Bismillah.

Imam Ibnu Abid Dun-ya rahimahullah meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah sebuah nasihat yang sangat bermanfaat :

«قَيِّدُوا النِّعَمَ بِالشُّكْرِ»

“Ikatlah nikmat-nikmat itu dengan syukur.” (lihat Kitab asy-Syukr [klik])

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam sebuah ceramahnya juga memberikan nasihat serupa; bahwa nikmat apabila disyukuri akan menetap, sedangkan apabila dikufuri maka ia akan lari/lenyap.

Mensyukuri nikmat adalah perkara yang sangat agung di dalam Islam. Oleh sebab itu diantara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah pandai mensyukuri nikmat Allah atas dirinya. Sebagaimana pujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam :

شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ

“Dia (Ibrahim) adalah orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya.” (an-Nahl : 121)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menafsirkan :

كان يخلص الشكر لله فيما أنعم عليه، ولا يجعل معه في شكره في نعمه عليه شريكا من الآلهة والأنداد وغير ذلك ، كما يفعل مشركو قريش 

“Adalah beliau (Ibrahim) seorang yang memurnikan syukurnya kepada Allah atas nikmat yang Allah curahkan kepadanya, beliau tidak menjadikan bersama-Nya di dalam syukurnya terhadap nikmat-nikmat Allah atas dirinya ada sekutu berupa sesembahan-sesembahan atau tandingan-tandingan atau yang lainnya sebagaimana hal yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy.” (lihat Tafsir ath-Thabari surat an-Nahl [klik])

Hal ini mengisyaratkan bahwa tauhid sangat erat kaitannya dengan syukur kepada Allah. Karena itulah di awal risalah Qawa’id Arba’ Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah menyebutkan 3 tanda kebahagiaan yaitu diantaranya adalah seorang yang apabila diberi nikmat maka dia bersyukur kepada Allah.

Oleh sebab itu pula diantara bacaan dzikir yang paling sering dibaca oleh seorang muslim adalah kalimat alhamdulillah; yaitu pujian kepada Allah. Yang ia merupakan kalimat setiap orang yang bersyukur kepada Allah. Ketika dia bangun tidur maka dia membaca alhamdulillah… Ketika dia selesai makan atau minum dia pun mengucapkan alhamdulillah… Begitu pula diantara bacaan dzikir setelah sholat adalah alhamdulillah 33 kali… bahkan di dalam sholat pada setiap rakaat kita membaca alhamdulillah di dalam surat al-Fatihah… tidak kurang 17 kali dalam sehari semalam…

Syukur kepada Allah itu mencakup pengakuan di dalam hati bahwa nikmat itu datang dari Allah, dengan lisan dia memuji Allah atasnya, dan dengan anggota badan dia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang Allah ridhai. Orang yang pandai bersyukur maka ia akan jauh dari sifat sombong dan takabur; seperti sifatnya Qarun yang membanggakan kehebatan ilmu dan hartanya. Qarun berkata bahwa ‘sesungguhnya ini semua diberikan kepadaku karena ilmu yang aku miliki’ inilah ujub dan kesombongan yang nyata!

Berbeda dengan sifat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan, ketika singgasana Ratu Bilqis berhasil dipindahkan dalam waktu sekejap ke hadapannya. Beliau pun berkata, “Ini adalah keutamaan dari Rabbku, untuk menguji diriku apakah aku akan bersyukur ataukah justru kufur.”

Nikmat yang Allah berikan kepada kita sangatlah banyak bahkan tidak terhingga. Akan tetapi upaya dan perilaku kita untuk mensyukuri nikmat Alah itu sangatlah kecil dan terbatas. Maka semestinya kita menyadari kekurangan dan kelemahan diri kita di hadapan Allah karena tidak sempurna dalam mewujudkan syukur kepada-Nya.

Nah, ibadah kepada Allah yang itu menjadi bukti syukur yang paling utama dibangun di atas sikap menyadari begitu banyak curahan nikmat Allah kepada kita dan sikap menelaah banyaknya aib dan cacat pada diri dan amal-amal kita. Kita mengaku kepada Allah akan banyaknya nikmat yang Allah berikan dan di saat yang sama kita juga mengakui bahwa begitu banyak dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan.

Menyadari banyaknya nikmat yang tercurah akan menumbuhkan kecintaan sepenuhnya kepada Allah. Adapun menyadari sekian banyak dosa dan aib pada diri dan amal akan membuahkan sikap perendahan diri dengan sepenuhnya kepada Allah. Dua hal itulah -puncak perendahan diri dan puncak kecintaan- yang menjadi pilar utama dalam penghambaan kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *