Bismillah.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan :
فالعلم النافع ما عرف بين العبد وربه (ودل) (*) عليه حتى عرف ربه ووحده وأنس به واستحيا من قربه وعبده كأنه يراه، ولهذا قالت طائفة من الصحابة (٢): إن أول علم يرفع من الناس: الخشوع.
Hakikat ilmu yang bermanfaat adalah yang mengenalkan hamba kepada Rabbnya dan menunjukkan kepada-Nya sehingga dia mengenal Rabbnya dan mentauhidkan-Nya, dia pun merasa tenang dengan beribadah kepada-Nya, dia merasa malu terhadap kedekatan-Nya, dan dia pun beribadah kepada-Nya seolah-olah melihat-Nya. Karena itulah sekelompok Sahabat dahulu mengatakan, “Sesungguhnya ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia adalah khusyu’.” (lihat Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘ala ‘Ilmi Khalaf [klik])
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma :
العالم بالرحمن من لم يشرك به شيئا ، وأحل حلاله ، وحرم حرامه ، وحفظ وصيته ، وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله .
Orang yang berilmu/para ulama itu adalah yang takut kepada ar-Rahman; yaitu orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dia menghalalkan apa yang Allah halalkan. Dia mengharamkan apa yang Allah haramkan. Dan dia menjaga wasiat-Nya serta meyakini bahwa dia pasti berjumpa dengan-Nya dan akan dihisab atas segala perbuatannya (lihat Tafsir Ibnu Katsir tafsir surat Fathir ayat 28 [klik])
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa diantara tanda ilmu yang bermanfaat adalah yang membuat kita semakin mengenal keagungan Allah dan keesaan-Nya. Ilmu yang membuahkan keimanan dan tauhid kepada-Nya. Ilmu yang menjauhkan kita dari mempersekutukan Allah. Ilmu yang menumbuhkan sifat muraqabah/merasa diawasi oleh Allah. Ilmu yang membuahkan ketundukan dan perendahan diri di hadapan Allah. Ilmu yang membuat kita patuh kepada perintah dan larangan Allah. Ilmu yang membuat kita beramal untuk menghadapi hari pembalasan. Ilmu yang bermanfaat juga akan menumbuhkan kekhusyu’an di dalam hati.
Oleh sebab itulah kita dapati para ulama terdahulu bukanlah orang-orang yang membanggakan keilmuan dan statusnya sebagai ulama. Mereka pun merasa malu jika disebut sebagai ulama; karena hakikat orang yang ‘alim adalah yang senantiasa merasa takut kepada Allah.
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang benar-benar faqih/paham agama adalah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 136)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah seorang alim [ahli ilmu] orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan akan tetapi sesungguhnya orang yang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu berusaha menjauhinya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/81])
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ia adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati. Syaratnya adalah ittiba’/setia mengikuti tuntunan dan meninggalkan hawa nafsu/penyimpangan dan membuat-buat bid’ah.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, hal. 40)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap orang yang merasa takut kepada-Nya, lantas menunaikan ketaatan kepada-Nya yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka dialah sesungguhnya orang yang alim/berilmu.” Suatu ketika, ada orang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim/ahli ilmu.” Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Orang yang alim adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allah.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/98])
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Keterangan : Kutipan ucapan ulama salaf banyak kami nukil dari blog Terjemah Kitab Salaf [klik]
0 Komentar