Bismillah.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu salah satu sahabat yang sangat dalam ilmunya dan senior dari sisi usia. Beliau termasuk santri dekat yang sering menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam sebuah riwayat beliau menasihati :
إِنَّهَا سَتَكُونُ أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ , فَعَلَيْكُمْ بِالتُّؤَدَةِ ؛ فَإِنْ يَكُنِ الرَّجُلُ تَابِعًا بِالْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَكُونَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ
“Sesungguhnya akan ada perkara-perkara yang samar/tidak jelas, maka hendaklah kalian bersikap hati-hati/tidak tergesa-gesa. Karena sesungguhnya jika seorang itu menjadi pengikut dalam kebaikan maka itu jauh lebih baik daripada dia menjadi pemimpin/tokoh di dalam keburukan.” (lafal serupa dibawakan oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Atsarul Fitan, hal. 8)
Atsar yang serupa dari Ibnu Mas’ud juga dibawakan oleh Imam Ibnu Baththah rahimahullah dalam al-Ibanah al-Kubra.
Para ulama memperingatkan bahwa dalam keadaan banyak fitnah/kekacauan dan kerusakan pemikiran yang bertebaran di tengah masyarakat terlebih lagi jika itu berkaitan dengan isu agama, keamanan, politik dan kekuasaan hendaklah kita tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap atau memberikan komentar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
(إِنَّ السَّعَيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَن)
“Sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah.” (HR. Abu Dawud dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Diantara kiat efektif untuk menjauhkan diri dari fitnah adalah dengan menjaga ketakwaan kepada Allah. Oleh sebab itulah ketika terjadi fitnah pemberontakan di masanya, Thalq bin Habib rahimahullah seorang tabi’in murid dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik menasihatkan agar menjaga diri dari fitnah itu dengan melazimi ketakwaan kepada Allah. Hakikat takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya…
Dan diantara adab ketika menghadapi urusan-urusan besar di masyarakat -terlebih yang berkaitan dengan kekuasaan- maka wajib untuk meningkatkan kehati-hatian dan tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil sikap. Karena itulah Ibnu Mas’ud meningatkan bahwa jika orang itu menjadi pengikut kebaikan lebih baik daripada dia ‘harus’ menjadi pemimpin dalam keburukan. Di dalamnya terkandung isyarat agar kita tidak menyimpan ambisi kepada kekuasaan…
Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada sebagian sahabatnya untuk tidak meminta jabatan atau kekuasaan karena ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan di hari kiamat bagi mereka yang tidak amanah dalam menunaikan tugasnya. Urusan-urusan besar kendaklah diserahkan kepada ahlinya; yaitu para ulama dan para pemegang kebijakan yang punya kapasitas untuk itu.
Kita harus ingat bahwa masing-masing dari kita punya tugas dan kewajiban di hadapan Allah yang berkaitan dengan dirinya, keluarganya, dan apa-apa yang diamanahkan kepadanya. Setiap orang akan ditanya mengenai apa-apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dan diantara tanda baiknya keislaman seorang hamba adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting dan bukan dalam kapasitas atau wewenangnya.
Kita tidak memaksudkan untuk mematikan kepedulian. Akan tetapi yang dikehendaki adalah setiap orang harus memahami posisi dan batasannya. Jangan sampai kita berbicara di luar kapasitas dan ilmu yang kita miliki. Karena jika itu adalah berkaitan dengan agama maka pembicaraan yang tanpa ilmu bisa masuk dalam kategori dosa besar, apalagi itu berupa tindakan menjelek-jelekkan penguasa muslim di muka publik… Betapa banyak orang yang punya niat baik tetapi tidak berhasil mendapatkannya; karena cara yang dia tempuh keliru..
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar