia tunduk dan mengesakan Allah sebagai satu-satunya sesembahan
  2. Ketundukan dengan lahir yaitu anggota badannya patuh kepada Allah
  3. Sikap berlepas diri dari syirik dan pelakunya

Inilah hakikat agama Islam yang Allah tidak akan menerima agama dari siapa saja selainnya (lihat Syarh Fadhlul Islam dalam Syuruh Rasa’il Majmu’ah Tsaniyah, hal. 9)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan :

والإسلام: هو الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله هذا هو الإسلام، وهو دين جميع الأنبياء عليهم الصلاة والسلام، فكل من اتبع نبيا من الأنبياء وعمل بشريعته فهو مسلم إلى أن بعث الله نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم للنَّاس كافة وللعالمين أجمع فصار الإسلام بإتباع هذا الرسول محمد صلى الله عليه وسلم

Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, patuh kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah Islam. Inilah agama yang dipeluk oleh semua nabi ‘alaihimush sholatu was salam.

Maka setiap orang yang mengikuti nabi -diantara para nabi- dan mengamalkan syariatnya maka dia adalah muslim, sampai Allah mengutus nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk segenap manusia dan seluruh alam. Maka jadilah Islam dengan mengikuti rasul ini yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam… (sumber situs resmi beliau : https://alfawzan.af.org.sa/ar/node/15101)

Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (Ali ‘Imran : 102)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud berkata :

أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر

“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Ali ‘Imron ayat 102)

Adapun maksud dari firman Allah (yang artinya), “Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan sebagai muslim” maka Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :

حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه

“Yaitu jagalah keislaman ketika kalian sehat dan selamat agar kalian bisa meninggal di atas Islam. Karena sesungguhnya Allah Yang Mahamulia menetapkan suatu kebiasaan dengan kemurahan dan kemuliaan-Nya bagi siapa saja yang hidup di atas suatu keadaan maka dia meninggal di atasnya, dan barangsiapa yang meninggal di atas suatu keadaan niscaya dia akan dibangkitkan di atas keadaan itu…” (lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Ali ‘Imran ayat 102)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca agar umat manusia menegakkan keadilan.” (al-Hadid : 25). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah subhanahu mengabarkan bahwasanya Dia telah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya supaya umat manusia menegakkan timbangan (al-Qisth) yaitu keadilan. Diantara bentuk keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok keadilan dan pilar penegaknya. Adapun syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga, syirik merupakan tindak kezaliman yang paling zalim, dan tauhid merupakan bentuk keadilan yang paling adil.” (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 145)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan kepada beliau tentang iman, islam, dan ihsan. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Islam?”. Beliau menjawab, “Islam adalah kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kamu mendirikan sholat wajib, membayar zakat yang telah diwajibkan, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah [yang benar] selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika kamu memiliki kemampuan untuk mengadakan perjalanan ke sana.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara; tauhid kepada Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Akidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan akidahnya.” (lihat Ia’nat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/17] cet. Mu’assasah ar-Risalah)

Ilmu akidah merupakan ilmu yang sangat penting. Oleh sebab itu sebagian ulama terdahulu menyebut ilmu akidah sebagai fikih akbar. Karena dalam ilmu akidah inilah kita akan mengerti pokok-pokok ajaran agama (lihat keterangan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 34-35)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *