Bismillah.
Diantara pelajaran yang sangat penting dari risalah Ushul Tsalatsah adalah pentingnya menumbuhkan perasaan harapan (roghbah), rasa takut (rohbah) dan kekhusyu’an di dalam beribadah.
Penulis rahimahullah berkata :
وَدَلِيلُ الرَّغْبَةِ وَالرَّهْبَةِ وَالْخُشُوعِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}
Dalil tentang roghbah, rohbah, dan khusyu’ adalah firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap/roghbah, merasa cemas/rohbah, dan mereka juga khusyu’ dalam beribadah kepada Kami.” (al-Anbiya’ : 90)
Kita mungkin sering mendengar istilah targhib dan tarhib. Targhib maknanya adalah memberikan dorongan atau menanamkan roghbah/keinginan yang kuat. Adapun tarhib (dengan huruf ha’ tebal) artinya adalah menanamkan rasa takut/rohbah (dengan ha’ tebal). Kedua istilah ini serupa dengan khouf dan roja’.
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan :
قوله تعالى: {وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا} أي: طمعًا لما عند الله عز وجل طمعًا في حصول المطلوب.
Firman Allah (yang artinya), “Mereka berdoa kepada Kami dengan penuh roghbah/harapan” maksudnya adalah karena sangat menginginkan keutamaan yang ada di sisi Allah dan begitu mengharapkan tercapainya apa yang ia cari.
قوله تعالى: وَرَهَبًا أي: خوفًا منا، فيدعون الله أن يرحمهم، ويدعونه ألا يعذبهم، وألا يؤاخذهم، وألا يعاقبهم، فهم يطمعون في رحمة الله ويخافون من عذابه،
Firman Allah (yang artinya), “Dan dengan rasa takut/rohbah” maksudnya takut kepada Kami, sehingga mereka berdoa kepada Allah agar Allah merahmati mereka, mereka berdoa kepada-Nya supaya Allah tidak mengazab dirinya dan tidak menghukumnya. Maka mereka sangat mengharapkan rahmat Allah dan khawatir akan azab-Nya (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, dikutip dari Maktabah asy-Syamilah [klik])
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas dengan ‘mereka’ adalah Zakariya, istrinya dan Yahya. Mereka adalah orang yang selalu bersegera melakukan kebaikan dalam ketaatan kepada Allah. Ungkapan ‘mereka berdoa’ yang dimaksud adalah beribadah. Yaitu mereka beribadah kepada Allah dalam keadaan merasa takut akan azab-Nya dan berharap terhadap rahmat-Nya (lihat Tafsir ath-Thabari [klik])
Imam ath-Thabari berkata :
وقوله ( وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ) يقول: وكانوا لنا متواضعين متذللين ، ولا يستكبرون عن عبادتنا ودعائنا
“Adapun firman Allah (yang artinya), “Dan mereka itu selalu khusyu’ dalam beribadah kepada Kami” maksudnya adalah mereka senantiasa tawadhu’/merendahkan hatinya dan berendah diri di hadapan Allah. Mereka tidak menyombongkan diri dari ibadah dan doa kepada Kami (Allah).”
Imam al-Qurthubi rahimahullah juga menafsirkan bahwa makna khusyu’ dalam ayat di atas adalah beribadah dengan penuh kerendahan hati dan ketundukan (lihat Tafsir al-Qurthubi [klik])
Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa khusyu’ adalah ketundukan kepada Allah dan ketenangan dengan-Nya dengan hati dan anggota badan. Sehingga makna khusyu’ itu dekat dengan khudhu’/ketundukan; hanya saja ketundukan adalah perilaku dengan badan, sementara khusyu’ itu mencakup ketenangan hati dan anggota badan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa letak kekhusyu;an itu adalah di dalam hati, sedangkan buahnya akan muncul dalam perilaku anggota badan. Semakin khusyu’ hati seorang hamba maka semakin sempurna penghambaannya kepada Allah (lihat Taisirul Wushul Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 128)
Adapun perbedaan antara roghbah dengan roja’ adalah; bahwa roja’ adalah keinginan sementara roghbah itu adalah pencarian/tuntutan, barangsiapa yang ingin masuk surga maka keinginannya ini disebut dengan roja’. Dan barangsiapa yang mencari surga dengan beramal salih maka upayanya itu dinamakan dengan roghbah; karena ia harapan yang sudah membuahkan usaha. Demikian pula rohbah adalah rasa takut/khouf yang telah disertai dengan amal atau usaha untuk menghindari sesuatu yang dikhawatirkan (lihat Taisirul Wushul, hal. 127)
Dari pemaparan di atas maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa ibadah kepada Allah harus disertai dengan rasa takut kepada hukuman Allah, berharap terhadap rahmat-Nya, dan melakukan amal salih dengan penuh kekhusyu’an; yaitu merendahkan diri dan tunduk kepada Allah dengan hati yang tenang. Khusyu’ bukan semata tampilan lahiriah; bahkan pokok daripada khusyu’ itu adalah ketenangan dan ketundukan hati serta bersihnya hati dari kesombongan.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Tulisan ini adalah seri ke-28 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’
Silakan membaca seri terdahulu di tautan berikut ini [klik]
0 Komentar